<< December 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




Nov 15, 2005
Buku Buku Terbitan CNRG


Apabila dihitung,ada beberapa karya terutama buku buku yang telah dihasilkan oleh para CNRGers mulai tahun 1997 hingga tahun 2002. Cover dari buku buku ini ada di
http://gallery.cnrglab.itb.ac.id/. Akan tetapi kegiatan penulisan buku ini boleh dikatakan sudah agak vacum. Sepertinya harus ada gerakan untuk mengkaktifkan kembali penulisan buku buku yang dikeluarkan oleh CNRG mengingat materi yang saat ini dipunyai oleh CNRG sudah sangat banyak. Salah satunya ada di http://books.cnrglab.itb.ac.id/ akan tetapi site tersebut tidak dapat di akses dari luar network ITB (167.205/16)

Perlu suatu pendorong agar CNRGers yang baru dapat juga menuliskan karya karya nya seperti CNRGers sebelumnya. Bagaimana caranya ? itu yang harus sama sama kita pikirkan.


Posted at 10:53 pm by basuki1
Comment (1)  

Nov 14, 2005
Hakekat Sistem TI KPU dan Upaya Upaya Menutupnya


Artikel ini ditulis oleh Adnan Basalamah ,

untuk menjelaskan pada masyarakat tentang IT KPU dan kegunaannya. Ide yang menarik dari Adnan adalah sistem IT KPU adalah semacam papan tulis yang dapat diketahui oleh seluruh orang , jadi apabila ada kesalahan dengan cepat di koreksi tidak disembunyikan. Ini adalah salah satu hakikat yang penting dari IT KPU dan perubahan budaya ini penting sekali. Kebiasaan kita di masa lalu adalah menutup sejarah sehingga kita sendiri tidak pernah belajar dari Sejarah. Seperti yang Bung Karno tulis dalam buku Indonesia menggugat, bahwa salah seoarang penulis mengatakan , "History is bunk , penulis ini tidak benar , sejarah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah orang bisa menemukan hukum hukum yang menguasai kehidupan manusia"



Hakekat Sistem TI KPU dan Upaya Upaya Menutupnya

Oleh
Adnan Basalamah
adnan@itb.ac.id

CNRG – ITB

Pemilihan presiden putaran pertama saat ini sudah mendekati akhir. Masyarakat sudah dapat memperkirakan siapa siapa calon presiden yang akan maju ke putaran kedua. Walaupun begitu, ada juga komentar negatif yang muncul atas sistem pemilihan umum kali ini, terutama berkaitan dengan penggunaan Teknologi Informasi (IT).

Beberapa komentar negatif terhadap sistem IT KPU antara lain:

1. Sistem IT KPU sudah di set hasilnya dari awal untuk memenangkan calon presiden
tertentu. Buktinya prosentasi suara yang ditampilkan dimana mana selalu sama dan stagnan.

2. Sistem IT KPU adalah bagian dari skenario pembentukan opini masyarakat untuk memenangkan calon presiden tertentu. Buktinya perhitungannya sama saja dengan QuickCount lembaga survey tertentu.

3. Sistem IT KPU adalah mainan yang terlalu mahal. Uang 200 Milyar rupiah terbuang sia sia dengan alasan hanya untuk memberikan informasi cepat kepada masyarakat.

4. Sistem IT KPU penuh dengan kesalahan kesalahan elementer yang harusnya tidak terjadi pada sistem semahal ini. Kesalahan ini berbahaya karena dapat berpengaruh pada kestabilan kondisi politik indonesia. Karena itu sistem IT KPU perlu diaudit bahkan kalau perlu ditutup saja.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang memang ada di dalam proses pembangunan sistem IT KPU, komentar-komentar tersebut haruslah kita sikapi secara proporsional dengan mendudukkan segala sesuatu pada tempatnya.

HAKEKAT DARI SISTEM IT KPU

Dalam sistem pemilihan apapun, mulai dari pemilihan ketua kelas, pemilihan ketua OSIS, sampai dengan pemilihan lurah di desa desa, suara pemilih selalu di kumpulkan di suatu tempat untuk dihitung dan ditabulasi. Maksud kata tabulasi adalah memasukkan angka ke dalam tabel. Dalam pemilihan pemimpin skala kecil seperti misalnya pemilihan kepala desa, tabel ini ditulis di papan tulis. Setiap pertambahan suara untuk tiap calon ditulis di papan tulis itu dengan tujuan agar semua pihak dapat melihat berapa suara yang diperoleh masing masing kandidat. Dengan transparannya proses penghitungan suara ini, semua pihak akan dapat menilai bahwa pemilihan ini berjalan dengan jujur.

Sekarang mari kita asumsikan ada sebuah desa yang sangat luas berpenduduk padat, dengan tempat pemungutan suara (TPS) di banyak tempat. Jika pemungutan suara dilakukan di banyak TPS yang saling berjauhan, dan suara pemilih dihitung di masing masing TPS, maka di masing-masing TPS tersebut perlu ada papan tulis tabulasi. Suara hasil tabulasi di tiap TPS ini ditulis dalam selembar kertas untuk dikumpulkan di pusat penghitungan suara di Balai Desa. Disanalah dilakukan tabulasi tingkat kelurahan, dengan menjumlahkan suara dari masing masing TPS.

Di Balai Desa pun perlu ada papan tulis tabulasi untuk menghitung suara dari masing masing TPS tadi. Dengan menuliskan suara masing masing TPS di papan tulis Balai Desa, warga desa bisa mencocokkan hasil perhitungan di TPS-nya dengan data yang ada di papan tulis. Jika ada perbedaan, semua orang desa bisa mengetahuinya dan melapor ke petugas Balai Desa agar dilakukan koreksi. Dengan adanya papan tulis ini, fungsi kontrol terhadap proses penghitungan bisa dilakukan oleh seluruh warga desa, bukan oleh sekelompok elit desa tertentu saja.

Sekarang, bayangkanlah bahwa desa itu bernama Indonesia, dengan jumlah pemilih sekitar 130 juta orang. Jumlah TPS nya sekitar 575 ribu. Balai desanya adalah KPU dan papan tulisnya diberi nama Tabulasi Nasional Pemilu (TNP). Papan Tulis TNP ini memuat data dari semua dan setiap TPS di seluruh Indonesia. Papan Tulis ini dapat dilihat oleh seluruh warga Indonesia untuk dijadikan sebagai alat kontrol. Warga diharap mencocokkan data TPS-nya dengan data yang ada di Papan Tulis. Jika ada perbedaan, maka warga wajib melaporkannya ke KPU supaya diusut. KPU sudah mempunyai prosedur untuk melakukan pengusutan ini. Tanpa adanya Papan Tulis ini, warga akan sulit mengetahui apakah data TPS-nya sampai ke KPU dengan selamat tanpa dimanipulasi di tengah jalan.

Bentuk Papan Tulis nasional ini adalah berupa website yang bisa diakses melalui Internet dengan alamat: http://tnp.kpu.go.id. Data di dalamnya adalah hasil kerja para operator data-entry yang memasukkan data dari setiap kecamatan melalui komputer dan saluran telekomunikasi yang telah disiapkan. Teknologi Informasi (TI) sangat dibutuhkan untuk mewujudkan Papan Tulis nasional tersebut. Dengan Teknologi Informasi yang saat ini digunakan, dalam sehari saja KPU sudah dapat mengumpulkan data lebih dari 100.000 (seratus ribu) TPS, atau sekitar 20% dari total jumlah TPS yang ada.

Seperti halnya papan tulis yang bukan merupakan dokumen hukum, begitu jugalah website TNP ini. Bukti hukum yang bisa disahkan sebagai hasil pemilu adalah dokumen resmi berupa surat suara maupun kertas formulir hasil rekapitulasi perhitungan manual yang mengandung tanda tangan otentik dari petugas dan para saksi. Website TNP hanyalah alat bantu untuk memastikan bahwa dokumen (resmi) manual tersebut tidak dimanipulasi di tengah jalan.

Banyak pihak yang tidak tahu dan menyangka bahwa TNP hanya menghasilkan data yang berjalan di running text televisi. Data running text ini sebenarnya hanyalah sebagian kecil saja dari keseluruhan informasi yang ada di website TNP. Data yang lebih penting dilihat adalah data per TPS, kelurahan dan kecamatan. Seharusnya data inilah yang diperiksa oleh warga, supaya kalau terjadi perbedaan dengan bukti otentik yang mereka punyai, bisa segera diusut dan dikoreksi oleh KPU. Selama ini KPU sudah banyak menerima laporan mengenai adanya perbedaan antara data di TNP dengan bukti otentik di lapangan. Laporan tersebut sudah ditidaklanjuti dengan prosedur khusus yang telah disiapkan. Masuknya laporan perbedaan data ini menunjukkan bahwa fungsi TNP sebagai alat kontrol masyarakat terhadap proses pemilu telah berjalan dengan baik. Bisa dikatakan bahwa dengan Teknologi Informasi yang digunakan KPU di pemilu kali ini, fungsi pengawasan terhadap pengolahan data suara dilakukan secara langsung oleh anggota masyarakat dan bukan oleh elit politik tertentu saja.

UPAYA UPAYA MENGHANCURKAN SISTEM IT KPU

Bagaimana dengan komentar-komentar terhadap sistem TI KPU di atas?

Tuduhan pertama: Sistem IT KPU sudah di set hasilnya dari awal untuk memenangkan calon presiden tertentu. Buktinya prosentasi suara yang ditampilkan dimana mana selalu sama dan stagnan.

Sedikit pemahaman matematika sudah bisa membuktikan bahwa tuduhan tersebut terlalu berlebihan. Coba kita bayangkan, jika surat suara total saat ini sudah mencapai 100 juta surat suara, maka 1% dari 100 juta adalah satu juta. Jika seorang capres ingin mendapatkan kelebihan 1% dari prosentase total dalam sehari, maka dalam sehari harus ada lonjakan suara capres tersebut atas capres lain sebanyak satu juta suara. Lonjakan suara sebesar ini memang sangat sulit terjadi di hari hari terakhir penghitungan suara, kecuali jika ada kecurangan besar besaran yang kemudian diketahui dan suara asli dikembalikan kepada capres yang berhak.

Tuduhan kedua: Sistem IT KPU adalah bagian dari skenario pembentukan opini masyarakat untuk memenangkan calon presiden tertentu. Buktinya perhitungannya sama saja dengan QuickCount lembaga survey tertentu.

Tuduhan tersebut adalah tidak pada tempatnya dan berasal dari logika terbalik dalam mendudukkan perkara. Pertama, perhitungan data KPU dilakukan setelah selesai pemilu, bukan seperti polling yang dilakukan sebelumnya. Jadi tidak mungkin opini terbentuk oleh data KPU. Kedua, pada dasarnya, sebuah hasil survey hanyalah perkiraan terhadap suatu hasil perhitungan yang sebenarnya. Tujuan dilakukan survey adalah mengetahui hasil perhitungan dengan lebih cepat tanpa perlu repot-repot mengumpulkan 100% data. Bagaimanapun juga, hasil perhitungan yang sesungguhnya adalah yang berasal dari 100% data. Hasil survey dinilai baik jika hasilnya mirip dengan hasil perhitungan 100% data tadi. Jadi, benar atau tidaknya hasil survey, adalah tergantung dari data yang 100%, bukan sebaliknya. Akan lebih sulit mencocokkan data yang lebih banyak dengan data yang lebih sedikit, apalagi kalau data yang lebih banyak tadi bisa dilihat oleh masyarakat luas. Akan lebih mudah sebaliknya, yaitu mencocokkan data yang lebih sedikit dengan data yang lebih banyak. Sistem QuickCount yang dilakukan oleh NDI bekerja sama dengan LP3ES tadinya bermaksud untuk melakukan sampling dari 2500 TPS, walaupun pada prakteknya terkumpul suara dari 1700 TPS saja, sementara data KPU adalah 500.000 lebih TPS. Dengan demikian, sulit diterima akal sehat jika data sampling yang hanya berasal dari ribuan TPS lebih dipercaya dari data asli yang jumlahnya ratusan ribu TPS. Terlepas dari persoalan bagaimana metodologi QuickCount dilaksanakan, kalaupun ada kemiripan antara hasil QuickCount dengan perhitungan KPU, maka penafsiran yang tepat bukanlah “hasil KPU yang menyamai hasil QuickCount” melainkan “hasil QuickCount yang berhasil menyamai hasil KPU” atau “hasil perkiraan berhasil menyamai hasil perhitungan yang sesungguhnya”.

Tuduhan ketiga: Sistem TI KPU adalah kalkulator yang terlalu mahal. Uang 200 Milyar rupiah terbuang sia-sia dengan alasan hanya untuk memberikan informasi cepat kepada masyarakat.

