<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




Mar 12, 2006
Sudut pandang


Ada yang menggelitik pada suatu acara di ITB, yaitu seminar yang diadakan oleh KM ITB pada tanggal 5 Maret 2006. Acara ini lebih banyak diskusi antara mahasiswa ITB dengan para alumni yang dianggap sukses dalam berkarir. Permasalahannya bukan terletak siapa yang bicara , justru yang menarik tulisan yang mengemuka setelah acara tersebut yang tersaji di harian Pikiran Rakyat dan yang tertulis di website ITB (http://www.itb.ac.id).

Harian Pikiran Rakyat (PR) lebih menyoroti sisi 'negatif' dari beberapa alumni yang membuat masalah sedangkan dari reporter web itb lebih mengangkat apa apa yang harus diperbaiki oleh ITB sendiri .

Entah sudut pandang yang berbeda atau konsep "bad news is a good news" yang lebih mengemuka pada kasus ini.

Kalau kita lihat banyak kejadian yang muncul di media massa , banyak yang sepotong sepotong diambil 'angle' atau sudut pandangnya , ini seringkali menimbulkan persepsi yang berbeda pada pembaca.

Mungkin PR tidak salah akan tetapi apabila kritik terhadap suatu institusi dapat lebih 'halus' atau dapat lebih mengarah pada kritik yang membangun, saya pikir akan situasi yang tercipta akan lebih baik.

Berikut ini adalah kutipan :


http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/032006/09/kampus/lain01.htm

Cukuplah Kampus Mencetak Garong

ALUMNI pulang ke kampus punya banyak cerita. Tapi yang muncul bukan melulu cerita kesuksesan, malah kesan miris melihat almamaternya melempem. Setidaknya lontaran-lontaran miris itu terjadi saat Keluarga Mahasiswa ITB mengajak alumni membagi cerita kepada anak-anak baru angkatan 2004 dan 2005.

Cardiyan HIS, jebolan Teknik Geodesi ITB tahun 1973, tidak ragu menyebut kampusnya sebagai penyokong keterpurukan bangsa Indonesia. Pernyataan Cardiyan memang bukan tudingan, jika melihat berapa besar kasus yang melibatkan jebolan-jebolan ITB. Seperti Deputi Direktur Pembangkit PLN, yang mesti menginap di Bareskrim Polda Metro Jaya.

"Entah berapa banyak alumni ITB yang menjadi preman, garong, penipu dan koruptor, yang masih berkeliaran ataupun tidak, dengan bangga mengklaim sebagai lulusan ITB!" katanya di hadapan puluhan mahasiswa angkatan 2004 dan 2005 di Aula Timur ITB, Minggu (5/3).


http://www.itb.ac.id/news/972

Seminar Nasional "Membangun Idealisme, Kredibilitas dan Kepemiminan Manusia ITB dalam Percaturan Global"

klik untuk memperbesarSelasa, 7 - Maret - 2006, 17:32:10
Pada Minggu, 5 Maret 2006 di Aula Barat ITB, diadakan seminar nasional sehari "Membangun Idealisme, Kredibilitas dan Kepemiminan Manusia ITB dalam Percaturan Global" dari Serial Inspiring dan Motivation Seminar (The SIMS), yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa (KM)-ITB dan Brigade Ganesha. Acara ini menghadirkan figur publik-figur publik terkemuka sebagai pembicara. Diadakan dalam 3 sesi, seminar ini berlangsung mulai pukul 08.00 sampai 16.30 WIB.
Dalam sesi pertama, yang bertemakan "ITB, Manusia ITB dan Indonesia", Cardiyan HIS (Presiden dan CEO PT SWI Group, Jakarta), tampil sebagai pembicara utama, didampingi Budiono Kartohadiprojo (Pemred Majalah Gatra). Sesi kedua yang bertemakan "Membangun Idealisme, Kredibilitas, dan Kepemimpinan di Dunia Pasca Kampus", menghadirkan Hotasi Nababan (Dirut MNA), Gede Raka (Guru Besar TI ITB), dan Lendo Nouo (Staf Ahli Menteri BUMN). Sedangkan sesi ketiga menghadirkan Hasnul Suhaini (Dirut Indosat), Sanggu Aritonang (Direktur PLN), dan Rinaldi (Direktur PT Telkom), dalam tema "Tantangan dan Peluang bagi ITB dalam Mengaktualisasikan Perannya di Indonesia".


ITB dan Manusia ITB untuk Indonesia Incorporated

Adalah Cardiyan HS, alumnus T. Geodesi ITB angkatan 1973 – kini Presiden dan CEO PT SWI Group Jakarta–yang menulis buku berjudul sama dengan tema seminar ini, dan menjadi pembicara pertama dalam seminar sehari yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa (KM) ITB kemarin (5/3). Dalam kesempatan itu, beliau menyoroti masalah degradasi kualitas ITB sebagai institusi pendidikan. ITB kini telah tertinggal jauh dari universitas dan institut negara tetangga yang dahulu (era 70-an, red) menjadi pesaingnya. Hal ini disebabkan oleh sikap pemerintah Indonesia yang tidak mengutamakan pembangunan di bidang pendidikan, dimana hanya sebagian kecil dana pembangunan yang dialokasikan untuk belanja bidang pendidikan. Sementara universitas dari negara tetangga seperti Singapura, maju karena pemerintahnya kredibel dan peduli dengan masalah pendidikan. "Kemampuan mereka unggul sebagai entrepreneur university," jelas beliau mengenai sistem pendidikan negara tetangga yang menjalin kerjasama dengan dunia industri sehingga mahasiswanya dapat menjadi entrepreneur yang menciptakan lapangan kerjanya sendiri.
Namun demikian, beliau mengklaim, ITB masih mempunyai potensi berupa sumber daya manusia yang berkualitas. "Oleh karena itu, ITB hendaknya semakin mengarahkan lebih banyak mahasiswa untuk memahami dunia industri dengan virus-virus enterpreneurship sejak mereka masuk ITB. Mereka harus diberikan banyak proses latihan untuk berani mencoba melakukan dan merealisasikan ide menjadi sesuatu karya semasa mereka di kampus. Biarkan proses trial and error ini berjalan sebagai tradisi menuju filosofi kerja bahwa 'usaha keras adalah bagian yang sangat penting dari proses penghargaan'. Suatu penampilan dan kegagalan dari usaha keras yang dilakukan akan tetap mendapat simpati dari organisasi." ungkap beliau.

Di kemudian hari filosofi ini akan membawa manusia ITB sebagai para pemberani dalam mengambil keputusan inovatif atau keputusan terobosan bukan keputusan yang biasa-biasa saja. Dengan demikian kita akan terdidik menjadi bangsa pemberani bukan bangsa pengecut.” Demikian jelas beliau.


Posted at 01:58 pm by basuki1
Comments (3)  

Mar 10, 2006
enigma

 

Marian Rejewksi adalah seorang matematikawan asal Polandia yang berhasil membangun metode untuk memecahkan kode mesin enigma yang digunakan oleh Jerman. Atas kerja keras Rejewski inilah , Alan Turing (http://en.wikipedia.org/wiki/Alan_turing) berhasil memecahkan sandi sandi yang dikirimkan oleh Komando Pusat pasukan Jerman pada pasukan pasukan dibawahnya. Sebenarnya perang informasi (information warfare) ini dimulai pada saat perang dunia kedua. Tanpa kerja keras dari Rejewski, bisa jadi Alan Turing tidak akan dapat membuat karya untuk memecahkan kode kode enigma Jerman dan mungkin Alan Turing tidak akan menjadi ‘bapak komputer modern’. Kerja keras Alan Turing ini dilakukan di suatu tempat yang dikenal dengan nama Bletchey Park (http://en.wikipedia.org/wiki/Bletchley_Park).

Berikut ini biografi Marian Rejewski

http://en.wikipedia.org/wiki/Marian_Rejewski

Marian Adam Rejewski ([’marjan re’jefski](?); 16 August 1905 – 13 February 1980) was a Polish mathematician and cryptologist who, in 1932, solved the Enigma machine, the main cipher machine then in use by Germany. The success of Rejewski and his colleagues jump-started the British reading of Enigma-encrypted messages in World War II, and the intelligence so gained, code-named “Ultra,” contributed to the defeat of Nazi Germany, perhaps decisively(Note 1).

While studying mathematics at Poznań University, Rejewski attended a secret cryptology course conducted by the Polish General Staff’s Cipher Bureau, which he joined full-time in 1932. The Bureau had had no success in reading Enigma, and set Rejewski to work on the problem in late 1932. After only a few weeks, he had deduced the secret internal wiring of the Enigma. Rejewski and two mathematician colleagues then developed an assortment of techniques for the regular decryption of Enigma messages. Rejewski’s contributions included devising the cryptologic “card catalog,” derived using his “cyclometer,” and the cryptologic “bomb” (Polish: bomba).

