Hari pertama di Aceh , setahun lalu
Akhirnya , pagi hari bersama sekitar 10 orang team IT KPU, kami
berangkat dengan menggunakan salah satu pesawat yang diperbantukan oleh
sukarelawan untuk membantu transportasi dari dan ke Banda Aceh.
Pesawat dijadwalkan terbang jam 10.oo WIB dari Bandara Halim
Perdanakusumah. Kami membawa sekitar 20 buah telepon satelit yang telah
kami siapkan sebelumnya , lengkap dengan membawa baterai atau akki
motor , karena kita perkirakan di Banda Aceh atau daerah yang terkena
Tsunami tidak akan ada listrik. Atau kalau ada listrik , maka supply
nya sangat terbatas. Terus terang berita tentang keadaan Aceh sangat
simpang siur karena komunikasi yang terjadi antara Banda Aceh dengan
luar propinsi belum dapat terjalin dengan baik
Rencananya , pesawat hanya akan sampai ke bandara Polonia Medan dan
dari Medan kami akan menggunakan jalan darat dan team yang saya bawa
akan mencoba mendekati dua titik utama yang terkena tsunami paling
parah , yaitu Meulaboh dan Banda Aceh. Di Medan , para anggota KPUD
sudah menunggu kami dan sudah mempersiapkan diri untuk berangkat
bersama sama.
Pesawat yang membawa kami berisi beberapa kelompok , ada kelompok
instalatur listrik, ada kelompok sukarelawan , dan kami sendiri.
Pesawat ini menuju ke Pekanbaru , dari Pekanbaru baru menuju Medan.
Mengapa transit di Pekanbaru ? karena penerbangan ke arah polonia
sangat padat oleh pesawat dari luar Medan dengan tujuan Banda Aceh.
Kami sampai di Pekanbaru sekitar jam 11.30 dan pilot mengatakan bahwa
pesawat ini akan berangkat lagi satu jam kemudian menuju Medan. Kami
akhirnya keluar dari ruang tunggu dan mencoba berjalan jalan disekitar
bandara Pekanbaru. Setelah mendekati satu jam kami kembali lagi masuk
ke dalam ruang tunggu. Dan di dalam ruang tunggu rupanya sudah banyak
sekali penerbangan yang transit di Pekanbaru dengan tujuan Medan/Banda
Aceh. Kami pikir, kita pasti akan ter delay kembali karena melihat
padatnya jadwal penerbangan ke Medan dan Aceh.
Ternyata benar , pesawat kita di delay 2 jam :-)
Kami menunggu di ruang transit bandara dan makin lama makin penuh juga
sukarelawan yang akan ke Aceh. Dari berbagai kelompok dan dari berbagai
perusahaan yang mengerahkan bantuan untuk Aceh. Setelah lewat 2 jam ,
ternyata pesawat kita masih belum dapat ijin untuk take off karena
memang jadwal penerbangan yang sangat padat.
Sekitar jam 17.30 , kami dipanggi oleh pilot untuk bersiap siap
berangkat. Wah , lumayan juga setelah menunggu lebih dari 5 jam di
Pekanbaru. Kami semua bergegas naik pesawat , setelah mesin pesawat
dinyalakan , pilot menunggu instruksi dari air traffic controller. Dan
tepat , 5 menit sebelum jam 18.00 WIB, pesawat kami dibatalkan
keberangkatannya karena tidak mendapatkan ijin dari Polonia Medan.
Akhirnya kami turun kembali dan masuk ke ruang tunggu. Dan pilot tidak
dapat memastikan kita berangkat jam berapa dari Pekanbaru. Pada saat
bersamaan , ada beberapa pesawat yang juga dibatalkan keberangkatannya
seperti kami (dari Pelita Air dan Merpati). Selain itu , saya melihat
ada pesawat cargo Manunggal Air yang mengangkut peralatan dari PT
Telkom dan tertunda juga keberangkatannya. Ironis, pesawat pesawat yang
mengangkut peralatan komunikasi yang sebenarnya paling diperlukan dalam
proses evakuasi , justru tidak mendapatkan tempat untuk take off atau
landing di Medan atau Banda Aceh. Sementara saya melihat ada pesawat
yang berisi pendukung salah satu partai dengan membawa sukarelawan,
justru dapat masuk ke Medan.
Kami sabar menunggu, di ruang tunggu :-) . Ngobrol sana sini , termasuk
dengan pilot dan co-pilot serta teknisi pesawat. Kami menanyakan
kemungkinan kita bisa masuk Medan jam berapa ? dan mungkin ada
kemungkinan lain. Akhirnya pilot mencoba kontak dengan Banda Aceh, dan
ternyata oleh Banda Aceh pesawat kami diberi ijin utk landing.
Pilot bertanya, tujuan kita mau ke Banda Aceh atau Medan dan saya
sampaikan bahwa tujuan kami sebenarnya adalah Banda Aceh dan
melalui Medan. Akan tetapi bila kita bisa langsung ke Banda Aceh, saya
pikir tidak akan menjadi masalah walaupun kita sendiri sebenarnya tidak
siap untuk ke Banda Aceh (saya hanya membawa satu baju) .
Akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Banda Aceh. Perjalanan Banda
Aceh ditempuh dalam waktu sekitar 50 menit dari Pekanbaru. Pesawat kami
take off sekitar jam 22.00 malam, dan diperkirakan akan sampai di Banda
Aceh sekitar jam 23.00.
Benar , kami tiba di Bandara di Banda Aceh sekitar pukul 23.15 WIB.
Pada saat saya menjejakkan kaki pertama kali , yang terasa adalah bau
seperti kamar mayat yang besar. Bau menusuk sangat kuat, bandara
terlihat masih terang dan saya hanya melihat beberapa pesawat militer /
Hercules , salah satunya milik angkatan udara singapore (yang paling
bagus sih).
Saya memberitahu teman teman ( bu Chusnul dan mas Bob) bahwa kami
langsung ke Banda Aeh tidak melalui Medan, rencana berubah dan saya
belum bisa menentukan seperti apa nantinya.
Begitu keluar bandara , suasana sangat kacau dan gelap. Saya turun
bersama sama dua orang Kowad , lupa namanya, salah satu berpangkat
Letkol dan yang satunya lagi sersan. Mereka berdua kalau tidak salah
adalah liason offiser yang diperintahkan berangkat ke Banda Aceh
untuk menghubungi KODAM Iskandar Muda.
Saya bertanya pada ibu Kowad tersebut , mau kemana dan dijemput siapa ?
saya berpikir kalau mereka dijemput sama tentara , kami ikut saja ,
lumayan daripada bingung. Dan ibu tersebut menyampaikan tujuannya untuk
mencari liason officer Kodam . Beliau bertanya pada beberapa tentara
dan polisi yang ada di Bandara, dan disampaikan bahwa Kodam hancur
berantakan tidak ada orang disitu. Akhirnya , kita diskusi dan
dipilihkan rumah sakit tentara yang berada di tengah tengah Banda Aceh
tapi tidak kena tsunami. Kita mencari mobil carter utk membawa seluruh
rombongan kami. Lumayan mahal juga , utk perjalan dari Bandara ke
tengah kota , yang jaraknya sekitar 20 Km , mereka meminta Rp 500.000
sekali jalan. Ya kami bisa maklum untuk kondisi seperti ini , dimana
transportasi sulit dan bensin juga susah.
Akhirnya kami berangkat ke kota dengan dua buah mobil , sepanjang
perjalan tercium bau menusuk dan gelap gulita. Jalanan juga sepi,
sesekali kami menemui mobil mobil tentara yang berjalan hilir mudik
menuju pangkalan. Saya sendiri tidak tahu nanti disana harus berbuat
apa, tapi saya pikir mungkin kita bisa mendirikan posko telekomunikasi
dan memberikan bantuan yang diperlukan.
Setelah sampai di rumah sakit, kebetulan ibu Kowad mencari komandan
rumah sakitnya untuk mencari informasi. Ternyata seluruh dokter yang
ada disana adalah dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta dan mereka juga
tidak banyak mengetahui apa yang terjadi dengan dokter dokter yang lain
, mereka sibuk mengatasi pasien karena ini adalah satu satunya rumah
sakit di Banda Aceh yang dapat beroperasi dengan baik. Dokter dokter
disana juga tidak tahu keberadaan KODAM Iskandar Muda. Bingung juga ibu
Kowad ini :-) ....yang terpikir olehku , kalau negara ini diserang
musuh , amblas lah dalam sekejab :-)
Dalam kebingungan kita mau ketemu siapa dan dimana , akhirnya ibu Kowad
ini bertanya , kita kita ini mau kemana ? mereka tahunya kita kita ini
dari HMI :-) , ya memang sebagian besar anggota yang aku bawa anak anak
HMI eks trainer dan helpdesk IT KPU. Dan saya sampaikan saya dari KPU ,
kaget juga dia , walaupun pada saat pertama kali dia melihat saya , dia
mengatakan bahwa dia rasanya mengenal saya :-)). Akhirnya saya bilang
saja , tujuan saya adalah ketemu pak Yani Basuki (Kolonel) karena
memang mas Bob berpesan seperti itu.
Akhirnya kita bersama rombongan kembali ke bandara , dan tujuan kita
adalah bandara militer tempat pesawat militer berlabuh, disanalah pak
Yani Basuki bermarkas. Setelah sampai di Bandara militer , kami
bertanya sana sini dimana pak Yani berada. Rupanya , saya melihat ada
beberapa kawan wartawan dan mereka bertanya kami dari mana. Saya
sampaikan saya dari IT KPU dan rupanya kedatangan kita sudah ditunggu
oleh teman teman dari LKBN Antara (teman mas Bob) karena memang kita
pinjami mereka telpon satelit untuk komunikasi.
Segera kami menuju tempat Martin yg memang sudah menunggu kami sejak
pagi, mereka pikir kita menggunakan pesawat hercules yang mendarat di
bandara militer. Akhirnya kami bertemua martin dan waktu sudah
menunjukkan sekitar pukul 02.00 tanggal 30 Desember 2004.
Dan kami semua beristirahat termasuk dua orang ibu Kowad yang ikut bersama kami....
bersambung ;;;;;;;;
Posted at 03:24 pm by basuki1