Tuduhan ini terlalu berlebihan. Sistem TI memang bisa menghitung suara, tapi bukan itu esensinya. Fungsi yang lebih utama adalah sebagai perpanjangan mata masyarakat terhadap proses perhitungan. Perhatikan kurs mata uang rupiah terhadap US dollar. 200 Milyar rupiah hanyalah sekitar 21 Juta dollar, yang biasanya hanya cukup untuk membangun sebuah sistem IT dari sebuah bank berskala nasional. Memang bagi kepentingan satu orang, 200 miliar adalah jumlah yang sangat besar, tapi bagi kepentingan nasional, jumlah itu tidaklah terlalu besar, apalagi jika dibandingkan dengan barang yang didapat berupa data center, komputer, printer, perangkat jaringan, perangkat dan sewa jalur telekomunikasi kabel dan satelit untuk 4000 lebih kecamatan di seluruh Indonesia. Selain itu, barang yang didapat dengan 200 miliar tersebut tidak hilang begitu saja setelah pemilu, tapi akan menjadi basis bagi sistem e-government Indonesia di masa depan. Uang 200 miliar ini jauh lebih murah daripada resiko yang harus ditanggung oleh bangsa Indonesia gara-gara kesalahan dan kecurangan dalam pemilihan presiden tidak bisa diketahui dan dikoreksi masyarakat secara langsung.

Tuduhan keempat : Sistem IT KPU penuh dengan kesalahan elementer yang seharusnya tidak terjadi pada sistem semahal ini. Kesalahan ini berbahaya karena dapat berpengaruh pada kestabilan kondisi politik indonesia. Karena itu sistem IT KPU perlu diaudit, dianggap tidak berguna dan kalau perlu ditutup.

Mengenai pendapat bahwa sistem IT KPU perlu diaudit, sebenarnya pendapat tersebut wajar dan sah-sah saja. Persoalannya adalah, sampai saat ini belum ada undang-undang yang mengatur mengenai hal itu. Jadi jika tuntutan itu dilakukan apakah tidak bertentangan dengan undang-undang? Jika sembarang orang bisa mengaudit sehingga mengetahui seluk beluk sistem IT KPU, bukankah data rahasia negara justru akan berada dalam posisi tidak aman?

Mengenai pendapat bahwa sistem IT KPU tidak berguna karena banyak mengandung kesalahan dan oleh karenanya lebih baik kalau ditutup atau dibatalkan saja, ini adalah pendapat yang menyesatkan. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa sistem ini adalah Papan Tulis Nasional yang dibuat supaya proses perhitungan bisa dikoreksi bersama oleh masyarakat Indonesia sehingga proses pemilihan orang nomor satu di Indonesia ini minim kesalahan atau kecurangan. Dengan demikian, jika terjadi kesalahan pemasukan data dan kemudian di perbaiki, maka itu artinya fungsi koreksi dari sistem ini berjalan dengan baik. Bayangkan apabila data yang masuk ke KPU tidak bisa dilihat oleh masyarakat, segala kecurangan dan kesalahan dalam proses perhitungan tidak bisa diketahui dan masyarakat hanya bisa pasrah menerima hasil perhitungan dari sekelompok elit politik tertentu saja.

Menutup dan membatalkan sistem IT KPU sama dengan menghilangkan hak rakyat untuk mengawasi pemilu. Ada beberapa kemungkinan kategori orang yang memiliki kepentingan seperti tersebut, yaitu:

1. Pihak yang memang telah melakukan kecurangan dalam pemilu dan takut kecurangannya segera diketahui masyarakat.

2. Pihak yang selama ini mengaku memiliki data rahasia pemilu dan menjualnya ke pihak pihak yang merasa perlu mengetahui “rahasia” tersebut.

3. Pihak yang berkeingingan menguasai data KPU demi kepentingannya sendiri terutama untuk mendapatkan keuntungan secara materi, sehingga masyarakat harus membayar untuk mendapatkan info mengenai hasil perhitungan suara yang dengan adanya sistem IT KPU bisa diperoleh secara gratis.

4. Pihak yang tidak mengetahui kondisi IT KPU yang sebenarnya dan secara tidak sadar larut dalam opini yang diciptakan ketiga pihak diatas.

Masyarakat seharusnya waspada terhadap adanya niat, argumentasi maupun usaha-usaha yang mengarah ke penutupan atau pembatalan sistem IT KPU yang menjadi Papan Tulis Nasional kita. Contohnya adalah kasus hacker yang tertangkap karena mencoba merusak sistem IT KPU. Upaya merusak seperti ini merugikan kepentingan nasional. Bisa dibayangkan apabila sistem itu berhasil dirusak, dampaknya akan sangat luar biasa terhadap kepentingan bangsa, termasuk citra Indonesia di mata internasional. Sayangnya ada pihak-pihak yang justru membela tindakan hacker ini dan malah menjadikannya alasan untuk mendiskreditkan, bahkan untuk meniadakan, sistem IT KPU. Usaha-usaha tersebut menjadi contoh upaya terorisme dan bisa jadi mewakili kepentingan pihak yang tidak menginginkan ikim keterbukaan dalam proses demokrasi dan reformasi di Indonesia berjalan dengan aman dan lancar. Upaya seperti ini seharusnya dikenai sanksi hukum oleh pengadilan, seperti halnya kasus hacker di Amerika (baca: www.detik.com, 17 Juli 2004 – Hacker Komputer Pemerintah AS Didakwa).

Sistem IT KPU, terlepas dari segala kekurangannya selama ini, adalah suatu bentuk pertanggungjawaban KPU kepada rakyat Indonesia sehingga rakyat terpenuhi rasa ingin tahunya terhadap hasil perhitungan suara, bahkan dapat mengawasi secara langsung dan ikut mengoreksi proses perhitungan suara. Dengan demikian, dapat dihasilkan pemilu yang lebih transparan dan lebih dapat dipertanggunjawabkan.

Kita perlu memberikan selamat kepada Tim IT KPU yang telah bekerja keras sehingga mendapat penghargaan dari dunia internasional, seperti yang telah disampaikan oleh menlu Hasan Wirayudha, yang mewakili pemerintah saat penutupan lokasi TNP di hotel Borobudur tanggal 16 Juli 2004. Dan yang lebih penting lagi, sistem IT KPU ini harus tetap ada dan disempurnakan untuk pemilu putaran berikutnya.




Posted at 10:06 pm by basuki1
Make a comment  

Nov 13, 2005
Mencoba Memahami Pengaturan Frekuensi


Artikel ini saya tulis pada saat memperjuangkan pasal Penyiaran Komunitas dalam RUU Penyiaran (2001-2002) yang kemudian menjadi UU no 32 tahun 2002.

Setelah hampir 3 tahun di keluarkan UU Penyiaran ini, Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Penyiaran Komunitas sampai saat ini juga belum keluar. Mudah mudahan secara dapat disahkan PP tentang Penyiaran Komunitas . Dan harapan kita , PP tersebut berpihak pada masyarakat di komunitas.


Mencoba Memahami Pengaturan Frekuensi

Basuki Suhardiman (CNRG-ITB)

Pengantar

Bayangkan bahwa ruang udara kita adalah sebuah ruang yang menampung gelombang elektromagnetik yang begitu luas dan saling tersambung hingga mencakup seluruh dunia. Gelombang elektromagnetik merupakan karunia alam yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari fenomena cahaya, radar cuaca, SAR (Search and Rescue) sampai ke dunia penyiaran.

Gelombang elektromagnetik mempunyai besaran fisika yang disebut frekuensi yakni seberapa banyak getaran gelombang tersebut per detik. Satuannya Hertz disingkat Hz (untuk menghormati Heinrich Hertz fisikawan yang menyelidik gejala ini). Kalau ada stasiun radio yang pemancarnya mengeluarkan gelombang radio yang bergetar sebanyak satu juta getaran per detik, siaran tersebut disebut bekerja pada frekuensi 1 Mega Hertz (MHz).

Setiap jenis gelombang elektromagnetik mempunyai frekuensi yang berbeda-beda. Cahaya merah frekuensinya lebih rendah daripada cahaya biru. Gelombang radio mempunyai frekuensi yang jauh lebih rendah daripada cahaya. Kita andaikan sebuah stasiun radio memancarkan siarannya dengan frekuensi tertentu. Saat kita mencari siaran stasiun radio tersebut, sebenarnya kita menala agar frekuensi pesawat penerima kita sama dengan frekuensi stasiun radio yang kita dengarkan. Sebuah pesawat penerima biasa tidak bisa menerima siaran dari dua stasiun radio yang bekerja di frekuensi yang berbeda secara bersamaan. Sebaliknya, dua buah stasiun radio yang bekerja di frekuensi yang sama sangat mungkin akan saling mengganggu. Kita akan sulit menerima siarannya karena suarany akan saling menumpuk. Secara teknis gangguan siaran ini disebut interferensi radio.

Untuk memudahkan konsep penggunaannya, besaran frekuensi radio digambarkan dalam sebuah spektrum frekuensi radio. Bayangkan sebuah penggaris 30 cm. Satuan-satuan milimeternya menggambarkan besaran frekuensi radio. Spektrum tadi dibagi-bagi lagi menjadi pita-pita atau ban frekuensi radio. Sebagai contoh, frekuensi radio antara 3-30 KHz disebut ban frekuensi ELF (Extremely Low Frequency), 30-300KHz disebut ban LF (Low Frequency), antara 3-30 MHz MHz disebut ban HF (High Frequency), antara 30-300 MHz disebut ban VHF (Very-high Frequency), antara 300-3 GHz disebut ban UHF (Ultra-high Frequency), antara 3-30 GHx disebut ban frekuensi SHF (Super-high Frequency) dan selanjutnya Extremely High Frequency. Penggolongan ban dengan pendekatan panjang gelombang biasanya dipakai di dunia penyiaran. Misalnya MW (medium wave) dan SW (Short Wave).

Karena ruang elektromagnetik mencakup seluruh jagat dan gelombang elektromagnetik khususnya ban frekuensi radio yang mampu bekerja di ruang tersebut terbatas, perlu pengaturan penggunaannya, maka dibentuklah suatu badan dunia untuk mengaturnya, yakni ITU (International Telecommunication Union). Melalui ITU dilakukan pengkoordinasian penggunaan frekuensi radio sehingga ranah publik yang terbatas itu dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan publik dunia. Pengaturan frekuensi di masing-masing negara diserahkan ITU pada pemerintah tiap-tiap negara tersebut.

Sedikit tentang Teknologi Radio

Sebelum membahas isu penggunaan frekuensi, perlu diterangkan secara singkat tentang teknologi radio. Suara seorang penyiar radio diubah oleh mikrofon menjadi sinyal listrik yang biasa disebut sinyal atau frekuensi audio dan diperkuat oleh sebuah unit penguat audio. Ibaratnya seseorang di Jakarta yang ingin sampai ke Bantul, ia harus menumpang kendaraan. Demikian pula untuk bisa didengarkan pendengar, sinyal audio si penyiar harus ditumpangkan ke kendaraan khusus yakni gelombang pembawa (carrier wave) berupa gelombang radio dengan frekuensi tertentu. Proses menyuntikkan atau menumpangkan sinyal/frekuensi audio ke sinyal/frekuensi radio disebut modulasi. Ada beberapa cara yang dipakai untuk menumpangkan muatan siaran ke gelombang pembawa. Cara pertama adalah menyuntikkan frekuensi audio lewat amplitudo (lebar getaran) gelombang radionya (amplitude modulation, AM). Cara yang mungkin paling kita kenal adalah penyuntikan sinyal audio ke besaran frekuensi radionya (frequency modulation, FM).

Salah satu isu penting yang kemudian muncul pada sistem penyiaran (broadcasting) di berbagai negara adalah penggunaan frekuensi pancar untuk penyiaran tersebut. Pada awal penggunaan radio sebagai media penyiaran digunakan frekuensi pada ban rendah (Low Band) yaitu sekitar 500 KHz yang saat ini sering disebut sebagai Medium Wave (MW) dengan modulasi yang dinamakan Amplitude Modulation (AM). Ban (pita) frekuensi tersebut masih digunakan oleh media penyiaran hingga saat ini. Selain ban frekuensi di bawah 1 MHz, frekuensi di atas 1 MHz juga digunakan untuk penyiaran. Ban di atas 1 MHz tersebut banyak disebut sebagai Short Wave (SW) karena menggunakan gelombang pendek. Gelombang radio sampai dengan kira-kira 30 MHz mempunyai sifat yang sangat menguntungkan teknologi penyiaran radio. Setelah terpancar dari antena, gelombang radio ini dipantulkan oleh lapisan ionosfir ke arah bumi kembali. Ada kemungkinan permukaan bumi akan memantulkannya kembali ke ionosfir lagi. Demikian proses ini bisa berkali-kali terjadi sehingga jangkauan dapat mencapai ribuan kilometer. Sedang Pemancar radio yang bekerja pada and MW, jarak jangkaunya hanya mencapai ratusan kilometer.