Five weeks before the German invasion of Poland in 1939, Rejewski and his colleagues presented their results on Enigma decryption to French and British intelligence representatives. Shortly after the outbreak of war, the Polish cryptologists were evacuated to France, where they continued their work in collaboration with the British and French. They were again compelled to evacuate after the fall of France in June 1940, but within months returned to work undercover in Vichy France. After the country was fully occupied by Germany in November 1942, Rejewski and fellow mathematician Henryk Zygalski fled to Britain via Spain. In Britain, they worked at a Polish unit, solving low-level German ciphers. In 1946 Rejewski returned to his family in Poland and worked as an accountant, remaining silent about his cryptologic work until 1967.


Posted at 11:16 am by basuki1
Make a comment  

Mar 8, 2006
test

udah lama tidak ngisi blog ini ,
ada beberapa kabar antara lain :

http://news.antara.co.id/seenws/?id=29356

 
PRESIDEN KELUARKAN PERPU PERPANJANG MASA TUGAS ANGGOTA KPU
 
 
Jakarta (ANTARA News) - Mensesneg, Yusril Ihza Mahendra mengatakan Presiden mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 tahun 2006 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 12/2003 tentang Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD.

Menurut Yusril, di Jakarta, Selasa, perppu tersebut berisi dua pasal yang antara lain menyatakan bahwa anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang diangkat berdasarkan UU Nomor 4/2000 dapat tetap melaksanakan tugasnya sampai dengan terbentuknya penyelenggara pemilu berdasarkan UU Pemilu yang baru.

UU tentang KPU nomor 4/2000 mengatur tentang Perubahan UU Nomor 3/1999 telah disesuaikan dengan UU Nomor 12/2003 yang isinya mengatur tentang perpanjangan masa tugas anggota KPU.

"Untuk mencegah kevakuman, pimpinan atau organisasi KPU, maka dipandang perlu untuk mengeluarkan perppu yang memperpanjang masa kerja anggota KPU sampai dengan terbentuknya KPU yang baru," katanya.

DPR saat ini sedang mempersiapkan RUU tentang Penyelenggaraan Pemilu yang baru yang mungkin struktur organisasinya maupun keanggotaan KPU, akan berbeda dengan KPU yang sekarang, kata Yusril.

Mengenai anggota KPU yang divonis pidana atau mereka yang sedang dalam proses peradilan, menurut Yusril, sudah otomatif diberhentikan sementara. Dengan demikian perppu ini hanya berlaku bagi anggota KPU yang aktif, seperti Wakil Ketua KPU, Ramlan Surbakti dan anggota KPU, Chusnul Mariah.

Menurut dia, tugas KPU saat ini memang tidak terlalu banyak, seperti pada saat penyelenggaraan pemilu, karena hanya mengurus proses pergantian antar-waktu anggota DPR dan DPRD. (*)


Posted at 03:03 pm by basuki1
Make a comment  

Jan 28, 2006
Tentang Pendidikan di ITB


Tulisan ini saya ambil dari tulisan 'budhe' Ida , AS-75 di milis itb75@itb.ac.id
menarik untuk disimak , sekaligus juga menjadi bahan pemikiran.


Date: Fri, 27 Jan 2006 12:42:26 +0700
From: Ida Sitompul <udur -1@telkom.net>
Reply-To: itb75@itb.ac.id
To: itb75@itb.ac.id
Subject: [Itb75] cuma untuk cara berpikirnya

 Suatu hari saya ngobrol dengan beberapa orang termasuk seorang lulusan itb
yang baru saja memberi presentasi tentang sesuatu yang menjadi salah satu
sumber hidupnya, bukan bidang yang dia pelajari di ITB. Waktu itu kami sedang
mengunjungi beberapa lulusan ITB yang punya hajatan dalam pekerjaannya yang
juga melenceng dari apa yang pernah mereka pelajari di ITB. Alumni itb ini
cerita tentang seorang bapak yang anaknya ngotot masuk jurusan tertentu di ITB
dan dengan nada sedikit melecehkan, dia berkomentar bahwa masuk itb sih tidak
penting jurusannya apa, masuk apa saja, masuk biologi misalnya, yang lebih
mudah, tidak usah ngotot masuk Informatika yang persaingannya ketat itu. Karena
orang masuk itb itu untuk mendapatkan jalan berpikirnya saja kok, jurusannya
apa sih tidak penting, apa sajalah. Buktinya dia dan para tuan rumah tidak
bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusannya dulu. Malah jauh melenceng.
Begitu katanya, sebelum dia pamit meninggalkan tempat. Itu diucapkan dengan nada bangga. Saya pikir bukan hanya dia satu-satunya lulusan ITB yang
pernah berkata seperti itu. Ucapan itu nyaris menjadi sesuatu yang tampaknya
dianut oleh banyak orang itb.

Seorang lulusan Unhas melirik ke saya, dia bilang itulah yang salah dengan
itb. ITB sebetulnya tidak mendidik mahasiswanya menjadi ahli di bidangnya. Saya
punya bebrapa bawahan orang itb...., katanya. Saya tidak keburu mendengar dan
memwawancara mengapa dia berpendapat begitu karena taxi saya keburu datang.
Yang jelas, orang yang pernah membawahkan dan pernah bekerja sama dengan
lulusan ITB itu tampaknya tidak punya kesan yang sangat positif terhadap
lulusan ITB. Saya kadang berpikir apakah ucapan semacam: "ah masuk itb itu kan
untuk mendapatkan pola berpikirnya saja" adalah semacam apologi? Atau itu
benar-benar adalah tujuan sebagian orang masuk ITB ?

Menarik mungkin untuk membicarakan mengapa orang masuk itb. Seperti salah
satu email disini yang cerita tentang seorang kenalan kita yang masuk itb,
tidak tahu jurusan apa, pokoknya mau masuk jurusan insinyur. Lalu, seorang
teman saya bercerita bahwa waktu masih sekolah dia rajin sekali belajar.
Cita-cita akhirnya adalah masuk itb. Dia sangat penuh motivasi karena cita-cita
itu. Setelah dia masuk itb dan selesai, dia tidak lagi menggebu-gebu atau punya
cita-cita yang ambisius lainnya, cari kerja pun tidak ambisius dsb. Seakan-akan
cita-citanya sudah terpenuhi dan tidak ada lagi yang worth it untuk jadi
cita-cita. Terus lagi, Vicky (sorri aja Vick, nama ente aku bawa-bawa he he he)
bilang bahwa dia memaksakan diri agar bisa selesai. Memaksakan diri? Memangnya
siapa dulu yang memilih Fisika?  (gak usah dijawab Vic, cuma retorik he he he,
cuma mau kasih ilustrasi, jangan marah ya). Dan waktu saya cari info tentang
berbagai bidang pekerjaan dan jurusan, tak kurang yang seakan  menganjurkan untuk tidak terlalu memikirkan jurusan yang akan dipilih, persis
seperti lulusan itb yang saya ceritakan di awal, karena .."saya juga kerjanya
gak di bidang jurusan saya dulu kok. Orang ITB itu bisa bekerja dimana saja
tidak tergantung jurusannya." Rasanya dasarnya sama dengan yang diucapkan
lulusan ITB di awal cerita saya ini: "Masuk itb itu cuma untuk mengambil pola
berpikirnya saja."

Anak-anak yang masuk itb bagaimana pun juga dapat dikatakan cream of the
crop. Malah mungkin cream of the cream of the crop dari anak-anak Indonesia.
Sebagian besar dari mereka mestinya anak-anak yang mempunyai potensi yang
sangat besar, jauh dari rata-rata. Anak-anak semacam ini umumnya mempunyai
kemampuan analitik dan logika yang sangat baik. Jadi ungkapan bahwa "yang
diambil di itb adalah pola berpikirnya"  kali ini membuat saya bertanya: apakah
itu benar? Apakah benar di itb mereka diajar pola berpikir atau sebetulnya
mereka tidak banyak diajar, sebaliknya lebih banyak mendidik dan mengajar diri
sendiri, yang menjadi ciri dari kebanyakan anak-anak sangat cerdas? Apakah jika
mereka tidak melalui ITB mereka tidak akan punya pola pikir yang dikatakan
didapat di itb itu.? Atau mereka akan tetap akan punya pola pikir yang mereka
banggakan itu karena itu sebetulnya adalah bakat inheren yang dibawa sejak
lahir? Dengan kata lain, dimana pun mereka berada, seandainya mereka ti
 dak melewati ITBpun mereka akan menjadi orang yang punya pola pikir yang sama,
analitis dan logis, dan lainnya.

 Patutkah orang khawatir bahwa tata nilai demikian itu mungkin tidak baik
untuk kita. Mungkinkah itu salah satu sebab itb bukanlah perguruan yang sangat
produktif; karya dan publikasinya kurang memadai? Yah karena yang masuk
sebenarnya bukan benar-benar berminat terhadap ilmunya, tapi untuk  berbagai
alasan lainnya yang tidak ada hubungannya dengan ilmu itu.

Saya yakin salah masuk kek, salah jurusan kek, asal masuk kek, asal kuliah
pun, bukan berarti tidak ada gunanya. Masuk perguruan tinggi, apalagi masuk itb
banyak manfaatnya. Disini berkumpul orang-orang yang suatu kali akan menduduki
jabatan-jabatan tinggi, negeri maupun swasta, banyak orang-orang hebat pernah
lewat di itb. Itu adalah potensi network yang luar biasa. Itu saja sudah
manfaat yang luar biasa. Lho saya saja paling tidak bisa bilang: Wah itu Pak
Satrio itu teman saya lho. Padahal saya cuma tahu-tahu saja dengan Satrio,
dengan interaksi yang minim. Atau saya bisa bilang, wah dulu Pak Rizal Ramli
itu teman saya ngobrol-ngobrol. Lha gaya, rek. Hmm, bisa mengatrol imej 'kali.

Apakah benar bahwa tidak penting jurusan apa yang kita ambil? Atau
sebetulnya ada nilai yang lebih baik dari itu? Apakah nilai itu sebetulnya kita
anut sebagai apologi karena kita tidak mampu tahu apa yang ingin kita lakukan
waktu kita masuk, atau apologi karena ternyata apa yang kita masuki sebetulnya
bukan yang paling cocok untuk kita?

Apa barangkali kita bisa mengatakan bahwa kebanyakan orang masuk itb tanpa
tahu sebetulnya apa yang dia ambil? Ya, ya, buntutnya baik-baik saja kok. Tapi
pertanyaannya: Can we do better?

 Kalau benar bahwa banyak orang masuk itb seperti membeli kucing dalam
karung, (mungkin juga begitu dengan banyak anak Indonesia lainnya di PT lain),
cuma ikut trend, atau opini umum tentang apa yang paling menjanjikan untuk masa
depan, atau sekedar kuliah, atau asal masuk itb, atau oh kayaknya jurusan ini
enak deh, apakah itu bagus? Mengapa itu terjadi? Apakah itu perlu diubah?
Apakah tidak lebih baik orang tahu apa yang dia pilih? Seberapa besar
persentase anak itb yang paham apa yang dia pilih? Seberapa besar kesempatan
anak-anak Indonesia mengenal berbagai pilihan itu atau berkesempatan mencoba
sesuatu? Padahal di Indonesia, sekali kita menetapkan pilihan kita waktu masuk
di PT, tidak seperti di beberapa negeri luar, sukar mengganti haluan karena
berbagai alasan.

Apakah sistem pendidikan dasar kita sampai menengah terlalu kaku sehingga
anak tidak lagi berkesempatan melakukan eksplorasi untuk mengenal dirinya dan
berbagai hal tanpa kececeran? Juniornya Akmasy beruntung bahwa dikenalkan
komputer, eh langsung gemar, merasa cocok, main-main disitu dan akhirnya
melanjutkan ke jurusan itu. Berapa banyak anak mendapat kesempatan demikian,
atau perjalanannya demikian? Seandainya, seandainya saja, junior Akmasy
diperkenalkan pada komputer, dia suka, tapi terbatas pada suka seperti sukanya
pada banyak hal lain, tanpa keistimewaan tertentu, apakah cerita akan lain?

Berapa banyak anak yang mungkin seperti Feynmann, dari kecil kerjanya sudah
main elektronik-elektronikan, merakit sistem suara di seantero rumahnya,
main-main dengan rangkaian lampu, berbuntut kegemarannya pada fisika dan
keakrabannya terhadap kegiatan utak-atik yang juga bermanfaat. Atau seperti
Andrew Wiles yang suka puzzles, suka matematika sejak kecil, begitu ketemu buku
puzzle tentang Theorema Terakhir Fermat di usianya yang 10 tahun, langsung
terobsesi untuk memecahkannya dan tiga dekade kemudian dia menemukan solusi
untuk teorema itu, menyebabkan gegap gempita dunia matematika di tahun 1993.
Pencapaian yang super luar biasa.

Kita bisa bilang bahwa mereka adalah otak-otak super, jadi kasusnya
berbeda. Tapi saya kok yakin bahwa di ITB tidak kurang orang yang punya potensi
seperti mereka. Tapi kita jarang menemukan prestasi seperti itu. Seorang teman
saya yang dulu sedang ambil PhD di Child Development menyatakan bahwa pada IQ
140an ke atas, "They are all the same, Ida." "They have the ability to
understand equally difficult things and make equal achievement. What make the
difference are other things." Sebuah penelitian tentang Grandmaster Catur dan
dan para Masternya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara IQ
para GrandMaster dan IQ para Master itu, sama saja. Tapi yang satu mencapai
gelar Grandmaster yang satu lagi Master saja. Ada hal lain.

Jadi apa hal lain itu yang membuat tidak ada orang Indonesia, atau lulusan
ITB yang menghasilkan Nobel spt Feynmann, atau membuat kehebohan besar seperti
Andrew Wiles?

 Mungkinkah tata nilai yang kita anut soal perguruan tinggi itu menjadi
sebab? Kita tidak terlalu peduli apa yang kita pelajari, itu bukan tujuan kita.
Atau kita tidak punya kesempatan mengenali apa saja yang ada di dunia sana,
entah karena sistem kita, entah karena apa, sehingga ada mismatch antara
pribadi kita dengan apa yang kita pilih sehingga hasilnya tidak maksimal?
Mungkinkah nilai yang kita anut itu bukan sepenuhnya tata nilai yang
betul-betul kita percaya, tapi sekadar apologi? Apakah ada hal-hal yang bisa
kita perbaiki, mungkin untuk generasi anak-anak kita? Atau kita merasa
nilai-nilai dan cara-cara yang kita anut selama ini sudah benar, tidak masalah,
memadai? Kita sudah puas? Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi dari jalan yang
kita pernah tempuh itu? Toh kita berhasil juga dalam hidup, begitu juga nanti
anak-anak, dengan cara dan nilai yang sama? Atau mungkin kita perlu mengaji
ulang kriteria berhasil?
    Pagi-pagi dingin begini (sudah dua hari Bandung dingin
sekali......brrrrrr), mengapa lagi aku banyak tanya-tanya....

Salam,
ida


Posted at 08:59 pm by basuki1
Comments (2)  

Jan 24, 2006
SQ juga bisa Dodol


Akhirnya datang juga koperku , wah lumayan juga koper ini bisa kembali lagi, walaupun aku tahu bahwa koper ini pasti kembali , cuma aku tidak tahu kapan seharusnya koper ini kembali :-)...

Ini semua dimulai karena keterlambatan jadwal yang seharusnya berangkat jam 20.15 minggu tanggal 22 Januari 2006 , tapi terlambat hampir 1 jam kemudian bisa take off.
Ini disebabkan menunggu jadwal kedatangan SQ dari Singapore yang terlambat datang juga, aku sudah krasa jangan jangan ditinggal oleh SQ tapi aku pikir apa iya SQ sampai men delay kalau penerbangan tertunda ?

 Sampai di Singapore , sekitar jam 23.30 waktu Singapore , aku pikir aku bisa ditunggu oleh penerbangan ke Tokyo tersebut. Ternyata benar , kita ditinggal dan langsung aku ke transfer desk ( karena aku khan harus datang di Tokyo pagi hari , karena jadwal pertemuan TEIN2 meeting di pertemuan APAN harus diikuti , ini soal laporan status report Indonesia (ITB), jadi harus sampai pagi hari di Tokyo ). Dan disana sudah ada dua orang yang kebetulan juga akan ke Tokyo , salah satunya anggota DPR , pak Burhanuddin Napitupulu dan salah seorang temannya.

Mereka sudah ada disitu dan mereka ngotot juga untuk pergi malam ini, karena besok pagi mereka akan ada agenda pertemuan dengan pemerintah Jepang bersama Wakil Presiden , Jusuf Kalla. Pada awalnya , pihak Singapore Airlines (SQ) mendelay dan memberitahu bahwa jadwal kita adalah esok pagi jam 9.45 waktu SG.
Tentu saja , mereka berdua (dan aku juga) tidak bisa terima akan hal itu. Akhirnya dipanggillah manajer on duty nya , kalau tidak salah namanya Tony.

Kita ngotot agar bisa berangkat malam ini juga, dan teman pak Burhanuddin ngotot juga ke mereka agar kita bisa terbang malam ini atau flight terpagi yang ada. Pada awalnya mereka mencarikan flight lain dan didapatlah united airlines yang berangkat pagi hari, tapi setelah coba di kontak ke desk mereka , rupanya mereka sudah tutup dan tidak ada yang jaga selama 24 jam.
Kita meminta mereka untuk mencari alternatif route lain , dan akhirnya ketemu dengan menggunakan SQ juga tapi ke OSAKA dan dari OSAKA dilanjutkan dengan penerbangan domestik menggunakan ANA (Air Nippon Airways).