Perkembangan teknologi berikutnya mengarah pada penggunaan frekuensi radio di atas 50 MHz (pada ban VHF dan UHF) untuk berbagai keperluan, antara lain untuk penyiaran radio dan televisi. Alokasi yang ditetapkan secara internasional untuk penggunaan media penyiaran radio adalah 87 MHz – 108 MHz. Pada frekuensi tersebut modulasi yang digunakan adalah Frequency Modulation (FM). Salah satu keunggulan penggunaan modulasi FM ini adalah suaranya yang bersih. Ini disebabkan karena bandwidth (lebar ban atau pita frekuensi) yang digunakan setidak-tidaknya 100 KHz. Dengan lebar ban yang besar, suara yang dihasilkan menjadi jernih. Berbeda dengan modulasi AM, suara yang dihasilkan tidak sebagus modulasi FM.
Dewasa ini pemancar FM banyak digunakan untuk media penyiaran terutama di daerah perkotaan atau urban area. Perkembangan penggunaan frekuensi ini untuk media penyiaran ditunjang oleh banyaknya radio penerima (receiver) yang tersebar di mana-mana dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat. Pada perkembangan teknologi mutakhir, teknologi digital mulai memasuki pasar. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan frekuensi. Kendala pada sebuah radio digital terutama pada harganya yang masih relatif mahal dan masih sedikitnya pengguna radio dengan teknologi digital.

Model Pengaturan pada Band FM 87 – 108 Mhz

Pada saat ini ban frekuensi 87 Mhz sampai dengan 108 Mhz hampir habis dipakai oleh pemancar FM. Hal ini terutama dijumpai di kota-kota besar. Sedangkan, pada daerah-daerah di luar kota (sub-urban) atau di pedesaan, tidak banyak dijumpai pemancar FM. Dari sisi pertumbuhan Radio Komunitas yang mempunyai basis di daerah sub-urban, kenyataan ini cukup menguntungkan karena peluang untuk mendapatkan alokasi frekuensi lebih besar.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatur penggunaan frekuensi antara lain dengan melakukan pembatasan terhadap :

1. Daya pancar
2. Lebar pita frekuensi (bandwidth) yang diijinkan
3. Jarak antartitik pada penggunaan frekuensi yang sama
4. Penggunaan frekuensi pada suatu lokasi
5. Ketinggian antena

1. Daya Pancar

Suatu pemancar dapat dibatasi daya pancarnya. Daya pancar yang dimaksud adalah ERP (Effective Radiated Power). Kualitas penerimaan pada radio penerima yang digambarkan dengan besaran desibel (dB) serta daya jangkau pemancar yang kita dengarkan sangat bergantung pada beberapa besaran teknis yang antara lain daya pancarnya (dalam watt) serta frekuensi kerja pemancarnya sendiri (dalam MHz). Dengan prinsip di atas, sebuah pemancar secara eksak dapat dibatasi jangkauannya sesuai dengan ketentuan hukum yang disepakati. Sebagai contoh, pada sebuah pemancar dengan ERP 100 Watt dengan antena setinggi 30 meter misalnya, akan didapatkan jarak pancar sekitar 6 Km. Apabila daya ditambah, daya jangkaunya akan lebih jauh.

2. Lebar Pita Frekuensi yang diijinkan

Sudah menjadi sebuah ketentuan bahwa pada modulasi AM lebar pita modulasi tidak boleh lebih dari 20 KHz. Sedangkan pada modulasi FM lebar frekuensi yang dibutuhkan (biasanya disebut kanal) bisa mencapai 400 KHz. Ini terutama dibutuhkan oleh pemancar FM Stereo yang modulasinya memerlukan lebar pita (bandwidth) lebih besar daripada FM Mono. Frekuensi antara 87 Mhz hingga 108 Mhz secara teknis dibagi per 100 KHz (mulai 87.100 KHz hingga 108.000 KHz). Aturan baku tiap negara untuk penggunaan kanal ini berbeda-beda, Meksiko menerapkan lebar ban 87 KHz untuk FM Stereo, sedangkan di Amerika bisa sampai 200 KHz. Di Indonesia tidak jelas ketentuannya. Pada saat ini pemancar FM stereo kebanyakan menghabiskan lebar pita sebesar 350 KHz.

Lebar pita frekuensi ini harus segera ditertibkan. Tanpa ada penertiban, penggunaan frekuensi di FM akan boros . Oleh karena itu tidak heran kalau ada pemohon baru yang akan menggunakan frekuensi, alokasi frekuensinya dinyatakan telah habis. Seharusnya, lebar pita untuk masing-masing pemancar tidak lebih dari 200 KHz.
Sebagai contoh, suatu pemancar FM Stereo yang beroperasi pada frekuensi 100 Mhz (100.000 KHz) atau biasa disebut sebagai frequency center (frekuensi tengah), akan membutuhkan lebar pita sebesar 200 KHz untuk beroperasi. Untuk memperjelas pengertian ini kita andaikan lebar pita tadi dibagi menjadi dua bagian, yakni 100 KHz di bawah dan 100 KHz di atas frekuensi tengah. Konfigurasi lebar ban yang digunakan oleh pemancar tersebut adalah 100.000 KHz – 100KHz = 99.900 KHz (batas bawah atau left side) dan 100.000 + 100 KHz = 100.100 KHz (batas atas atau right side). Apabila lebar ban yang dikeluarkan pemancar tersebut tidak 200 KHz, misalnya 400 KHz, maka konfigurasi lebar ban yang dibutuhkan adalah 100.000 KHz – 200 KHz = 99.800 KHz (batas bawah atau sisi kiri) dan 100.000 KHz + 200 KHz = 100.200 KHz (batas atas atau sisi kanan).

Karena pertimbangan teknis, sebuah ruang frekuensi selebar 100 KHz harus dibebaskan dari frekuensi terdekat. Misalnya, pada contoh diatas, konfigurasi lebar pita bawah (left side) adalah 99.900 KHz, maka sebuah pemancar lain setidak-tidaknya harus beroperasi pada frekuensi tengah atau frekuensi pancar 99,700 KHz. Apabila digunakan bandwidth 400 KHz, maka frekuensi terdekat yang digunakan oleh pemancar lain tidak dapat beroperasi pada 99.600 KHz. Bila hal ini dilakukan akan terjadi interferensi (gangguan). Frekuensi terdekat yang dapat digunakan adalah 99,500 KHz (99,700 KHz – 200 KHz). Table A mungkin dapat membantu memahami komposisi atau jarak tersebut.
Sekali lagi, lebar bandwidth yang tidak terkontrol akan membuat boros penggunaan frekuensi. Apabila dapat diatur sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku secara internasional, pemborosan frekuensi tidak akan terjadi.


3. Jarak antar titik pada penggunaan frekuensi yang sama

Karakteristik gelombang pada frekuensi diatas 50 Mhz adalah line of sight atau gelombang yang dibatasi oleh jarak pandang mata. Secara teoritis gelombang ini daya jangkauannya tidak sejauh gelombang di band frekuensi MW atau SW walaupun daya pancarnya diperkuat terus. Suatu pemancar FM dengan daya 10 kilowatt pada suatu daerah urban dengan kontur yang datar, tidak akan dapat menjangkau daerah lebih dari 70 Km.
Apabila daya pancar dibatasi, jarak jangkauan pemancar akan dapat didefinisikan dengan pasti sehingga pada suatu lokasi, frekuensi yang digunakan tidak saling mengganggu. Agar satu tempat dengan suatu pemancar pada frekuensi tertentu tidak saling mengganggu dengan tempat lain pada frekuensi yang sama, ada jarak minimum yang dibutuhkan. Jarak minimum tersebut dapat ditentukan dengan mengatur daya pancar.

4. Penggunaan Frekuensi pada suatu Lokasi

Bila suatu pemancar pada lokasi tertentu memancar dengan frekuensi f atau pada kanal A, misalnya 87 Mhz, maka setidak-tidaknya harus ada beda sekitar 600 KHz dari frekuensi awal. Misalnya jika frekuensi 87.100 KHz diberikan pada suatu pemancar, maka untuk pemancar lain pada lokasi yang sama harus diberikan frekuensi: 87.700 KHz (87,100 KHz + 600 KHz ). Karena prinsip yang digunakan adalah third adjacent channel .

5. Ketinggian Antena

Sebagaimana sudah disebutkan terdahulu, karakteristik gelombang pada frekuensi antara 87 Mhz – 108 Mhz adalah line of sight. Gelombang Line of sight (LOS) ini sangat bergantung pada lengkung bumi. Untuk dapat menjangkau jarak yang lebih jauh, antena harus setinggi mungkin dari permukaan bumi. Untuk membatasi daya pancar dapat dilakukan dengan cara menerapkan aturan yang ketat terhadap ketinggian antena pemancar. Pemancar dengan ketinggian antena 30 meter dan daya pancar 100 Watt (ERP), akan memiliki jarak pancar sekitar 6 Km.

JRKI & Low Power FM (LPFM)

Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dewasa ini sudah tersebar di Jawa dan memiliki anggota yang lumayan besar. Rata-rata di Jawa Barat, Yogya, Jawa Timur, dan Jawa Tengah terdapat lebih dari 30 radio komunitas. Penyiaran yang dilakukan oleh komunitas diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna suatu komunitas (sebagaimana telah banyak dibahas pada bagian awal buku ini). Umumnya radio komunitas ini menggunakan pemancar FM dan FM Stereo.

JRKI sangat memperhatikan aspek-aspek pengaturan teknis dari pemancar karena mereka tidak ingin mengganggu pemancar-pemancar FM yang telah ada. Di sisi lain, pemancar- pemancar FM yang telah ada sebelumnya juga harus mengkalibrasi kembali faktor tersebut di atas sehingga tidak menimbulkan interferensi terhadap pemancar-pemancar lain. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah diharapkan dapat menjadi regulator yang adil bagi semua pihak.
Konsep yang diajukan oleh JRKI adalah penggunaan Low Power FM (LPFM) untuk memenuhi kebutuhan komunitas akan informasi dari, oleh, dan untuk komunitas itu sendiri. Low Power FM adalah pemancar FM berdaya pancar relatif rendah terhadap pemancar- pemancar FM yang ada, dan memiliki jangkauan yang terbatas pada suatu komunitas tertentu. Konsep LPFM ini diadopsi dari konsep FCC (Federal Communications Commission) di Amerika Serikat yang digunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan komunitas. Selain di Amerika Serikat, banyak sekali negara lain seperti India, Srilanka, Brasil, Kanada dan negara negara di Afrika yang menggunakan konsep LPFM ini. Komunitas yang dimaksud di sini adalah suatu komunitas yang menempati suatu wilayah geografis tertentu (lihat analisis pada bagian terdahulu dari buku ini).

Pada sistem LPFM ini, daya pancar yang diijinkan -yang di definisikan sebagai Effective Radiated Power (ERP) atau daya pancar efektif- adalah 100 Watt dan dengan ketinggian antena dari permukaan tanah berkisar 30 m (ini bergantung kontur suatu daerah). Secara teknis, daerah jangkauannya berkisar 6 km dari titik pancar.

Radio komunitas di daerah-daerah di Pulau Jawa yang tidak membutuhkan jangkauan terlalu jauh dan penduduknya cukup padat lebih baik menggunakan FM daripada AM. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut:

1. Sulit untuk mengontrol jarak pancar AM walaupun dengan daya pancar yang sama. Hal ini disebabkan karakteristik gelombang yang berbeda. Pada FM 87 – 108 Mhz, gelombangnya mempunyai karakter Line of Sight (LOS), dan sangat dipengaruhi oleh lengkung bumi. Sedangkan di AM, gelombangnya memantul di lapisan ionosfir sehingga jarak jangkaunya bisa sampai puluhan kilometer untuk daya yang sama.

2. Radio di frekuensi FM pemancarnya murah dan tidak sulit membuatnya.

3. Radio di frekuensi FM tidak terpengaruh cuaca. Sedangkan di AM, karena memantul di lapisan ionosfir menjadi terpengaruh oleh cuaca.

Referensi

1. http://www.itu.int
2. http://www.fcc.gov/fcc-bin/audio/lpfm.html
3. http://www.unesco.org/webworld/public_domain/kothmale.shtml
4. http://www.kothmale.net/

Posted at 09:42 pm by basuki1
Comment (1)  

Nov 12, 2005
Klassifikasi Boulding untuk hierarki model suatu sistem

Salah satu dasar dalam sebuah sistem adalah bagaimana suatu struktur sebuah sistem terbentuk. Ada banyak sekali model model yang di ungkapkan dalam pembentukan sistem, akan tetapi kebanyakan referensi menggunakan pendekatan/model yang digunakan oleh Boulding terutama untuk sebuah kompleks sistem.

Boulding memberikan 9 tingkatan dalam sebuah sistem.
Seperti yang tertera di bawah ini :


Boulding’s classification model for a hierarchy of system levels

1. First level is that *static stucture. *It might be called the
level of frameworks; for example, the anatomy of the universe.

2. The Next level is that of the *simple dynamic system* with
predetermined, necessary motions. This might called the level of
clockworks.