Akhirnya kita pilih jalur itu, dan kita meminta untuk dipastikan bahwa bagasi kita ikut terangkat sampai ke Hanneda International Airport , Tokyo. Mereka bilang tidak ada masalah dan mereka pastikan bahwa bagasi akan sampai juga dengan manusianya. Walaupun begitu , pak Burhanuddin juga menekankan agar hal itu benar benar dapat dipastikan.

Akhirnya kita take off jam 01.10 AM, 23 januari 2006. Perjalanan ditempuh sekitar 7 jam dan sampai disana sekitar jam 8 pagi, kita keluar dan masuk ke imigrasi. Setelah selesai , akhirnya kita menunggu bagasi kita.
Satu persatu bagasi yang muncul kita perhatikan , dan sampai semua orang mengambil bagasinya , kita tidak menemukan kopor kopor kita :-( ....

Mulailah bapak berdua itu ngomel ngomel , segera aku dan mereka report lost and find luggage.

Setelah selesai lapor , kita bergegas ke penerbangan domestik dan segera check in karena sudah hampir jam 10 (penerbangan kita jam 9.55) , kita check in jam 9.40,
dan take off pukul 10.10 menuju Hanneda International Airport ..

Sesampai di Hanneda , aku langsung bergegas menuju monorail utk segera ke hotel dan berharap masih dapat mengikuti beberapa session TEIN2.

Akhirnya aku sampai di hotel setelah keliling keliling , disana rupanya sudah ada si Edo (PutroJudo) yang sedang sekolah lagi di KEIO Univ  dan akhirnya aku ajak dia ke tempat TEIN2 meeting , tentu saja tanpa mandi dan masih menggunakan kaos , Untung saja ini pertemuan tidak terlalu formal , jadi ya pakai kaos +jaket tidak terlalu kentara...


Setelah selesai pertemuan TEIN2 , aku kembali ke hotel , dan pihak airport menelpon dan menyatakan koper sudah ketemu , baru keesokan harinya dikirim ...

Hari kedua aku di Tokyo , dan pada saat sore hari , aku kembali ke hotel ,koper sudah ada ,,,,ya syukurlah walaupun koper sempat dibuka buka ...untung tidak ada isinya kecuali titipan dari emak EDO juga ikut dibuka :-)











Posted at 10:35 pm by basuki1
Make a comment  

Jan 19, 2006
PERENCANAAN


PERENCANAAN  atau planning adalah proses pengambilan keputusan yang menyangkut apa yang akan dilakukan di masa mendatang, kapan, bagaimana dan siapa yang akan melakukannya.

 

Unsur pengambilan keputusan merupakan unsur penting dalam perencanaan, yaitu proses mengembangkan dan memilih langkah langkah yang akan diambil untuk menghadapi msalah masalah dalam organisasi atau perusahaan. Pimpinan harus mengambil keputusan tentang ramalan ramalan suatuasi yang akan terjadi di masa datang. Misal keadaan ekonomi, langkah langkah apa yang akan dilakukan oleh pesaing dan sebagainya. Mereka harus memutuskan sasaran yang akan dicapai, menganalisis sumber daya yang dimiliki organisasi, bagaimana mengaplikasikannya  dalam rangka mencapai sasaran tersebut. Dalam hal ini diperlukan sikap fleksibilitas di dalam menghadapi perubahan.

 

 

Langkah langkah dalam Perencanaan

Secara garis besar terdapat empat langkah dasar perencanaan yang dapat dipakai untuk semua kegiatan perencanaan pada semua jenjang organisasi. Langkah tersebut adalah :

 

  1. Menetapkan sasaran

Kegiatan perencanaan dimulai dengan memutuskan apa yang ingin dicapai organisasi. Tanpa sasaran yang jelas, sumber daya yang dimiliki organisasi akan menyebar terlalu luas. Dengan menetapkan prioritas dan merinci sasaran secara jelas, organisasi dapat mengarahkan sumber agar lebih efektif.

 

  1. Merumuskan posisi organisasi pada saat ini

Jika sasaran telah ditetapkan , pimpinan harus mengetahui dimana saat ini organisasi berada dan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan tersebut , sumber daya apa yang dimiliki pada saat ini. Rencana baru dapat disusun jika organisasi telah mengetahui posisinya pada saat ini. Untuk ini di dalam organisasi harus terdapat suasana keterbukaan agar informasi mengalir dengan lancar terutama data keuangan dan statistik.

 

  1. Mengidentifikasi faktor faktor pendukung dan penghambat menuju sasaran

Selanjutnya perlu  diketahui faktor faktor, baik internal maupun eksternal , yang diperkirakan dapat membantu dan menghambat organisasi mencapai sasaran yang terlah ditetapkan. Diakui jauh lebih mudah mengetahui apa yang akan terjadi pada saat ini , dibandingkan dengan meramalkan persoalan atau peluang yang akan terjadi di masa datang. Betapun sulitnya melihat ke depan adalah unsur utama yang paling sulit dalam perencanaan

 

  1. Menyusun langkah langkah untuk mencapai sasaran

Langkah terakhir dalam kegiatan perencanaan adalah mengembangkan berbagai kemungkinan alternatif atau langkah yang diambil untuk mencapai  sasaran yang telah ditetapkan ,m engevaluasi alternatif alternatif ini, dan memilih mana yang dianggap paling baik , cocok dan memuaskan.

 

Jenis Perencanaan

 

Dalam setiap organisasi rencana disusun secara hierarki sejalan dengan struktur organisasinya.Pada setiap jenjang, rencana mempunyai fungsi ganda: sebagai sasaran yang harus dicapai oleh jenjang dibawahnya dan merupakan langkah yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan oleh jenjang diatasnya.

 

Ada dua jenis rencana , yaitu : (1) rencana strategik,yang disusun untuk mencapai tujuan umum organisasi, yaitu melaksanakan misi organisasi, (2) rencana operasional , yang merupakan rincian tentang bagaimana rencana strategik dilaksanakan.

 

Rencana Operasional

 

Rencana Operasional terdiri atas bentuk , yaitu : (1) rencana sekali pakai (single use plan) yakni rencana yang disusun untuk mencapai tujuan tertentu dan dibubarkan segera setelah tujuan ini tercapai; (2) rencana permanen (standing plans) , yakni pendekatan pendekatan yang sudah di standarisasi untuk menghadapi situasi berulang dan dapat diramalkan sebelumnya.

 
 Rencana Sekali pakai
.  

 

PERENCANAAN   STRATEGIK.

 
Sering juga disebut Perencanaan Jangkah Panjang (longe range planning) adalah proses pengambilan keputusan yang menyangkut tujuan jangka panjang organisasi, kebijakan yang harus diperhatikan , serta strategi yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk melaksanakan strategi tersebut harus pula disusun program kerja yang terinci , mencakup kegiatan yang harus dilakukan , kapan harus dimulai , kapan harus selesai , dan siapa yang harus bertanggung jawab, serta sumber daya manusia yang diperlukan. Singkatnya perencanaan strategik adalah proses perencanaan jangka panjang yang sudah diformalkan , yang digunakan untuk merumuskan tujuan organisasi serta cara menghadapinya.

 

Konsep Strategi.

Ada beberapa konsep strategi ,  pertama, strategi adalah program umum untuk mencapai sasaran organisasi dan melaksanakan misinya. Kedua, strategi adalah pedoman umum organisasi untuk menghadapi perubahan lingkungan sepanjang waktu.

 

Karakteristik Perencanaan Strategik.

Ada lima ciri pokok perencanaan strategik , yaitu :

  1. Perencanaan strategik memberikan jawaban atas pertanyaan pertanyaan, seperti,"apakah jenis usaha yang kita masuki dan seharusnya kita masuki ?"
  2. Perencanaan strategik merupakan kerangka dasar yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk penyusunan rencana yang lebih rinci dan pengambilan keputusan harian. Jika seorang manajer harus mengambil keputusan semacam itu, ia dapat mengajukan pertanyaan " dari alternatif yang ada , manakah yang paling konsisten dengan strategi kita ?"
  3. Perencanaan strategik memiliki kurun waktu yang lebih panjang daripada jenis perencanaan lain
  4. Perencanaan strategik membantu organisasi untuk mengarahkan sumber dayanya pada kegiatan yang mempunyai prioritas tinggi
  5. Perencanaan strategik merupakan kegiatan tingkat atas, artinya ,pucuk pimpinan harus terlibat secara aktif. Karena hanya pucuk pimpinan yang memiliki pandangan yang dibutuhkan  untuk mempertimbangkan semua aspek organisasi dan karena commitment dari pucuk pimpinan sangat diperlukan untuk menumbuhkan dan mendukung commitment dari bawah.

 


 



Posted at 09:31 pm by basuki1
Comment (1)  

Jan 16, 2006
Mind Map


Mind Maps adalah salah satu cara utk memetakan apa apa yang ada di otak kita.Tools ini sangat membantu kita untuk bisa mengenali problem problem yang kita hadapi sehari hari.

Dari WIKIPEDIA,


http://en.wikipedia.org/wiki/Mind_map

"A mind map or mind-map is a pictorial representation of how a central concept is linked to other concepts and issues. It is similar to a semantic network or cognitive map but there are no formal restrictions on the kinds of links used. Most often the map involves color or monochrome images, words, and lines. The elements are arranged intuitively according to the importance of the concepts and they are organized into groupings, branches, or area."

Ada beberapa software yang dapat digunakan , antara lain
MindMap yang diproduksi oleh Mindjet --> http://www.mindjet.com/
sedangkan versi opensource nya ada juga , yaitu dapat di download di

http://freemind.sourceforge.net/wiki/index.php/Main_Page

"FreeMind is a premier free mind-mapping (http://en.wikipedia.org/wiki/Mind_map) software written in Java. The recent development has hopefully turned it into high productivity tool. We are proud that the operation and navigation of FreeMind is faster than that of MindManager because of one-click "fold / unfold" and "follow link" operations."

Yang menarik , perangkat ini bisa di convert ke MSOFFICE atau OPENOFFICE (freemind).





Posted at 08:50 pm by basuki1
Make a comment  

Jan 14, 2006
Pengembangan Organisasi


Tulisan ini saya ambil dari buku seri pedoman Manajemen , oleh Penerbit Gramedia. Tulisan ini adalah salah satu contoh cara pengembangan organisasi atau Organization Development (OD). Ada beberapa faktor yang bisa diambil pelajaran, dan bisa kita mulai diterapkan di organisasi masing masing, apapun bentuk organisasinya.

Pengembangan Organisasi

 

Lebih dikenal dengan organization development (OD) .Pengertian pokok OD adalah perubahan yang terencana (planned change). Perubahan , dalam bentuk pembaruan organisasi dan modernisasi, terus menerus terjadi dan mempunya pengaruh yang sangat dominan dalam masyarakat kini. Organisasi beserta warganya, yang membentuk masyakat modern , mau tidak mau harus beradaptasi terhadap arus perubahan ini. Perubahan perubahan yang terjadi pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam empat katagori , yaitu perkembangan teknologi, perkembangan produk, ledakan ilmu pengetahuan dan jasa yang mengakibatkan makin singkatnya daur hidup produk, serta perubahan sosial yang mempengaruhi perilaku, gaya hidup, nila nila dan harapan tiap orang.

 

Untuk dapat bertahan , organisasi harus mampu mengarahkan warganya agar dapat beradaptasi dengan baik dan bahkan agar mampu memanfaatkan dampak positif dari berbagai pembaruan tersebut dengan pengembangan diri dan pengembangan organisasi. Proses mengarahkan warga organisasi dalam mengembangkan diri menghadapi perubahan inilah yang dikenal luas sebagai proses organization development (OD).

 

Karena menyangkut perubahan sikap, persepsi,perilaku dan harapan semua anggota organisasi, OD di definisikan sebagai upaya pimpinan yang terencana dalam meningkatkan efektivitas organisasi, dengan menggunakan cara intervensi (oleh pihak ketiga) yang didasarkan pada pendekatan perilaku manusia. Dengan kata lain penerapan OD dalam organisasi dilakukan dengan bantuan konsultan ahli, sistemis ,harus didukung oleh pimpinan serta luas aplikasinya.

 

Teori dan praktik OD didasarkan pada beberapa asumsi penting yakni :

  • Manusia sebagai individu, Dua asumsi penting yang mendasari OD adalah bahwa manusia memiliki hasrat berkembang dan kebanyakan orang tidak hanya berpotensi , dan berkeinginan untuk berkontribusi sebanyak mungkin pada organisasi. OD bertujuan untuk menghilangkan faktor faktor dalam organisasi yang menghambat perkembangan dan menghalangi orang untuk berkontribusi demi tercapainya sasaran organisasi.
  • Manusia sebagai anggota dan pemimpin kelompok. Organisasi yang menerapkan OD harus berasumsi bahwa setiap orang dapat diterima dan diakui perannya oleh kelompok kerjanya. Dalam organisasi perlu ditumbuhkan keterbukaan agar para anggotanya dapat dengan leluasa mengungkapkan perasaannya dan pikirannya. Dalam keterbukaan , orang akan mendapatkan kepuasaan kerja yang lebih tinggi, sehingga dengan demikian performansi kelompok akan lebih efektif.
  • Manusi sebagai wadah organisasi. Hubungan antar kelompok – kelompok dalam organisasi menentukan efektivitas masing masing kelompok  tersebut. Misalnya bila komunikasi antar-kelompok hanya terjadi pada tingkat manajernya , koordinasi dan kerjasama akan kurang efektif daripada bila segenap anggota kelompok terlibat dalam interaksi.

 

Sasaran OD

 
Atas dasar asumsi asumsi diatas, proses pengembangan organisasi diterapkan dengan sasaran :

 

  1. Hubungan yang lebih efektif antara departemen , divisi dan kelompok kelompok kerja dalam organisasi
  2. hubungan pribadi yang lebih efektif antara manajer dan karyawan pada semaua jenjang organisasi
  3. terhapusnya hambatan hambatan komunikasi antara pribadi dan kelompok
  4. berkembangnya iklim yang ditandai dengan saling percaya, dan keterbukaan yang dapat memotivasi serta menantang anggota organisasi untuk lebih berprestasi

Tahap tahap Penerapan OD

 
Dalam menerapkan OD , organisasi memerlukan konsultan yang ahli dalam bidang perilaku dan pengembangan organisasi. Konsultan tersebut bersifat sebagai agen pembaruan (agent of change), dan fungsi utamanya adalah membantu warga organisasi menghadapi perubahan, melalui teknik teknik OD yang sesuai dengan kebutuhan organisasi tersebut. Proses penerapan OD dilakukan dalam empat tahap :

 

  1. Tahap pengamatan sistem manajemen atau tahap pengumpulan data. Dalam tahap ini konsultan mengamati sistem dan prosedur yang berlaku di organisasi termasuk elemen elemen di dalamnya seperti struktur, manusianya, peralatan, bahan bahan yang digunakan dan bahkan situasi keuangannya. Data utama yang diperlukan adalah :
    1. Fungsi utama tiap unit organisasi
    2. Peran masing masing unit dalam mencapai tujuan dan sasaran organisasi
    3. Proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan tindakan dalam masing masing unit
    4. Kekuatan dalam organisasi yang mempengaruhi perilaku antar – kelompok dan antar individu dalam organisasi
  2. Tahap diagnosis dan umpan balik. Dalam tahap ini kualitas pengorganisasian serta kegiatan operasional masing masing elemen dalam organisasi dianalisis dan dievaluasi . Ada beberapa kriteria yang umum digunakan dalam mengevaluasi kualitas elemen elemen tersebut, diantaranya :
    1. Kemampuan beradaptasi, yaitu kemampuan mengarahkan kegiatan dan tenaga dalam memecahkan masalah yang dihadapi
    2. Tanggung jawab : kesesuaian antara tujuan individu dan tujuan organisasi
    3. Identitas : kejelasan misi dan peran masing masing unit
    4. Komunikasi ; kelancaran arus data dan informasi antar-unit dalam organisasi
    5. Integrasi ; hubungan baik dan efektif antar-pribadi dan antar-kelompok, terutama dalam mengatasi konflik dan krisis
    6. Pertumbuhan ; iklim yang sehat dan positif, yang mengutamakan eksperimen dan pembaruan , serta yang selalu menganggap pengembangan sebagai sasaran utama
  3. Tahap pembaruan dalam organisasi. Dalam tahap ini dirancang pengembangan organisasi dan dirumuskan strategi memperkenalkan perubahan atau pembaruan. Strategi ini bertujuan meningkatkan efektivitas organisasi dengan cara mengoreksi kekurangan serta kelemahan yang dijumpai dalam proses diagnostik dan umpan balik. Mengingat bahwa setiap perubahan yang diperkenalkan akan mempengaruhi seluruh sistem dalam organisasi, bahkan mungkin akan mengubah sistem distribusi wewenang dan struktur organisasi, rancangan strategi pembaruan harus didiskusikan secara matang dan mendapat dukungan penuh pimpinan puncak.
  4. tahap implementasi pembaruan. Tahap akhir dalam penerapan OD adalah pelaksanaan rencana pembaruan yang telah digariskan dan disetujui. Dalam tahap ini konsultan bekerja secaa penuh dengan staf manajemen dan para penyelia. Kegiatan implementasi perubahan meliputi :
    1. perubahan struktur
    2. perubahan proses dan prosedur
    3. penjabaran kembali secara jelas tujuan sera sasaran organisasi
    4. penjelasan tentang peranan dan mis masing masing unut dan anggota dalam organisasi

Teknik teknik OD

 

Ada berbagai teknik yang dirancang para ahli, dengan tujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta bekerja secara efektif, antar-individu maupun antar-kelompok dalam organisasi. Beberapa teknik yang sering digunakan berikut ini.