3. Third level is the *control mechanism*, or *cybernetic system*,
which might nicknamed the level of the thermostat. The system is
self regulating in maintaning equilibrium

4. The Fourth level is that the “*Open System*” or self maintaining
structure. This is the level at which file begins to
differentiate from not-life; it might be called the Cell.

5. the next level might be called the *genetic-societal* level; it
is typified by the plant, and it dominates the empirical world of
the botanist.

6. the animal system level is characterized by *mobility*,
*teleological behaviour* and *self-awareness*

7. The next level is the “*human*” level, that is, of the individual
human being considered as a system with self-awareness and the
ability to utilize language and symbolism

8. *the social system *or systems of human organization constitute
the next level with the consideration of the content and meaning
of messages, the nature and dimensions of value system, the
transcription of images into historical record, the
symbolizations of art , music and poetry, and the complex gamut of human
emotion.

9. *Transcendental systems* complete the classification of levels,
These are the ultimate and absolutes and inescapables and
unknownwable , and the also exhibit systematic structure and
relations.


Dari klassifikasi boulding ini , sebenarnya kita bisa melakukan analisis mendalam terhadap suatu organisasi (dalam bentuk apapun) , apakah masih pada tingkat 1, 2 ,3 atau 9.


Posted at 07:00 pm by basuki1
Make a comment  

Nov 11, 2005
JURNALISTIK DAN SASTRA

Saya banyak belajar dari Mas Bob (Priyambodo) tentang Media Massa dan itu juga yang menggiringku untuk mempelajari teori Informasi , terutama berkaitan dengan human communication (theories of human communication, stephen w littlejohn). Salah satu tulisan mas Bob adalah Jurnalistik dan Sastra, menarik untuk disimak bagaimana seorang wartawan terutama wartawan Investigatif bekerja. Tetap menggunakan metodologi Ilmiah yang seharusnya digunakan oleh semua Wartawan, dan setidak tidaknya tetap menganut prinsip 5W dan 1 H.


Tulisan mas bob juga saya sebarkan via http://www.jrsp.org/

JURNALISTIK DAN SASTRA
Written by Priyambodo RH : LKBN Antara


PENDAHULUAN

Khalayak umum seringkali menjumpai istilah jurnalisme, jurnalistik dan jurnalis. Sepintas kelihatan sama, yakni berkaitan dengan apa yang sering disebut dunianya wartawan. Tetapi, mereka tidak sedikit yang justru bingung dan sulit membedakan makna dari tiga istilah tadi.

Gampangnya, jurnalisme dapat diartikan secara umum sebagai ”dunia kewartawanan”, sedangkan jurnalistik adalah “ketrampilan/kecakapan menjadi wartawan”, adapun ”jurnalis” menjadi sebutan lain dari ”si wartawan”.

Kalau menengok sejarahnya, maka dunia kewartawanan dalam teori klasik mengambil dari bahasa latin kuno yang asalnya kata ”Diurna” lantaran konon di zaman Yunani kuno ada media massa pertama bernama ”Acta Diurna”.

Kata ”Diurna” tersebutlah yang kemudian oleh masyarakat Eropa disebut menjadi ”Journal” dalam bahasa Inggris, atau ”Jurnal” (bahasa Belanda), atau ”de Journale” (bahasa Perancis). Bagi masyarakat Indonesia istilah Jurnal lebih dikenal akrab, yang maknanya antara lain ”laporan”.

Namun, dunia kewartawanan mensyaratkan bahwa jurnal (laporan) yang dibuat oleh wartawan yang memiliki ketrampilan/kecakapan harus dipublikasikan melalui sarana yang pada gilirannya disebut media massa. Sementara itu, laporannya tersebut dikenal sebagai ”berita” (news).

Berita inilah yang membedakan dengan berbagai jenis laporan lainnya. Berita harus dipulikasikan melalui media massa, atau ada sarana yang membuat publik mengetahuinya. Bahkan, berita harus memiliki sifat ”menyajikan sesuatu yang baru” atau setidak-tidaknya menyangkut ”hal baru untuk menjelaskan sesuatu yang sebelumnya telah diketahui umum”. Itu sebabnya, berita disebut juga ”news” (bahasa Inggris) yang merupakan kosa kata latin ”nuvo” yang artinya ”baru”.

Pada prakteknya, khalayak juga senantiasa menantikan apa yang disebut berita lantaran ingin mengetahui tentang sesuatu yang baru. Kalau media massa gagal menyajikan unsur kebaruan, maka masyarakat sering menyebut sajiannya ”berita basi”.

Sementara itu, wartawan yang memiliki ketrampilan/kecakapan dalam prosesnya membuat berita disebut juga sedang melakukan ”peliputan” atau sering disebut juga ”reporting” (bahasa Inggris). Makna dan pada prakteknya, reporting sama dengan ”jurnal”.

Kemudian, wartawan yang melakukan proses peliputan masing-masing memiliki bidang sesuai dengan kebijakan lembaga media massa tempatnya bekerja. Secara umum, wartawan melakukan proses peliputan dengan melakukan wawancara, menelaah data, dan mencari informasi lain yang disajikannya dalam bentuk tulisan.

Hasil liputannya itulah yang kemudian disajikan sesuai karakter masing-masing media massa. Dalam media cetak (press) dikenal dengan sebutan berita tulis atau berita foto (kalau berupa gambar), sedangkan di radio mendapat sebutan berita suara (audio). Adapun di televisi disebut tayangan berita suara dan gambar (audio visual).

Dalam perkembangannya sejauh ini, wartawan juga sering melakukan liputan khusus yang disebut liputan selidik (investigative reporting) lantaran ada topic tertentu dalam penilaian pemegang kebijakan di satu media massa dianggap perlu dilaporkan secara khusus. Misalnya, kasus penyalahgunaan wewenang Presiden Nixon di Amerika Serikat (AS) yang dikenal dengan sebutan “Watergate”, atau skandal sex Presiden AS, Bill Clinton dengan sekretaris magang bernama Monica Lewinsky yang sempat menyita perhatian publik dunia.

Peliputan Selidik (investigative reporting) dan Jurnalistik Sastra (literacy journalism) hingga saat ini posisinya sering ditempatkan secara dilematis atau mendua, di antara sesuatu yang dianggap hebat dan dicerca.

Banyak orang –termasuk di kalangan pers—menempatkan peliputan selidik sebagai pekerjaan yang hebat karena proses dan hasil kerja yang harus ditempuh oleh wartawan sebagai pelaku liputan relatif sulit, memakan waktu dan dana. Bahkan, wartawan yang terlibat seringkali harus berhadapan dengan apa yang dinamakan “konflik kepentingan” (conflict of interest) dari berbagai pihak.

Konflik kepentingan itulah yang membuka peluang bahwa proses dan hasil kerja dari peliputan selidik menjadi sering dicerca anggota masyarakat –juga oleh para wartawan lain—karena dampak dari berita yang dipublikasikan senantiasa “memakan korban”, bahkan tanpa ampun.

Oleh karena itu ada sejumlah “kalimat mutiara” tentang peliputan selidik, antara lain:

“Wartawan peliputan selidik memiliki kecenderungan seperti ikan piranha, mereka akan mengejar apa saja yang mengeluarkan darah.” (Ben J. Wattenberg)

“Jurnalisme tidak bekerja seperti senapan. Jurnalisme bekerja lebih mirip mortir.” (Murray Kempton)

Salah satu contoh dari peliputan selidik hingga saat ini adalah keberhasilan Bob Woodward dan Carl Bernstein yang “memakan” Presiden Amerika Serikat (AS) Richard Nixon, sehingga harus “rela” mundur dari kursi kepresidenan, dan digantikan oleh Gerald Ford pada 9 Agustus 1974. Padahal, upaya Woodward dan Bernstein untuk mengungkap kasus “Watergate” dimulainya pada medio Juni 1971.

Usai peliputan selidik itu, dunia pers –terutama di AS—seperti kerasukan apa yang dinamakan “menggugat kembali kebebasan pers atas dasar liberalisme informasi.” Apalagi, di AS sejak awal 1970 pertumbuhan industri pers menimbulkan persaingan yang makin tajam. Dan, peliputan selidik adalah salah satu resep untuk meraih oplah terbesar. Repotnya, insan pers di sejumlah negara –termasuk di Indonesia-- ada yang berkiblat tentang kebebasan pers di AS secara hitam putih, sehingga sering terkesan membabi-buta.

Padahal, peliputan selidik telah berlangsung sejak lama. Peliputan semacam itu dalam sejarah pers dunia sudah ada jauh sebelum era Woodward dan Bernstein. Oleh karena itu, masyarakat umum dan kalangan pers sering melontarkan, “Peliputan selidik dalam perjalanannya demi kepentingan publik atau justru kepentingan bisnis pers?.”

PELIPUTAN BERMETODA ILMIAH

Professor Leonard Sellers, Guru Besar Ilmu Komunikasi/Jurnalistik di Universitas San Fransisco (AS), mengemukakan: “Wartawan peliputan selidik adalah wartawan yang berusaha menyingkapkan informasi yang sengaja ditutup-tutupi, karena informasi tersebut melanggar hukum atau etika.”

Berdasarkan dari pendekatan yang diajukan oleh Prof. Sellers, maka terkesan bahwa peliputan selidik tidaklah terlampau sulit. Padahal, banyak wartawan sulit menjalaninya. Bahkan, tak sedikit pula para pemimpin redaksi yang sangat selektif untuk menugasi wartawannya melakukan liputan selidik, dan mereka menyerahkan hal ini kepada yang benar-benar ahli.

Pada kenyataan di lapangan jurnalistik, wartawan liputan selidik sedikit-banyak atau terasa ataupun tidak harus memahami dan menjalani tahapan yang dari pendekatan ilmu pengetahuan dikenal dengan istilah Metoda Ilmiah.

Wartawan peliputan selidik sah-sah saja bergaya “cuek” (acuh tak acuh) dan tahapan kerjanya terkesan serabutan. Namun, jika ditilik lebih jauh lagi, mereka justru menjalani satu kaidah metoda ilmiah yang antara lain memiliki tahapan:

1. Mencari/mendapatkan masalah.

2. Memfokuskan permasalahan inti melalui observasi/wawancara.

3. Menyusun hipotesa/asumsi untuk menentukan motif dan latar belakang masalah inti.

4. Mengkaji, memilah, dan menyusun keterkaitan data/informasi.

5. Menulis hasil temuannya dengan kaidah jurnalistik.

Dalam menjalani metoda tersebut, wartawan peliputan selidik sering berhadapan dengan sejumlah bahaya berupa sulitnya mencari nara sumber yang mau “buka mulut”, namun ada kalanya banyaknya nara sumber yang terlalu ingin memberikan informasi tanpa nilai apapun.

Banyaknya nara sumber –terutama di bidang politik, atau politik-ekonomi-- yang ingin “berbagi” informasi, bagi warawan tersebut perlu diwaspadai karena mereka lebih banyak yang sekedar mencari kepentingan pribadi. Sementara itu, nara sumber bernilai cenderung tersembunyi di antara hiruk-pikuknya gosip yang terus berhembus.

Selain itu, nara sumber penting untuk mengungkap permasalahan dalam peliputan selidik seringkali merasa harus sembunyi karena merasa memiliki banyak informasi, namun mereka “tidak memiliki restu” dari pihak yang lebih tinggi.

Istilah “dengan restu” (by authority) itulah yang dicatat William L. Rivers dan Cleve Mathews dalam buku “Ethics for the Media” terbitan Prentice-Hall Inc, New Jersey, (AS) pada tahun 1988 sebagai sesuatu yang justru mengawali keberanian pers AS untuk menembus birokrasi informasi dengan menerapkan apa yang kemudian dikenal sebagai Peliputan Selidik (Investigative Reporting).

Awalnya, Benjamin Harris di tahun 1690 menerbitkan artikel pertama dan terakhirnya bertitelkan “Public Occurrences, Both Foreign and Domestic” yang intinya melontarkan kritik tentang keberadaan paham kolonialisme di Amerika.

Artikel tersebut membuat marah para petinggi, termasuk “General Court of Massachusetts” (setingkat Gubernur Jenderal zaman kolonial Belanda) sehingga surat kabar Benjamin Harris dibreidel dengan alasan “meresahkan masyarakat”.

Keadaan semacam itu berlangsung cukup berkepanjangan di AS, sehingga pada tahun 1721 James Franklin –kakak kandung Benjamin Franklin (1706-1790) ilmuwan dan penulis yang pernah menjadi Presiden AS—menerbitkan surat kabar “New England Courant” yang sejak terbit sudah menyuarakan sikap oposan kepada Pemerintah AS dengan alasan “demi tegaknya jurnalisme perjuangan.”

Akibat dari sikap tersebut, James Franklin sempat mendekam di penjara untuk beberapa lama. Namun, sikapnya ibarat “bensin dalam api semangat pers AS” karena perkembangan pers bebas dengan pola peliputan selidik kian menjamur. Bahkan, wartawan mulai mengembangkan pola pemberitaan yang cepat, akurat, lengkap, dan cenderung “memakan korban.”

Sekalipun demikian, gaya kebebasan pers ala “cowboy” seringkali menjadi “kebablasan” (keterusan) dan meresahkan. Oleh karena itu, Presiden AS Theodore Roosevelt pada tahun 1906 pernah melontarkan kritik: “Penulis yang sibuk mengais-ngais keburukan masyarakat hingga lupa untuk melihat keadaan sekelilingnya.”

Roosevelt, yang juga penulis dan petualang di alam bebas, melontarkan kritik tersebut kepada David Graham Phillip yang secara berseri menulis tentang sejumlah keburukan anggota senat yang dituangkan dalam artikel bertitel “The Treason of the Senate.”

Gejala perdebatan tersebut ditangkap oleh Webster –pakar bahasa, penulis kamus—yang menuliskan istilah “muckrake” untuk mengartikan: “mencari-cari, menyoroti, atau menunjukkan adanya korupsi, dengan bukti nyata atau hanya berdasarkan dugaan, oleh publik dan badan usaha.”

Sementara itu, kalangan pers AS pada era Roosevelt justru banyak yang membenarkan sikap presidennya yang lebih menyukai sistem pengawasan pers secara seimbang dengan mengutamakan kepentingan semua pihak. Kala itu, Roosevelt memang dikenal sebagai Presiden AS yang dekat, bahkan akrab dengan pers. Buktinya, semua anggota Korps Wartawan Kepresidenan AS dapat bermain-main dengan cucu Roosevelt di Gedung Putih.

Namun, banyak wartawan AS yang kemudian –pasca-Roosevelt—berpendapat: “Kini masalahnya sudah berubah. Apakah semua Presiden bisa akrab dengan pers seperti Roosevelt?”

Bahkan, secara lebih tegas Joseph Alsop pernah mencatat: “Semua pemerintahan menyebarkan dusta, bahkan beberapa di antaranya berdusta lebih banyak daripada yang lain.” Inilah salah satu puncak ungkapan jenis pekerjaan di kalangan wartawan peliputan selidik di AS.

Sementara itu, Albert L. Hester selaku wartawan senior dan pakar ilmu komunikasi dari Universitas Georgia (AS) yang menaruh minat terhadap perkembangan pers di negara-negara berkembang mengemukakan bahwa peliputan selidik cenderung lebih sulit dilakukan bila sistem pers menjadi bagian yang erat menyatu dengan pemerintahan nasional.

“Meskipun di Dunia Ketiga pers terpisah dari pemerintah nasional, namun ide untuk benar-benar melakukan ‘penyelidikan; menjadi sesuatu yang selalu mengernyitkan kening,” catatnya dalam buku “Handbook for Third World Journalists”, terbitan The Center for International Mass Communication Training and Research, Universitas Georgia, pada 1987.

Walaupun demikian, menurut Hester, peliputan selidik di negara berkembang tetap dapat dilakukan. Bahkan, wartawan peliputan selidik di negara berkembang seringkali memiliki kegigihan yang tak kalah dibanding rekan mereka di negara yang lebih mapan.

Lebih jauh, Hester membedakan peliputan selidik dengan peliputan biasa. Hal itu disusunnya atas dasar bahwa peliputan selidik adalah:

1. Biasanya dilakukan dengan pikiran bahwa hasilnya akan menimbulkan satu tindakan dengan asumsi dasar: “Perubahan harus dilakukan.” Namun, peliputan selidik ada kalanya justru memperteguh apa yang sudah dilakukan dan dihargai oleh masyarakat.

2. Biasanya format laporan (tertulis maupun foto) peliputan selidik lebih panjang dan memerlukan waktu penyelesaian lebih panjang, serta dana lebih banyak.

3. Biasanya peliputan selidik memerlukan kesatuan pendapat di kalangan manajemen lembaga pers dimana wartawan peliputan selidik bekerja. Hal ini banyak berkaitan dengan risiko tanggung jawab yang pada akhirnya harus ditanggung.

4. Biasanya peliputan selidik juga menyangkut “paket promosi” dari media massa sebagai satu bagian dari wujud pers industrialis.

5. Biasanya peliputan selidik akan memanfaatkan pula foto dan illustrasi guna mempermudah pemahaman masyarakat untuk menerima sesuatu yang sulit diterima akal, atau dengan kata lain mengungkap fakta, data, dan informasi dengan berbagai cara agar hasil liputan menjadi akurat dan lengkap.

6. Biasanya para redaktur dan penananggungjawab peliputan selidik lebih melibatkan wartawan terbaiknya, karena kegiatan ini senantiasa dianggap berisiko dan memerlukan kreativitas tinggi.

Al Hester dalam serangkain catatannya itu paling tidak menyiratkan bahwa mereka yang terlibat dalam peliputan selidik –wartawan, redaktur, hingga pemimpin redaksi-- senantiasa sepakat bahwa yang mereka kerjakan adalah kerja tim (team work) yang penuh risiko yang memeras keringat, menghabiskan waktu dan dana.

Selain itu, peliputan selidik senantiasa mementingkan “proses” dan “hasil” dalam posisi yang sama pentingnya, sehingga mereka yang terlibat harus benar-benar orang yang terlatih bekerja di bawah tekanan (under pressure person).

Peliputan selidik di negara berkembang, dalam penilaian Hester, terbuka peluangnya bila temanya berkaitan dengan permasalahan lingkungan hidup –seperti pencemaran, pemanfaatan pestisida, dan kebakaran hutan— ancaman musnahnya kebudayaan pribumi, urbanisasi, kedudukan kaum wanita, serta keluarga berencana.

PELIPUTAN SELIDIK BERETIKA

Wartawan peliputan selidik bernama Brit Hume pada tahun 1973 pernah berkomentar bahwa pekerjaan yang dilakukannya lebih banyak untuk mengungkap sejumlah “kebusukan” berkaitan dengan dusta dan korupsi. “Kebusukan itu harus dibongkar. Demi kepentingan masyarakat umum dan demi kepentingan kita sendiri,” tegasnya.

Dalam upaya mengungkapkan “kebusukan” tersebut, wartawan peliputan selidik pada tahap awal seringkali harus berhadapan dengan “konflik batin” akibat “konflik kepentingan”. Kepentingan di antara “kepentingan pribadi”, “kepentingan lembaga pers-nya”, “kepentingan publik”, dan “kepentingan nara sumber.”

Konflik semacam itu akan dengan mudah muncul, karena wartawan peliputan selidik lebih banyak harus “membuka sesuatu yang ditutup-tutupi”. Oleh karena itu, mereka untuk membuka kasusnya seringkali harus mendapatkan infomasi mulai dari cara “meminta”, “membeli”, “memaksa”, atau bahkan “mencuri” -nya.

Berangkat dari pekerjaan semacam itulah, wartawan peliputan selidik dituntut memiliki “etika di dalam maupun di luar etika”. Hal tersebut dapat diartikan bahwa mereka harus memiliki kreativitas untuk melakukan kegiatan pencarian data/informasi secara sah, dan bila harus melanggarnya, maka harus pula memiliki kreativitas lain guna menutupinya sekaligus mencari alasan yang jauh lebih cerdas dari kemungkinan tuduhan yang akan datang.

Untuk lebih memahami posisi tugas yang beretika di dalam maupun di luar etika, maka sejumlah wartawan peliputan selidik berpegang ke pendapat Edward R. Murrow:

“Agar meyakinkan, kita harus dapat dipercaya.

Agar dipercaya, kita harus dapat diandalkan.

Agar diandalkan, kita harus jujur.”

Sikap “meyakinkan, dipercaya, diandalkan, dan jujur” itulah yang sering diperankan oleh wartawan peliputan selidik. Dalam hal ini, mereka biasanya dengan mudah pula menilai apakah nara sumber yang ditemuinya memiliki kredibilitas atau tidak, berkompeten atau tidak, bahkan memiliki informasi penting atau tidak. Hal inilah yang oleh banyak orang disebut bahwa wartawan adalah penonton sekaligus pemain dari karakter kemanusiaan. Apalagi bagi wartawan peliputan selidik.

Dalam memainkan peran yang meyakinkan, dapat dipercaya, diandalkan, dan jujur, maka wartawan peliputan selidik dituntut mampu menempatkan dirinya bukan hanya sekedar “journalist” alias pelapor suatu peristiwa atas dasar kejadian/fakta. Namun, ia dituntut pula mampu menempatkan diri sebagai “agent” untuk menggali data/informasi penting, sekaligus menjadi “lobbyist” yang mampu bergaul dengan nara sumber penting.

Agar posisinya lebih luwes, wartawan peliputan selidik dalam mencari bahan berita/karangan khas/foto juga perlu memahami sejumlah kesepakatan dengan nara sumbernya. Kesepakatan itu antara lain berupa:

1. On the Record. Dalam hal ini wartawan dapat mengutip semua hal tentang nara sumber dan segala informasi yang dikemukakannya.

2. On Background. Dalam hal ini wartawan dapat mengutip semua hal menyangkut informasi yang diberikan nara sumber, namun jati diri nara sumber harus benar-benar dilindungi dengan alasan tertentu. Biasanya, wartawan cukup menyebutkan: “menurut sumber di Departemen X, …..”

3. On Deep Background. Dalam hal ini wartawan hanya dapat mengutip inti dari informasi yang didapatkan, tanpa dapat mengutip dalam kalimat langsung –dengan tanda kutip—informasi itu. Sementara itu, jati diri nara sumber harus dilindungi.

4. Off the Record. Dalam hal ini wartawan mendapatkan informasi yang sama sekali tidak boleh dipublikasikan dalam bentuk apapun. Bahkan, wartawan tersebut terikat etika untuk tidak mengembangkan informasi yang didapatkannya itu.

Empat kesepakatan di antara wartawan dengan nara sumbernya itu menjadi bagian etika pers yang senantiasa dijunjung tinggi. Dalam peran penuh “ikatan” –demikian wartawan sering menyebutnya—itu dapat diartikan sebagai “harga mati”.Namun demikian, pada perkembangannya banyak wartawan yang justru membatasi dirinya “hanya menerima kesepakatan nomor satu (On the Record) dan nomor dua (On Background)”, serta meninggalkan dua kesepakatan berikutnya. Mereka dengan berani langsung mengatakan, “Maaf, saya punya informasi lain” manakala ada nara sumber yang ingin menerapkan kesepakatan ketiga (On Deep Background) atau bahkan kesepakatan keempat (On the Record).

Mengapa wartawan itu bersikap demikian? Situasi dan kondisi semacam itu dilakukan oleh wartawan peliputan selidik untuk menghindari menerima informasi subyektif yang mengecoh. Oleh karena, kesepakatan untuk membuat berita hanya dengan mengetahui latar belakang tanpa ada nara sumber yang jelas menjadi “hal tercela, dan mengurangi kredibilitas” dari kaidah nilai-nilai jurnalistik bagi wartawan profesional. Hal ini pula yang antara lain melatarbelakangi sebagian besar Kantor Berita untuk menghindari publikasi berita tanpa nara sumber yang jelas.

“Katakanlah kebenaran, tetapi dengan membengkokkannya,” demikian pendapat Emily Dickinson menanggapi tentang pekerjaan politikus dan petugas hubungan masyarakat. Dan, hal ini pula yang senantiasa diwaspadai oleh wartawan peliputan selidik.

PELIPUTAN SELIDIK BERSASTRA

Dalam manajemen media massa modern ada istilah “proses dan hasil” peliputan selidik menempati posisi yang sama penting, karena keduanya adalah rangkaian pekerjaan yang penuh risiko dengan azas “demi kebenaran pers yang mengutamakan kepentingan publik”.

Bahkan, di kalangan pers ada guyonan sarkatis: “Jika saja ada orang lembaga pers yang menilai proses dan hasil pekerjaan peliputan –apalagi peliputan selidik— tidak dalam posisi penting, maka bisa dipastikan dia bukanlah bagian dalam sistem kerja jurnalistik atau bidang keredaksian, atau pun loper yang meneriakkan berita penting di keramaian jalan.”

Guyonan ala pers itu timbul, antara lain sebagai dampak dari pers industri yang seringkali menempatkan segi menarik keuntungan –sebagai bagian “hasil kerja” —menjadi lebih penting dibanding susah payahnya para wartawan –sebagai bagian “proses kerja” —berjungkir balik mecari bahan berita/karangan khas/foto.

Selain itu, pers dalam tatanan industri cenderung semakin menempatkan kolom iklan sebagai unsur pendapatan yang menopang kehidupan karyawan di organisasi pers bersangkutan. Padahal, sejarah pers belum pernah mencatat ada media massa khusus iklan, karena pariwara semacam itu justru hadir bila publik menyukai berita yang disajikan media massa.

Kecintaan publik terhadap media massa, antara lain karena mereka merasa mendapatkan informasi yang tepat, berkaitan dengan kepentingan mereka, ada informasi baru, memberikan hiburan, bahkan berisikan tentang berita-berita yang jujur. Dalam situasi dan kondisi semacam inilah peliputan selidik mendapatkan tempat, bahkan terhormat. Kenapa? Oleh karena, manusia secara naluriah tidak suka dibohongi, sehingga mereka ingin mengetahui rahasia orang lain.