 

  • Sensitivity training, merupakan teknik OD yang pertama diperkenalkan dan ayang dahulu paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group. Dalam kelompok kelomok T (singkatan training) yang masing masing terdiri atas 6 – 10 peserta, pemimpin kelompok (terlatih) membimbing peserta meningkatkan kepekaan (sensitivity) terhadap orang lain, serta ketrampilan dalam hubunga antar-pribadi.
  • Team Building, adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektivitas serta kepuasaan tiap individu dalam kelompok kerjanya atau tim. Teknik team building sangat membantu meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek dan organisasinya bersifat matriks.
  • Survey feedback. Dalam teknik sruvey feedback. Tiap peserta diminta menjawab kuesioner yang dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya persepsi tentang kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil surveini diumpan balikkan pada setiap peserta, termasuk pada para penyelia dan manajer yang terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kuliah atau lokakarya yang mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan perbaikan konstruktif.
  • Transcational Analysis (TA). TA berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar-individu. TA mengajarkan cara menyampaikan pesan yang jelas dan bertanggung jawab, serta cara menjawab yang wajar dan menyenangkan. TA dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan komunikasi yang buruk dan menyesatkan.
  • Intergroup activities. Fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan hubungan baik antar-kelompok.Ketergantungan antar kelompok , yang membentuk kesatuan organisasi, menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Intergroup activities dirancang untuk meningkatkan kerjasama atau memecahkan konflik yang mungkin timbul akibat saling ketergantungan tersebut.
  • Proses Consultation. Dalam Process consultation, konsultan OD mengamati komunikasi , pola pengambilan keputusan , gaya kepemimpinan, metode kerjasama, dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Konsultan kemudian memberikan umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya , serta menganjurkan tindakan koreksi.
  • Grip OD. Pendekatan grip pada pengembangan organisasi di dasarkan pada konsep managerial grip yang diperkenalkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Konsep ini mengevaluasi gaya kepemimpinan mereka yang kurang efektif menjadi gaya kepemimpinan yang ideal, yang berorientasi maksimum pada aspek manusia maupun aspek produksi.
  • Third-party peacemaking. Dalam menerapkan teknik ini, konsultan OD berperan sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar-individu dan kelompok.

 

 

 




Posted at 10:35 pm by basuki1
Comment (1)  

Jan 2, 2006
Tiongkok : Api Dalam sekam Mengintai



Ada sedikit sharing informasi tentang Republik Rakyat China (RRC),
saya melihat apa apa yang disampaikan dibawah ini , ada benarnya walaupun saya belum bisa melihat data secara detail karena keterbatasan dll..

Mudah mudahan ini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia

------------------------
Date: Fri, 30 Dec 2005 13:36:06 +0100 (MET)
From: Yayak Yatmaka <ismaya @gmx.net>
Reply-To: jaring@bhaktiganesha.or.id
To: jaring@bhaktiganesha.or.id
Subject: [jaring] Fwd: [temu_eropa] Tiongkok-KAPITALIS?

Ada yang kerjasama dengan RRC?
YK

  TIONGKOK:
  Api  Dalam  Sekam  Mengintai,  Ketika  Setiap  Hari
  Terjadi  200   Demonstrasi
  
  Pao Yu Ching: pada April 2001, penduduk Ta-ching cemas. Ta-ching yang
terletak di sebelah utara Tiongkok itu, menjadi saksi serangkaian
demonstrasi
yang digelar oleh 700.000 buruh. Separuh dari mereka dipecat begitu saja.
Para
buruh tersebut marah terhadap para pemilik pabrik, yang telah memecat buruh
dalam jumlah besar, tanpa kompensasi dalam bentuk apa pun. Mereka juga marah
terhadap pemerintah yang tidak menaruh perhatian terhadap keadaan mereka
serta
menampik seruan keadilan-sosial yang diajukan.
  
  Mungkin diakibatkan oleh keputus-asaan sehingga sejumlah buruh yang tidak
puas dan mereka yang manaruh simpati menempuh tindakan radikal: memasang bom
di sebuah kantor pemerintah setempat. Bom pun meledak dan sang walikota,
wakilnya, sekretaris partai setempat dan sejumlah enam lainnya terbunuh,
termasuk
tiga buruh yang terlibat peristiwa tersebut.
  
  Sebagai jawaban atas tindakan tersebut, pemerintah mengirim 50.000 serdadu
untuk mengepung pabrik-pabrik serta ‘memulihkan ketenangan’.  Bak kejutan
besar bagi para serdadu tersebut, justeru mereka yang akhirnya terkepung
oleh
para buruh serta penduduk setempat. Penduduk Ta-ching siap berlawan.
  
  Delapan bulan kemudian, tampak jalan buntu dapat diterobos. Pemerintah dan
para pemilik pabrik terpaksa membayar upah pesangon yang lebih tinggi bagi
buruh-buruh yang dipecat.
  
  Kegelisahan yang meruak  “Besar kemungkinan anda pernah mendengar lewat
media tentang peristiwa Ta-ching tersebut. Bukan kah begitu?”, tanya Pao Yu
Ching di hadapan hadirin peserta ceramah pada 10 September 2005 yang lalu di
Utrecht [Negeri Belanda]. Pao adalah pensiunan guru besar Marygrove College
di
Michigan, Amerika Serikat. Di samping itu, beliau juga seorang pakar ternama
di bidang studi Tiongkok. Ceramah tersebut dikelola oleh ILPS (Liga
Internasional Perjuangan Rakyat), dan para pesertanya mencakup berbagai
bangsa, bahkan
sejumlah dari mereka khusus datang dari Jerman, Belgia, Luksemburg dan
Inggris.
  
  Saat ini, Prof. Pao tinggal di Taichung (Taiwan). Dia menyampaikan bahwa
banyak peristiwa serupa tidak pernah sampai ke dunia luar, meski memiliki
nilai berita yang tinggi. Dia mengamati bahwa dewasa ini sejumlah media di
Tiongkok bagai tidak melihat kemungkinan lain daripada menurunkan laporan
atas
pemberontakan kaum tani serta berbagai demonstrasi dan pemogokan buruh,
mengingat
jumlah dan frekuensinya yang meningkat itu.
  
  “Di Tiongkok pada saat ini berlangsung rata-rata 70.000 hingga 80.000
kegiatan massa setiap tahunnya”, kata Pao. “Ini berarti bahwa di segenap
penjuru
negeri, setiap hari terjadi tidak kurang dari 200 demonstrasi.”  “Buruh dan
tani tersebut memiliki daftar keluhan yang panjang”, demikian Pao
berpendapat.
“Para buruh tidak puas dengan penghematan dan melimpahnya pengangguran,
pembayaran upah yang ditangguhkan, tidak diberikannya dana keperluan rumah,
pensiun yang diciutkan (atau ditiadakan sama sekali) serta sejumlah masalah
ekonomi lain yang dihadapi mereka.”  “Di daerah pedesaan, masalah terpenting
bagi
kaum tani adalah bahwa mereka terus-menerus harus berpindah-pindah akibat
meruaknya perampasan tanah serta pengangguran”, imbuh Pao.
  
  Keadaan buruh dan tani dewasa ini sangat buruk, demikian Pao menggugat,
yang dalam tahun ini sempat singgah di Tiongkok dua kali. “Bagi orang luar,
Tiongkok merupakan sebuah negeri yang sedang menempuh jalan menjadi negeri
maju.
Namun, hal itu adalah jauh dari kebenaran, mengingat adanya ketidak-puasan
di kalangan penduduk yang bekerja. Tiongkok dalam waktu dekat dapat
menghadapi
masalah besar”, demikian tandas Pao.
  
  Meninggalkan Koperasi  Pao mengurai melambungnya kemiskinan serta
ketidak-puasan di kalangan penduduk Tiongkok sebagai akibat serangkaian
langkah
reformasi yang ditempuh oleh kelompok Deng, yang terjadi seketika mereka
berhasil
mengambil alih kekuasaan pada 1979.
  