Dalam kondisi penuh persaingan itu pula, wartawan –terutama wartawan liputan selidik—mendapat “beban” tambahan, yaitu bagaimana senantiasa dapat bekerja demi kepentingan organisasi media massanya sekaligus membuktikan diri bahwa dirinya sebagai “orang lapangan”-lah yang paling tahu tentang makna “demi kepentingan publik”.

Bagi wartawan peliputan selidik permasalahan terakhir yang tak kalah rumitnya dengan proses pencarian bahan berita/karangan khas/foto-nya adalah bagaimana menuangkan tulisan dari berbagai informasi penting.

Pola penulisan hasil peliputan selidik cenderung menjadi karangan khas (feature) karena mengutamakan kedalaman, berlatar belakang, dan memeras segala kemampuan berbahasa –terutama memainkan “diksi” atau pilihan kata—agar hasil karyanya dapat lebih dicerna publik, sekalipun permasalahan yang dikemukakan relatif rumit.

Banyak orang –termasuk wartawan pemula—beranggapan bahwa peliputan selidik senantiasa bertema dan mengundang permasalahan besar atau mengandung kontraversi, sehingga penulisannya pun lebih sulit.

Padahal, wartawan peliputan selidik akan lebih mudah menulis laporannya dengan lebih mengutamakan permasalahan kecil. Dengan kata lain, mereka justru memilih permasalahan yang terdekat dengan kepentingan umum.

“Think globally, act locally” (berpikir kesejagatan, bertindak lokal). Hal inilah yang lebih sering diikuti oleh wartawan peliputan selidik. Mereka berangkat menggali gagasan penulisan dari permasalahan keseharian, walaupun informasi yang mereka miliki bisa berdampak luas.

Tatkala harus mengemukakan permasalahan berat dengan bahasa ragam jurnalistik, maka wartawan tersebut akan lebih mudah jika mereka memanfaatkan perkalimatan bergaya bertutur, ada anekdot, memainkan alur cerita klimaks dan anti klimaks, sehingga pembaca seakan berhadapan dengan novel yang berangkat dari cerita asli.

Dari gejala semacam itulah, kalangan pers dan sejumlah pengamat mereka menyebut adanya Jurnalistik Sastra (literacy journalism).

Wai Lan J. To yang bekersama dengan Albert L. Hester menulis dan menyunting buku bunga rampai “Handbook for Third World Journalist” (1987) berpendapat bahwa jurnalistik sastra adalah salah satu upaya sistem pers untuk memperluas ruang lingkup dan keterampilan jurnalistik mereka setelah bergerak ke arah peliputan selidik.

Jurnalistik sastra di AS, menurut dia, dapat ditelusuri sampai ke tahun 1937 manakala Edwin H. Ford menyusun buku bertitelkan “A Bibliography of Literacy Journalism” terbitan Burgess Publishing Company, Minneapolis (AS).

Ford mencatat bahwa jurnalistik sastra dapat dirumuskan sebagai tulisan yang masuk dalam “kawasan senja” (batas akhir) yang memisahkan sastra dari jurnalisme. “Jurnalisme sastra adalah penghubung surat kabar dan sastra.”

Pada gilirannya, masyarakat AS pada era 1960-an menyebut langgam jurnalistik sastra sebagai Jurnalistik Baru (new journalism). Mereka agaknya lupa bahwa sejarah persnya melalui Edwin H. Ford sudah pernah menyebut kaidah yang sama.

Norman Sims dalam buku bunga rampai “The Literacy Journalists” terbitan Ballentine Books, tahun 1984, menulis bahwa jurnalistik sastra ataupun jurnalistik baru --seperti disebut pada era 1960-an-- tidak dirumuskan oleh kritikus, namun para penulisnya sendiri sudah menyadari bahwa karya mereka memerlukan pendalaman struktur, “suara”, dan ketelitian.

Dalam pengertian yang lebih mudah, pendapat Sims itu menunjukkan bahwa dasar dari jurnalistik sastra tidak berbeda dengan peliputan selidik, yaitu memiliki metoda ilmiah yang bertujuan memaparkan satu permasalahan kepada publik setelah menjalani kajian pembenaran. Kalangan pers mengenal salah satu bagian metoda ilmiahnya adalah “check and rechek” (periksa dan periksa lagi).

Secara terpisah, dalam penilaian Wai Lan J. To , di China jenis jurnalistik sastra juga berkembang relatif baik. Masyarakat pers China menyebutnya “Bao Gao Wen Xue” (literacy journalism atau jusrnalistik sastra).

Sebagaimana di AS, jurnalistik sastra di China juga merupakan proses kreatif para wartawan untuk mengungkap permasalahan yang perlu diketahui oleh publiknya dengan cara penyampaian menggunakan gaya bersastra. “Mereka menggunakan langgam sastra untuk mengungkapkan fakta aktual bernilai berita,” catat Wai Lan J. To.

Paling tidak, keberadaan peliputan selidik dan penuturan berlanggam jurnalistik sastra adalah upaya pers untuk memuasi kepentingan publiknya yang senantiasa haus akan kebenaran dan kejujuran, seperti juga kalimat bijak berikut ini:

“Seiring dengan pers yang bertanggung jawab, harus ada pembaca yang bertanggung jawab.” (Arthur Hays Suzberger)

“Pers selalu merangsang keingintahuan. Tak seorang pun pernah meletakkannya tanpa rasa kecewa.” (Charles Lamb)

Posted at 02:51 pm by basuki1
Make a comment  

Nov 10, 2005
Hari Pahlawan


Hari ini , 10 November 2005 , adalah hari Pahlawan. Hari ini ditetapkan sebagai hari Pahlawan oleh pemerintah karena suatu peristiwa pada tahun 1945 di Surabaya. Peristiwa di Surabaya ini memang patut menjadi catatan sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia dan juga pihak sekutu atau lebih tepatnya Inggris dengan seluruh kekuatan eks Perang Dunia II.

Perang di Surabaya ini menorehkan banyak hal , terutama semangat kolaborasi rakyat Indonesia untuk melawan pendudukan sekutu dan memerdekakan rakyatnya dari belenggu penjajah .
Pad Perang di Surabaya , ada beberapa hal yang menurutku mempunyai nilai atau value yang tinggi yang dapat dijadikan sebagai pelajaran oleh generasi muda.

1. Partisipatif seluruh rakyat Indonesia selain masyarakat Surabaya sendiri.
2. Munculnya kata kata "Merdeka atau Mati"
3. Penggunaan Pemancar Radio (teknologi) untuk memberikan semangat juang
4. Adanya beberapa tokoh yang mencul seperti Bung Tomo, Prof Dr Moestopo,
MayJend Sungkono , Doel Arnowo , dan Roeslan Abdul Gani.

Ada beberapa buku yang pernah ditulis berkaitan dengan peristiwa 10 November 1945 ini , akan tetapi ada satu buku yang menurut hemat saya paling lengkap mengungkapkan kejadian 10 November tersebut. Buku ini berjudul " 10 November 1945 Gelora Kepahlawanan Indonesia" oleh Brigjen Drg Barlan Setidijaya , yayasan 10 November 1945 , tahun 1992. Dalam buku tersebut diceritakan peristiwa 10 November tersebut mulai dari situasi pada saat menjelang perang dunia II hingga hari demi hari pertempuran 10 November hingga 30 November 1945.

Ada beberapa yang juga menarik , yaitu tewasnya beberapa Jenderal Sekutu dan yang paling membuat Sekutu marah adalah meninggalnya Brigjend A.W Malaby. Perisitiwa ini menjadi pemicu perang 10 November 1945 dan peristiwa ini baru akan secara resmi di ungkapkan oleh Pemerintah Inggris pada tahun 2020 atau 75 tahun setelah peristiwa tersebut. Menjadi pertanyaan besar , mengapa sebuah peristiwa harus dirahasiakan sampai 75 tahun ? Dapat dikatakan Kerajaan Inggris malu besar atas peristiwa 10 November 1945 ini.

Berikut ini kesaksian salah satu yang mengalami langsung peristiwa terbunuhnya Brigjend Mallaby yang diungkapkan oleh Mayjen TNI pur H.R Mohammad Mangoendiprodjo dalam buku 10 November 1945 , Gelora Kepahlawanan Indonesia.

" Dengan mengendarai mobil mobil para anggota kontak bereua berangkat dari kantor gubernur menuju utara , jurusan jembatan merah dimana masih terdengar suara suara tembakan senjata api.

Iring-iringan mobil diantaranya sebagai berikut :

Mobil pertama diisi oleh sepasukan kepolisian negara dengan membawa bendera merah putih besar. Kemudian bapak Soedirman dengan Brigjend Mallaby, disusul mobil saya bersama-sama dengan dua ajudan dari Mallaby dan seterusnya oleh mobil-mobil yang ditumpangi anggota lainnya.

Pada waktu rombongan datang dimuka gedung internatio, terdapat beratus ratus pemuda/rakyat bersenjata yang menuntut supaya pasukan musuh yang berada di dalam gedung meninggalkan tempat itu "tanpa membawa senjatanya", suatu penyerahan total.Menurut hemat saya, tuntutan rakyat tersebut sukar untuk dipenuhi, karena sepanjang sejarah militer belum pernah terjadi kaum militer menyerah tanpa syarat kepada rakyat biasa. Lebih lebih bila diingat bahwa lawan kita yang berada di dalam gedung adalah tentara yang keluar sebagai pemenang perang dunia II.

Walaupun demikian saya melihat cak Dul Arnowo yang namanya terkenal di kalangan masyarakat Surabaya, berusaha menenangkan rakyat dengan berdiri diatas kap mobil sebagai tempat berpidato. Tampaknya Cak Dul Arnowo berhasil sedikit demi sedikit menentramkan suasana. Kemudian setelah penerangan selesai, iring-iringan mobil meneruskan perjalanannya menuju jembatan merah yang letaknya sekitar 200 meter dari gedung internatio.

Jalannya mobil-mobil tidak dapat cepat, dikarenakan banyaknya manusia yang berada di jalan. Maka berhubung dengan itu , entah disebabkan karena sempitnya jalan ataukah memang ada sebab lain, saya tidak dapat menerangkan.Hanya dapat menyaksikan iring-iringan mobil berhenti dan rakyat yang semula di muka gedung internatio berbondong bondong memotong jalannya mobil menutupi jalan hingga rombongan kontak bereua terpaksa berhenti tepat dimuka jembatan merah

Keadaan sangat gaduh, yang saya lihat Jenderal Mallaby sudah berada di luar mobil yang ia tumpangi, sedang pistolnya sudah direbut oleh rakyat yang tampak sudah "sewotan" , sudah tidak dapat menggubris lagi nasehat dari kontak bureau, bahkan dianggapnya berusaha membantu musuh. Tuntutan rakyat sebagaimana yang sudah didesakkan di muka gedung internatio.

Brigjend Mallaby yang tampak setengah umur , menyanggupi permintaan rakyat, asalkan dia diperbolehkan memasuki gedung Internatio untuk memberikan perintah kepada anakbuahnya.Rakyat tampaknya mencurigai perwira tinggi Inggris itu, karena terdengar suara suara ," jangan yang tua , yang muda saja". Dengan menunjuk kepada perwira muda yang duduk satu mobil dengan saya, untuk mengatur penyerahan di dalam gedung confirm tuntuan rakyat.Sebagai wakilnya orang orang menunjuk saya untuk mengikuti perwira inggris itu ke dalam gedung. Pada waktu itu sudah hampir gelap, maka kita hanya diberi tempo 10 menit oleh rakyat untuk mengatur penyerahan. Walaupun saya mengerti bahwa tugas yang dipikulkan kepad saya mengandung bahaya besar, karena memasuki " het hol van de leeuw" (gua singa), tetapi rasa takut sedikitpun tidak ada. Perlu saya catat bahwa seorang warga India, saudara Kundan (alm) yang berfungsi sebagai jurubahasa mengikuti saya ke dalam gedung. Pada waktu itu kita bertiga menginjak pintu gerbang gedung internatio, saya harus menyerahkan pistol saya kepada penjaga yang bersenjata lengkap, kemudian mengikuti perwira Inggris itu naik ke tingkat dua. Datang di atas saya dipersilahkan menunggu dari luar kamar yang pintunya terbuka,kamar mana tampaknya seperti ruang kerja bagi pimpinan pasukan yang bermarkas di dalam gedung Internatio itu. Saya lihat perwira Inggris yang saya ikuti segera mengadakan hubungan telepon dengan markas besar mereka di jalan Westerbuitenweg Tanjung Perak. Tidak lama kemudian saya menyaksikan sebuah mortir kecil dipasang di muka jendela yang menghadap ke arah jembatan merah.


Ketika tempo 10 menit hampir habis,saudara Kundaan menyatakan dengan bisik bisik kepada saya bahwa ia mencurigai gerak gerik musuh yang ia tidak percayai. Sambil bisik bisikitu Kundan terus berdiri dan meninggalkan ruang tunggu.Sebenarnya saya juga berdiri hendak mengikuti saudara kundan, akan tetapi segera ada dua orang serdadu musuh berjongkok di hadapan saya bersenjata otomatik dan memberi isyarat kepada saya supaya tetap duduk. Saya mengerti bahwa saya menjadi tawanan.

Karena pintu tetap terbuka , maka saya dapat menduga bahwa peluru mortir yang dipasang di muka jendela itu ditujukan kepada iringan mobil di dekat Jembatan Merah. Mungkin dengan tujuan bila peluru mengenai sasarannya rakyat akan menjadi panik. Dengan demikian memberikan kesempatan kepada Jenderal Mallaby untuk melepaskan diri.

Ternyata dugaan saya betul, karena mobil Bapak Soedirman terbakar habis. Tembakan musuh yang mendahului itu segera dibalas gencar tembakan tembakan dari berpuluh puluh pucuk senapan dari luar gedung, sehingga " Horen en zien verging"

Celakanya kursi yang saya duduki itu membelakangi dinding kaca sehingga bila kacanya terkena peluru hujan reruntuhan beling jatuh di atas kepala saya. Walaupun demikian saya tidak merasa takut, karena bila ditakdirkan mati kena peluru hanya sebentar saja sakitnya

Akan tetapi saya merasa tegang dan benar benar ngeri ketika mendengar aba aba dari luar untuk membakar gedung internatio. Untung bagi saya bahwa niat untuk membakar gedung belum sampai terlaksana ketika pada kira kira jam 9 malam saua mendengar perintah ramai melalui pengeras suara yang menerangkan supaya permusuhan dihentikan karena musuh sudah bersedia pada keesokan harinya menyerahkan gedung internatio kepad TKR tapi diperbolehkan membawa senjatanya.

Tidak lama kemudian setelah terdengar perintah penghentian permusuhan, perwira sekutu yang saya ikuti sore hari itu menemui saya dan menceritakan bahwa Brigadir Mallaby mati dibunuh rakyat, sedangkan kawannya dapat menyelamatkan diri. Ia menambahkan bahwa kematian perwira tinggi Inggris itu pasti akan dibalas oleh tentara Kerajaan Inggris dengan segala kekuatan yang ada pada mereka yait darat , laut dan udara.


Kalau melihat kesaksian pak Mangeondiprodjo diatas , pihak Inggris lah yang memulai tembakan ke arah kerumuhan rakyat di luar gedung internatio dan ada beberapa kemungkinan meninggalnya Mallaby antara lain kena pecahan mortir tersebut atau secara refleks kena tembak dari pemuda/rakyat yang mengepungnya . Kita tidak tahu sampai sekarang mana yang benar , tapi kita mengetahui bahwa asal muasal sekutu marah adalah terbunuhnya Mallaby di Surabaya tersebut. Setidak tidaknya peristiwa Surabaya banyak dapat dipelajari bagaimana rakyat Indonesia mempertahankan Kemerdekaannya, kita cinta kedamaian tapi lebih cinta kemerdekaan.

Akankah kemerdekaan yang dicita citakan dan dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga tersebut masih ada di negara kita saat ini ?
Mudah mudahan kita semua diberi rahmat dan Hidayah oleh Allah SWT. Amien























Posted at 07:26 pm by basuki1
Make a comment  

Nov 9, 2005
FOOD MAP WHILE U ARE AT BANDUNG…


Dari milis itb75@itb.ac.id ,
ada yang pernah menulis soal makanan,
mungkin sudah tidak update beberapa data , tapi ada baiknya di tampilkan,
barangkali masih ada yang membutuhkan.


FOOD MAP WHILE U ARE AT BANDUNG…..EHMP…..

NASI GORENG
Borobudur, Jl. Setiabudi
Sumber Hidangan, Jl. Braga
Braga Permai (porsinya gede!)
Daerah Gerlong, dekat rental Prambanan
Toko Yu, Jl. Hasannudin
Jl. Bahureksa - depannya SMPK 4 BPK
Nasi Goreng Bejo, kantin Fisip UNPAR
Nasi Goreng JL. Rajiman
Jl. Sadewa
Jl. Kresna (depan salon, deket lapangan)
Nasi Goreng Ohar di dalem pasar baru ... yang ini juga enak kalo ngga tau tempatnya tinggal minta tunjukin ama pedagang di sana tentang nasi goreng Ohar.. pasti ditunjukin deh..
Nasi Goreng Jl. Kresna (depan Salon, deket lapangan)
Nasi Goreng di Abadi (dulunya the Tanabe), Jl. Setiabudhi
Nasi Goreng Ikan Asin, di Kafe Batu, jl. Burangrang
Nasi Goreng Ikan Asin, di Gerbong Antrik (alamat menyusul - lupa)
Nasi Goreng Jl. Pasirkaliki. Di sejajaran Gereja Hok Im Tong, sesudah melewati jl semar nah di situ khan banyak orang jualan, cari salah satunya ... enak loh and banyak .....

BASO TAHU
Borobudur, Jl. Setiabudi
Baso Panghegar Jl. Holis
Kingsley, Jl. Veteran, Bungsu (@ Rp. 900)
Baso Tahu Tegallega, deket Gg. Jaya, pas didepannya Jl. Otista 457 (malem doang, @ Rp. 700,-)
Baso Tahu Wibisana, Jl. Rama
Sasa di pengkolan Jl. Supratman
Sari-sari di deket pengkolan Jl. Ranggamalela- Slt. Agung

BATAGOR
Jl. Purnawarman (dekat pintu keluar tempat parkir Gramedia)
Jalan Cibadak (depan toko buku merauke)
Jl Burangrang, di Martabak San Fransisco
Jl. Bungsu (deket toko kue 10 Satu)
Batagor di Simpang Dago dan Kopo
Batagor RIRI Jl. Burangrang
Batagor 99, Jl. Pasirkaliki bawah, sebelum stopan pajajaran

GUDEG
Jl. Lombok deket EEP (pindahan dari jalan Banda)
Jl. Surya Sumantri (sejajar museum Barli)
Gudeg Kabita, Jl. Jend Sudirman seberang rest. Phoenix
Gudeg Jogya Jl. RE Martadinata
Jl. Ksatriaan (dulunya gudeg Capitol) - pagi doang
Jl. Semar dekat gereja Hok Im Tong (adanya ampe siang)
Gudeg Aloy Jl.Sultan Agung *

BASO MALANG
Jl. Cihampelas, deket wartel/St. East (sore jam lima s.d. malem)
Jl. Rajiman antara Likmi dan SD Paulus
Jl. Cipaganti (dekat Mesjid Raya Cipaganti)
Warung di Jalan Surya Sumantri (buka pagi-siang) sedikit di bawah Maranatha, sebelah kanan kalau masuk dari Terusan Pasteur.
Sekitar Mesjid Istiqamah Jl. Citarum (antara Rp. 1000 - 2000)
Bakso malang Jl. Burangrang deket restoran Sedep malem (sore jam 4)
Bakso Malang Jl. Karapitan

BASO KUAH
Depan Hotel Panghegar
Baso Panghegar Jl. Holis
Mie Baso pangsit, Jl. Lombok deket prapatan Aceh
Baso sapi/pangsit/wonton udang kuah di Bakmi Ayam Jakarta, Jl.Cihampelas
Gang Kebon Karet (Jl. Otista seberang Danamon) ... di sini semacem Pujasera lah .. ada juga makanan yang laen

LONTONG KARI (atau Kupat Tahu)
Deket Gubernuran, masuk gang (alamatnya yang persis, kalau ada yang tahu!!) mentok Jl. Semar (masuk lewat Paskal) - pagi doang
Gang Kebon Karet (Jl. Otista seberang Danamon) ... di sini semacem pujasera lah .. ada juga makanan yang laen
Jl. Bengawan masuknya dari Jl. Cendana lebih deket (dulu di Jl. Cihapit)

MIE / YAMIEN
Mie rica Jl. Kejaksaan (sebelah dekat braga) Gg. Bapa Supi
Gg. Luna (sudirman - andir)
Jl. Balonggede (masuk dr dalem kaum sblh kiri)
Mie Naripan, di perempatan Jl. Sunda dan Naripan
Baso Panghegar, depan Toko You, jl. Hasanudin
Mie Akung, Jl. Lodaya
Mie Jl. Kebon Tangkil (Yamien asinnya uenaq)
Mie Jl. Astana Anyar
Yamien Medan jalan Tamim ini juga enak.... boleh dicoba lah..
Kupat Tahu, Lotek, terus ama Mie Ayam ... jalan Alketeri .. ini juga enak tapi yang nyebelin kalo lagi jam makan harus antri.
Mie Abadi (dulunya teh Tanabe), Jl. Setiabudhi
Mie Akim, Jl. Rama (baso, baso tahu, nasi tim nya juga enakkkkkk)
Jl. Banda (Nursijan),

MIE KOCOK
Jl. Banteng
Jl. H. Akbar, depan Kartika Sari
Mie kocok Jl. Sunda deket Biliard Manhattan
Jl. Semar (masuk lewat Paskal) - pagi doang
Jl. Sunda (deket Manhattan Billiard)

LOMIE
Jl. Suwatama
Jl. Kalipahapo
Jl. Gardujati (Restoran Utara)
Jl. Astana Anyar
Jl. Gardujati, sejajar dengan restaurant Dunia Baru
Lomie di Jl. Rama ... yang jualan Kwo Tie tuch

KWE TIAUW SAPI, GORENG, SIRAM, BUN, dll..
Jl. Gardujati (deket gereja hokimtong)
Jl. Rajiman (warung artomoro)
Jl. Astanaannyar seberang Bank Prima Express
Jl. Sadewa - Indomie kwetiau siram

SATE
sate ayam jl. maulana yusuf, seberang Gereja
sate jl. kejaksaan (jl.Tamblong ke kiri) samping binatu
sate kambing pak karjan jl. pasirkaliki
sate di depan mie naripan (sore aja)
sate Madura di jalan Anggrek (masuknya lewat Riau)
(sate & gule) Warung Tegal di deket jalan Tol Pasteur (lewatnya dari Maranatha ke paskal)
Sate Hadori di seberang Stasiun KA (pangkalan Angkot) masuknya lewat Jl. Kebonjati .. setelah liat Jl. Dulatip, belok kanan
Sate kambing Jl.Balonggede ... (seberang Palaguna Plaza) masuk lewat Dalem Kaum .. sebelah kiri
Sate Ayam Jl. Gatot Subroto (pujasera)
Jl. Karang anyar (Bareng tukang juice)
Jl. Aceh (blk. tukang besi, 100 m dari stopan)
Sate ayam Blora, Jl. Pasirkaliki. Dari selatan, sebelum perempatan
Pajajaran PsKaliki sebelah kanan....di trotoar, malem aja...

JAGUNG BAKAR 4 RASA
seberangnya Gelael Dago
Cibadak deket tukang Jus / milk Shake
(punyanya anak SIPIL '93, ITHEUW)*

AYAM GORENG
Jl. Panaitan (Ayam Goreng Nikmat)
Jl. Semar & Surya Sumantri (Ayam Semar)
Jl. Ayam Goreng Brebes, arah ke Lembang (pas belokan ke kanan, sebelum pom bensin).
Ayam Goreng / Bakar + usus + lalap + sambel "Ngudi Rahayu", tempatnya di Jl. Lombok depannya RCTI ..
Ayam Suniaraja (Pojokan, depan Hotel Panghegar)
Ayam Goreng Tepung Lamping, Jl. Lamping, Cipaganti
Ayam goreng Ma Uneh, Pajajaran (sore jam 5) - deket tempat orang buta
Ayam Goreng Facktoy (Warung di Suniaraja), deket Hotin
Ayam Jogja Jl. Putri dan Jl Kejaksaan
Ayam POP Ciumbeluit atas, sesudah UNPAR
Ayam rica di Jl Setiabudhi (masuk gang) kira-kira 200m setelah enhaii sebelah kiri
Sebelahnya ayam goreng Brebes dan sebelahnya ayam goreng 2001, Lembang.... (sambelnya lebih enak dari Brebes)
Ayam goreng Raben, Ciumbeluit
BUBUR AYAM
Jl. Asia Afrika (deket PR)
Gg. Kasmin - Jend. Sudirman
Jl. Jend. Sudirman, lewat caringin sebelah kanan, daerah jamika (malem)
Perempatan Pasteur-Paskal, deket rumah makan Naya
Mang Oyo, Dekat RS. Sumber Asih, depan lapangan, di depan Jl. H. Hasan & H. Wahid (daerah Dipati Ukur)
Jl. Pajajaran (dari arah IPTN - melewati jalan Pandu sekitar 20-40 meteran, terletak di sebelah kiri)