  Pao menjelaskan: “Kebijakan pertama yang diambil adalah menghapuskan
koperasi. Dengan begitu kini bermunculan petani perorangan. Ini berlangsung,
ketika Deng melalui harga pasar menaikkan 20 prosen hingga 50 prosen, bila
petani
menjual lebih banyak dari kuota yang ditetapkan.”  “Hingga 1984, yakni 5
tahun setelah pelaksanaan kebijakan tersebut, penghasilan kaum tani naik 15%
setahunnya”, tambah Pao. “Maka, para petani pun gembira. Bahkan mereka
mengelu-elu bak kebijakan yang baik, karena keadaan mereka kini menjadi
lebih baik
setelah pemasukan meninggi.“
  
  Hasil positip kebijakan tersebut tampak diatur berlangsung pendek dan
tidak dapat dipertahankan. Pada tahun-tahun berikutnya, pemasukan pun
merosot
dari 5% hingga 1%. Dan dalam kurun 1997 hingga hari ini, ketika hasil
pertanian
secara keseluruhan tetap sama, harga pasar produk di sektor tersebut jatuh
hingga 30%. Disebabkan oleh pajak pendapatan yang membumbung, banyak petani
gulung tikar, dan terpaksa mencari napkah di kota. Menurut Pao, seketika
terdapat 100 juta petani berada di kota-kota, karena di desa-desa pertanian
tidak
lagi tersedia pe&shy;ker&shy;jaan. Pao menyatakan kebijakan Deng tersebut
sebagai sebuah perangkat yang ‘licik’.  “Lebih gampang menerapkan reformasi
di
sektor pertanian, ketimbang di industri.“  Di sini, Pao menambahkan: “Dengan
membubarkan koperasi, Deng telah mematahkan sepenuhnya dasar ikatan antara
buruh
dan tani.“
  
  Juga, “Jaminan pekerjaan tetap“  Deng mengayun lebih lanjut dengan apa
yang dinamakan reformasi tata ekonomi pada 1985 dan reformasi buruh pada
1986.
“Reformasi tata ekonomi merupakan perubahan yang amat penting di sektor
industri”, imbuh Pao. Pada masa lampau, perusahaan negara tidak memiliki
perhitungan untung-rugi. Bila terdapat keuntungan maka diberikan kepada
negara; bila
mengalami kerugian perusahaan memperoleh dana. Ini merupakan satu-satunya
cara
negara membuat perencanaan di bidang ekonomi. Ketika negara hendak
mengembangkan industri berat, dana dalam jumlah lebih besar pun harus
disalurkan,
meski tidak mendatangkan keuntungan. Tidak terdapat perhitungan untung-rugi.
Tidak ada alasan untuk melakukan hal itu.”
  
  Dengan memperkenalkan pemikiran untung-rugi, perusahaan yang memperoleh
keuntungan pun menikmati berbagai kemudahan. Di sini, Pao menyatakan lebih
jauh, bahwa para manajer yang gajinya telah melejit tinggi dan ditambah
dengan
berbagai bentuk keuntungan lainnya itu, juga memperoleh kekuasaan penuh
untuk
membeli atau mengkontrak perusahaan negara yang merugi. Alhasil:
berjuta-juta
buruh kehilangan ‘jaminan periuk’, atau pekerjaan tetap, yang hingga saat
itu
merupakan jaminan yang diberikan oleh negara sosialis itu. Di samping
pengangguran akibat bangkrut, para buruh tersebut dapat saja dipecat oleh
manajer
mereka dengan alasan sepele. Para manajer tidak lagi menerima buruh dengan
status tetap, namun atas dasar kontrak. Menurut Pao, hal itu membawa ke
langkah
reformasi buruh pada 1986.
  
  Pelaksanaan reformasi buruh tersebut tidak berjalan mulus, akibat
munculnya tentangan keras oleh kaum buruh. Menghadapi kehilangan ‘jaminan
periuk’
mereka itu, buruh-buruh pada mulanya berhasil mencoba menghalau pemerintah
yang
hendak mengeterapkan langsung kebijakan termaksud. “Mengikuti proses
tersebut”, demikian Pao melanjutkan uraiannya, “sebenarnya negara berhasil
menghadapkan perlawanan buruh itu pada kesulitan, ketika harta milik negara
dijual
dengan harga banting kepada orang-orang terdekat”.  “Terdapat pula banyak
contoh
lain di mana para manajer yang mengambil alih bagian perusahaan negara yang
menguntungkan, untuk kemudian memulai usaha baru sendiri. Dengan demikian,
perusahaan negara dipaksa gulung tikar dan para buruh pun pada gilirannya
dipecat”, demikian Pao berpendapat.
  
  Menurut Pao, terhitung sejak pertengahan 1990-an terdapat sejumlah 10 juta
buruh yang kehilangan pekerjaan akibat kebijakan reformasi buruh oleh Deng
tersebut.
  
  Sebuah kehidupan yang nyaman  “Mereka yang dewasa ini berkunjung ke
Tiongkok dan menyaksikan banyak gedung pencakar langit, seketika akan
berpikir
bahwa di mana-mana di Tiongkok terdapat kekayaan”, kata Pao. “Di pasar
swalayan,
seseorang dapat menemukan segala-gala yang diperlukan dan orang pun dapat
berkesimpulan bahwa orang-orang di Tiongkok benar-benar memperoleh kehidupan
baik. Yaaa, tentu, beberapa orang telah menikmati hidup enak…sebuah
kehidupan
yang amat menyenangkan.”
  
  Setelah 4 Juni 1989 [pemberontakan Tien-a-men], pemerintah Tiongkok,
menurut Pao, secara sadar mengambil keputusan untuk ‘membeli’ kaum
intelektual
serta pejabat tinggi pemerintah, dengan jalan memberi mereka ‘kehidupan
baik’.
“Tetapi”, imbuh Pao, “hal itu membuat jarak kaum kaya dengan kaum papa
semakin
menganga, sebuah keadaan yang di dalam laporan terakhir kantor berita resmi
Tiongkok, Xinhua, diakui sebagai ‘sangat memprihatinkan’.”
  
  “Terdapat seperlima bagian dari penduduk Tiongkok yang paling makmur, kini
menguasai 50% seluruh pendapatan, sedangkan kaum yang paling melarat, yakni
seperlima penduduk, hanya berpendapatan 4,7% saja”, demikian dilaporkan oleh
Xinhua.  “Perbedaan pendapatan yang telah melampaui batas kewajaran itu,
menunjukkan arus yang akan terus meningkat. Bila hal demikian berlangsung
untuk
jangka waktu lama, maka keadaan akan membawa ke berbagai macam kegoncangan
dalam masyarakat.”
  
  Pao: “Namun, kehidupan kaum super kaya luar biasa baik dan pendapatan
mereka adalah sah.”  “Kenyataan sebenarnya yang tidak tampak”, demikian
lanjut
Pao, “adalah pendapatan yang mereka peroleh lewat korupsi, khususnya di
lingkungan pemerintah serta perusahaan negara yang masih tersisa.”  “Di
Tiongkok
terdapat lelucon yang berbunyi bahwa bila anda menjejer seluruh pejabat
pemerintah dan menempatkan mereka yang bernomor genap dalam sebuah baris
untuk
dibunuh, jumlah yang sama dari kalangan bersalah tersebut akan bebas
keluar”,
demikian disampaikan oleh Pao dengan nada kelakar. “Kebalikkannya, kaum
buruh
dengan penghasilan rata-rata setiap bulannya berjumlah 600 yuan renminbi
($74.00), yang terkadang dapat mencapai 1.000 yuan. Dengan itu, mereka tidak
memperoleh dana keperluan rumah serta biaya perawatan kesehatan”, demikian
Pao
berpendapat. Selain hidup di bawah keadaan ekonomi yang demikian berat, para
buruh
dan petani juga berhadapan dengan kekerasan oleh polisi, yang menurut Pao
 sepuluh kali lipat lebih buruk dibanding Taiwan, di mana dia saat ini
hidup.
  
  “Saya teringat akan kisah yang disampaikan kepada saya tentang dua gadis
Tionghoa yang sedang dalam perjalanan pulang. Seorang di antara mereka tidak
membawa surat sepeda yang digunakan. Polisi kemudian memutuskan untuk
menahannya. Ketika seseorang menemukannya, gadis tersebut dalam keadaan
meninggal,
dan memperoleh cerita bahwa dia telah diperkosa terlebih dahulu, sebelum
dibunuh. Penduduk kota berontak dan menuntut agar pihak yang terlibat
dihukum.
Bukan menangkap polisi yang bersalah, namun pihak berwajib menahan seseorang
sebagai pelaku, seorang fakir miskin, yang telah dibeli hidupnya dengan
memberi
keluarganya uang sejumlah 10.000 yuan. “
  
  Menurut Pao, kehidupan di pedesaan pun tidak menjadi lebih baik, karena
para birokrat setempat menjadi jauh lebih buruk daripada tuan tanah zaman
terdahulu. Mereka berkata bahwa mereka kini memiliki kekuasaan yang lebih
besar
dan menjadi lebih korup.
  
  “Sebagai contoh dapat kiranya dikemukakan kisah sebuah kelompok petani
yang mengorganisasi diri untuk mengedepankan meroketnya pajak yang dikenakan
kepada mereka. 12 orang dipilih dari kalangan mereka untuk mewakili serta
menanyakan kepada pihak manajer agar diizinkan melihat pembukuan untuk
mengetahui
penggunaan uang pajak tersebut. Bukannya mendengar kelompok tersebut, namun
tiga petani, tanpa ba, bu, dipukul hingga meninggal dunia.”
  
  Banyak petani naik kereta api menuju Beijing untuk meluruskan persoalan
tersebut. Mereka berpikir bahwa pemerintah pusat akan berbuat sesuatu
terhadap
kekerasan polisi tersebut juga terhadap perampasan tanah. Namun demikian,
menurut Pao, banyak petani tidak berhasil sampai ke Beijing, karena dalam
perjalanan mereka diculik. Pao berpendapat bahwa Partai Komunis yang kini
berkuasa,
sepenuhnya menghentikan buruh dan tani menjadi anggota. Menurut dia, partai
lebih menaruh perhatian kepada kaum intelektual untuk dijadikan anggota
dengan memberi berbagai ekstra. Pao terkejut atas kenyataan hidup di mana
generasi
muda saat ini tidak mengenal tradisi revolusioner orang tua mereka.
  
  Pekerjaan partai di kalangan massa merosot dalam bentuk pengorganisasian
bimbingan perjalanan ke sejumlah tempat-tempat bersejarah, yang pada masa
Mao
telah dikunjunginya, seperti Yenan. Ini dimaksudkan untuk mempertahankan
kepalsuan, bahwa partai benar-benar komunis, demikian pendapat Pao. “Dalam
kenyataan, banyak orang Tionghoa biasa menyatakan kepada saya selama singgah
di
negeri tersebut, bahwa Partai Komunis tersebut memiliki segala sesuatu,
terkecuali ke-komunisan”, demikian adanya menurut Pao. “Wajar bila anda
bertanya
kepada saya apakah Tiongkok hari ini telah kehilangan sama sekali seluruh
unsur
sosialistik-nya”, imbuhnya.
  
  Kekuatan Besar Kapitalis?  Atas pertanyaan apakah Tiongkok berada dalam
perjalanan menjadi negara adikuasa kapitalis berikut, Pao menjawab tegas  T
I D
A K .  Dia menyebut 6 alasan mengapa kapitalisme di Tiongkok tidak akan
berhasil:
  01.  Pertanian Tiongkok berada dalam keadaan terbelakang, tidak mengalami
modernisasi. Reformasi di bidang pertanian tidak berhasil. Pengairan telah
hilang. Hutan-hutan berada dalam keadaan buruk. Para petani tidak bersedia
menyerahkan tanah mereka. Bila semua ini diperhitungkan akan mengarah pada
usaha
yang gagal dalam menarik modal untuk ditanam di bidang pertanian.
  02.  Terdapat pasar dalam negeri yang kecil saja, karena gaji buruh dan
pendapatan kaum tani secara sadar dibuat rendah. Sembilan puluh prosen
pabrik-pabrik memiliki kapasitas berlebih.
  03.  Tiongkok menggunakan ekspor untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan
pendapatan. AS merupakan negeri pengimpor terbesar. AS meminjam uang
Tiongkok
untuk membeli produk Tiongkok.
  04.  Tiongkok tergantung pada impor teknologi serta suku cadang.
  05.  Tiongkok telah memberi banyak untuk dapat diterima di Organisasi
Perdagangan Dunia [WTO]. Sektor layanan jasa telah diserahkan. Industri
komputer,
kedokteran dan lain-lainnya telah dibuka. Pada 2010 bank asing di Tiongkok
akan memiliki kedudukan yang sama dengan bank nasional. Di antara 1.000 bank
teratas, Tiongkok hanya memiliki 16, dan 15 di antara itu telah dikendalikan
oleh bank asing. Bank of America dan Royal Bank of Scotland menanam
trilyun-an
dollar untuk mencaplok berbagai bank setempat.
  06.  Pada kurun 25 tahun terakhir, lingkungan hidup dan sumber bahan
mentah alam mengalami kerusakan berat. Sang negeri telah menelan berbagai
sumbernya sendiri. Air akan menjadi langka dan kini pun telah mengalami
kekurangan
minyak.
  
  Walhasil, Pao menyimpulkan bahwa pertumbuhan kapitalisme di Tiongkok tidak
berlangsung secara penuh. “Bahwa Tiongkok akan menjadi negara adikuasa
adalah tidak lebih dari propaganda AS belaka. Dalam kenyataan, ekonomi
Tiongkok
mengalami ketegangan berlebih dan berada dalam sebuah titik yang setiap saat
dapat menjadi berantakan serta porak peranda.”
  
  Dengan melimpahnya kalangan kaum pekerja, yang sadar akan pengkhianatan
klik Deng, Tiongkok mengalami suatu kurun waktu yang menegangkan, menurut
Pao.
Dia mengatakan bahwa sungguh merupakan dorongan ketika terdapat berbagai
usaha sementara orang di Tiongkok untuk mempelajari keadaan serta berbuat
sesuatu
menghadapi keadaan hari ini.
  
  Pao menyampaikan harapan bahwa pada suatu saat berbagai aksi massa di
dalam negeri akan menemukan bentuknya secara terorganisir, sehingga akan
lebih
banyak mencapai keberhasilan, seperti pemberontakan di Tai-ching itu.
  
  Mengakhiri cerita tentang Ta-ching….
  Untuk merayakan kemenangan mereka, buruh-buruh telah membuat patung
sebagai tugu peringatan terhadap tiga buruh yang telah meninggal dunia pada
saat
bom meledak serta empat buruh lainnya yang ditangkap untuk kemudian
dieksekusi
karena keterlibatan mereka pada usaha meledakkan bom tersebut. Para buruh
yang gugur ini dapat saja dianggap pelaku kejahatan di mata pemerintah
Tiongkok.
Namun, bagi buruh-buruh Ta-ching mereka adalah martir yang meninggal ketika
berlawan.
  
  Sumber: Bulatlat [2005].
Diindonesiakan oleh redaksi datainfocom berdasar Manifest (1 december 2005:
9; 15 december 2005: 12), hasil terjemahan J. Bernaven.

       


Posted at 05:30 pm by basuki1
Make a comment  

Jan 1, 2006
Hari pertama di Aceh , setahun lalu (bag II)




Kami menumpang di tempat salah satu teman Martin yang kebetulan bertugas di TNI AU. Rumahnya tidak jauh dari lapangan terbang Blang Bintang Banda Aceh. Rumah dinas nya tipe 36, kebetulan isterinya tidak disitu , jadi tempat tersebut menjadi markas teman teman dari LKBN Antara dan ditambah kedatangan kita , jadi benar benar penuh rumahnya (kami ada 10 orang , dari Antara ada 2 orang + 2 orang KOWAD).  Aku tidur diluar saja , aku pilih posisi paling enak buat tidur walaupun diluar, aku gunakan alas yang kita bawa' dari jakarta. Tidak terasa aku tidur cukup lama rupanya capek juga :-)

Aku bangun agak siangan dan ibu ibu Kowad sudah pada pergi , rupanya mereka sudah berhasil kontak dengan institusinya dan sudah bisa mencapai apa yang dituju. Hari jum'at , saya pikir saya akan jum'atan di Banda Aceh untuk pertama kali di tahun ini. Tapi , rupanya kami masih capek , akhir ketiduran lagi beberapa orang diantara kami termasuk teman teman yang lain. Ada beberapa teman yang berusaha untuk mencari juga link ke teman teman mereka di Banda Aceh.

Sekitar pukul 13 siang , teman teman dari LKBN Antara mengajak kami ke Banda Aceh dengan menggunakan mobil yang mereka 'sewa' dari teman teman di Banda Aceh. Saya dan Jay (HMI) ikut bersama dengan sasaran untuk mencari lokasi KPUD (kabarnya KPUD NAD masih utuh), dengan membawa beberapa telepon satelit yang akan kita letakkan di Lokasi yang kita tuju.

Akhirnya kami berangkat dengan menggunakan Suzuki Jimny pinjaman tersebut. Sepanjang perjalanan , kita melihat kerusakan kerusakan yang terjadi pasca Tsunami.
Sungguh dahsyat sekali bencana ini, Allah SWT punya kehendak lain pada bumi Aceh. Saya hanya bisa dzikir saja melihat hampir seluruh Banda Aceh dalam kondisi porak poranda.
Akan tetapi ada beberapa tempat yang selamat , utuh , tidak tersentuh air sama sekali. Sepertinya air tersebut punya 'mata' untuk memilih sasaran ..

Beberapa foto dapat dilihat di :

http://gallery.cnrglab.itb.ac.id/album12

Aku tidak menemukan KPUD karena rupanya alamat KPUD tidak ada yang tahu pasti. Mungkin juga karena kondisi yang luar biasa ini. Aku sempat bertanya pada beberapa Tentara dan Polisi , rupanya mereka bukan tentara yang berada di Aceh , mereka baru saja didatangkan dari Jawa (Malang, Kostrad) 3 hari yang lalu atau 2 hari setelah kejadian Tsunami.

Kami sempat menemukan HMI NAD, saya dan Jay segera turun dan mencoba untuk berkoordinasi dengan mereka serta memasang telepon satelit disitu.

Saya kembali lagi ke 'markas' kami di lapangan kompleks lapangan militer blang padang ...
dengan membawa banyak informasi dan banyak hal yang membuatku bersyukur untuk banyak hal.





Posted at 11:31 am by basuki1
Make a comment  

Next Page