PEMPEK
Pempek Rama, Jl. Rama-cobain pempek bakarnya !
Jl. Karang Anyar, sedikit di bawah pempek Setiabudhi masuk lagi ke dalam gang.
Pempek Pak Raden juga enak .... Jl. Rama.
Pempek di pertigaan Kalipah Apo- Otista...di sebelah kiri..tempatnya kecil

ROTI BAKAR
Jl. Gardujati (Nama tokonya 'DUTI')
Jl. Kote (daerah Jl.Sudirman) .. tapinya harus malem
Jl. Kasmin (daerah Sudirman)

RONDE JAHE
Jl. Burangrang, Martabak San Fransisco
Jl. Alketeri , Asia Afrika
Jl. Sumatera (seberang bioskop Regent)
Pujasera di Jl. Karapitan yang satu arah, sebelon bioskop Artha

LOTEK
Lotek Kalipah Apo, Jl. Ciguriang - sebelah King Shopping
Jl. Moh. Ramdan, dari arah Jl. Pungkur sebelah kiri Di komplek Sumber Sari, seberang BCA Jl Macan
Jl.Kelenteng
Jl.Mahmud (jam - jam Sekolah) ada nasi bakmoi ama rujak juga...
Jl. Haji akbar (deket Kartika Sari)

PEUYEUM
Pasar Sederhana (alamat lebih detil menyusul)
Di pinggiran Jl. Cihampelas banyak yang ngejual

SOP KAKI SAPI
Di ujung Jalan Banceuy, seberang restoran Hotin. Namanya Sop Kaki / Babat Jakarta.
Jl. Cikapundung ....(buka malem )

MASAKAN JEPANG
Warung Jepang, deket simpangan Karang Anyar - Astana Anyar
Hanamasa, Inazuki, Miyazaki (cocok banget untuk ntraktir temen kalo ul-tah, lulus dsb) * Teppan Express di Jl. Pasirkaliki

MASAKAN MANDARIN
Phoenix, Jend Sudirman
Chinese Food, Jl. Sunda, persis seberang Yogya Dept. Store
Jl. Paskal, depan Hotel Familie II (sidewalk alias pinggir jalan)
Masakan Mandarin di Jalan Yo Soen Bie... yang enak sapi cah kailan, ayam nanking,.. dan masih banyak lagi
Rose, Jl. Ahmad Yani (rekomendasi : cah kangkung, ayam cah shantung)
Dunia Baru, Jl. Gardujati
A Siong, Jl. Kebon Kawung (sejajaran dengan martabak Canada)

STEAK
Road Cafe, di Jalan Cilaki
Chiba, Jl. Dr. Rum
Pasadena, di daerah Sukajadi. Dari bawah (arah pasirkaliki) lurus terus sampe pom bensin, trus ada perempatan, belok kiri, langsung kiri lagi,udah nyampe.
Milala, Jl. Lombok dekat SMAN 5
(STEAK a la Jepang) Ichiban, Jl. Abd. Rahman Saleh
Di sebelahnya ENHAII, d sebelah bawahnya....agak masuk tempatnya.
Taboo, Jl. Burangrang. Kalo nggak salah di sebelahnya Wartel, & rada deket sama BankBali.
K'One El's - ada di belakang Unpar (favorit anak arsitek kalo lagi studio) Yang ini mah ada chicken steak, mie premix, nasi goreng, Bitter Ballen, Lumpia
Tizis, Jl. Kidang Pananjung, Dago
Glosis, daerah Ciumbuleuit
Jl. Sadewa lumayan juga .... cuman suka rameeeee
Bayou steak
Yess Steak, jl. Sangkuriang (di pojokan jalan)

RUJAK/ASINAN
Jl. Tengku Angkasa, Dipati Ukur
Jl. Kalipah Apo , tempat lotek Kalipah apo
Jl. Kelenteng
Jl. Macan
Rujaknya sumber sari wowwww enakkkkk

KUPAT TAHU & TAHU
Pasar Balubur, di belakang tukang buah, persis pinggir Jl. Kebon
Bibit, depan apotik
Jl. Putri (ujung)
Tahu Yun Sen, Jl. Jendral Sudirman
Kupat Tahu di Jl. Gempol Wetan (deket pasar, pagi doang)
Kupat tahu petis di pertigaan Jl. Reog Jl. Angklung
Kupat tahu petis di Jl. Pungkur, di sebelah Bengkel Teknik Willy's

SOTO
Soto Bandung dan Aneka Jajanan Buka Puasa Jl.Macan, Buah Batu
Soto Po Jl. Kelenteng
Soto Po Jl. Veteran (sebelum Jl.A.Yani, setelah Jl. Sunda)
Soto Banjir Jl. Astana Anyar

BAKERY
La Belle, Jl. Dago, Kroket Kejunya OK banget
Sweet Heart, Jl. Bawean dan Riau, Nougat Cake & Wafer Coklat
Rasa, Jl. Tamblong (Ice Cake, Black Forest)
Abadi, Jl.Purnawarman, Bagelen Basah-nya wow....!
French, Jl. Braga, semua rotinya uenaq......

KUO TIE
Kuo Tie Santung, Jl, Pasirkoja (tapi mahal pisan, tapi enak...)
Kuo Tie di Jl Cibadak, semuanya enak.....
Kuo Tie, Jln.Martadinata
Kuo Tie Utara Jl. Gardujati
Kuo Tie Jl. Rama

MARTABAK
San Fransisco Jl. Burangrang
Martabak Jagung Jl. Sudirman deket pasar Andir
Martabak Capitol Jl. Sudirman deket Capitol Plaza (dulunyaa..)
Martabak Canada Jl. Kebon Kawung
MARTABAK HOLLAND Jl. Cibadak *GRIN* (katanya yang ngejaganya cakep lho..)
Gg. Kasmin - Jend. Sudirman
Martabak Rumah Makan Asia di Jl. Cipaganti setelah perapatan Eyckman

KEPITING (Saos Tirem biasanya sih)
Restoran Shantung Jl. Pasirkoja
Restoran Rose Jl. Ahmad Yani
Restoran Mustika, Jl. Ciumbuleuit (rekomendasi Kepiting Padang, ati2....pedas pisan, tapi enak llho)
Seafood Jl. Sulanjana*

SEAFOOD
Inti Laut (Restoran) Jl. Pasirkaliki
Pancoran (Restoran) Jl. Terusan Pasteur
Nelayan (Restoran) Jl. Terusan Pasteur*

NASI KUNING
Jl. PasirKoja (dari arah terusan Pasirkoja ..... trus ampe 10 m deket STOPAN Astana Anyar) harus sore / malem tapinya ...
Jl. Gardujati (deket tukang juice) harus malem / sore juga*

Rupa-rupa
Warung Kemuning (mirip-mirip Warnasari lah..) di Jl. Kemuning deket Gereja Kemuning
Warnasari, Jl. Tamansari
Jl. Kenari.....tempat makannya anak-anak Ekonomi Unpar
Semacam Pujasera di Jl. Sumatra...sebelum Regent sebelah kanan (malem doang)

Es Campur
Dekat Kingsley, Jl. Veteran, Bungsu "Es Campur Bungsu" & Asal mula es campur OYEN.
Es 'campur' di Sultan Plaza lt plg atas.
Es Campur Jl. Putri
Di Jalan utama Taman Kopo Indah sebelah kiri *

Es Cendol
Es Cendol Elizabeth Jln Cihampelas, deket Sapu Lidi Jeans.*
Es Cendol belakang kue sus merdeka

Aneka JUICE
Aneka jus (hit: sunquist, marquisa, duren, fruitpunch) di Bakmi Ayam Jakarta, Jl. Cihampelas (sebelah Karya Umbi)
Warna Sari Kantin, Jl. Taman Sari
Kantin Sakinah, belakang pasar Simpang, JL. Tubagus Ismail
Cibadak , Milkshake jus (tempatnya tukang jagong, pengkolan gang kasmin)
Jl. Gardujati
Jl. Kalipah apo
Jl. Astana anyar (jeruk kelapanya enak)
Jl. Rama (jus markisa plus jeruknya muanteppp) *

Yoghurt
Jl. Cisangkuy (rekomendasi: fresh strawberry juice)
Colombia, Jl. Dago (depan Borromeus)*

Es Krim yang uenax !:
Braga Permai, jalan Braga. Strawberry specialnya nyamnyam
"Rasa", jalan Tamblong.. Peach Melba nya hmmmm.. ada Sherry Temple juga tuh

Masakan Padang
Coba deh "Uni Ju", di jalan Buahbatu, sebelah Bank Niaga. Romo Darman pasti tahu
Di belakang Toko Roti Merdeka (jl. Purnawarman) jalan Asia Afrika
"Ibu Mus" Jl. Buah batu, ini kalo yang suka bumbu yang kuat

Gepuk
Gepuk Nyonya Yong di jl RE Martadinata, Jln Setia Budhi
Lumpia, Nasi berkat, tumpeng
Lumpia Semarang, jl Badak Singa??? (ini engga yakin, deket-deket situ deh)

Makanan murah meriah dan bisa nongrong khusus malem (Pindahan dari jalan Supratman) Ada steak, nasi goreng, bandrek, Bajigur, jagung bakar, goreng gorengan,
sate, dll Jl. Cihapit (deket jl. Ciliwung & Cisangkui gampang deh, engga akan kesasar), cuma sering ada pengamen.. siapin aja gocap-an :-)

Susu Murni
Sumur Lembang (Susu Murni Lembang, tanya aja.. semua tahu)

Kue Sus
Kue sus Merdeka.. banyak yang bilang engga ada duanya..

Pisang Molen
Kartika sari.. deket Station Kereta api... segala penjuru tahu..


Posted at 12:25 pm by basuki1
Comment (1)  

Nov 8, 2005
The Art of War (Sun Tzu)



Seringkali kalau di toko buku macam di Kinokuniya , atau di waterstone ,
buku buku tentang militer terutama tentang Sun Tzu banyak terlihat. Terutama di Singapore dan Hongkong , buku buku ini dibahas khusus. Ada banyak versi tentang Art of War nya Sun Tzu ini dan kebanyakan strategi Sun Tzu ini di aplikasikan pada dunia bisnis. Bisa dipahami mengapa banyak di aplikasikan dalam dunia Bisnis. Karena antara dunia militer dan dunia bisnis mempunyai banyak kemiripan.


Kalau dilihat dari pemikiran Sun Tzu tersebut , pokok pokok dari suatu 'perang' juga tidak akan berubah dari tahun ke tahun , yang membuat berubah hanya medan nya saja dan strategi nya.

Berikut ini saya sarikan pokok pokok art of War nya Sun Tzu. Seharusnya kita juga harus banyak mengkaji macam pemikiran /strategi Pokok pokok Gerilya nya AH Nasution untuk banyak hal terutama untuk menenangkan bisnis.

--------------------------

Pemikiran Militer Jepang dan Sun Tzu

"Dalam bergerak, hendaknya secepat angin;
Dalam gerakan lambat, hendaknya seanggun rimba belantara;
Dalam menggerebek dan menjarah, mengganaslah seperti api
Dalam bertahan, bertahanlah sekokoh gunung
dalam penyamaran , hendaknya anda tak tertembus seperti gelapnya malam
Dan bila menyerang, anda harus melanda seperti guntur

Militerisasi dalam praktik bisnis Jepang

Dalam tahap awal ; Peniru
Dalam tahap kedua ; Perbaikan kecil dalam proses
Tahap ketiga : Improvisasi
Tahap keempat : Berinovasi
Tahap akhir : Penciptaan

Perang dan bisnis
Militer dan manajemen
Garis Besar model art of war Sun Tzu
Seni manajemen strategis dan pemikiran
Seni manajemen strategis
Para guru seni berperang
Pemikiran kembali Jepang
Kesimpulan

Pelaksanaan Strategi : Faktor Operasional
Kecepatan dalam pelaksanaan

" Kecepatan adalah intisari perang. Manfaatkan ketidaksiapan musuh; ambillah jalan yang tidak ia duga; dan serang tempat tempat di mana ia tidak mengadakan persiapan "

Penjadwalan waktu
"Ketika hantaman burung elang mematahkan badan mangsanya, hal itu terjadi karena penjadwalannya y ang sempurna"

" Biasanya mereka tyang sampai dan menduduki medan pertempuran lebih awal, mempunyai kesempatan untuk beristirahat dan menunggu musuh. Mereka yang datang lambat terpaksa tergesa gesa terlibat dalam pertempuran ketika mereka sudah lelah dan kehabisan tenaga"

Momentum
Menghindari kampanye berkepanjangan
Daya penyesuaian dalam manuver
Bentuk dan keluwesan

"Prinsip panduan dalam taktik militer dapat disamakan dengan air. Sama seperti air mengalir menghindari ketingggian dan bergegas mengalir ke daratan rendah, suatu tentara harus menghindari menyerang yang kuat dan sebaliknya menghantam yang lemah"

"Seperti juga air yang membentuk dirinya sesuai dengan medan, suatu tentara harus mengelola kemenangannya sesuai dengan keadaan musuh. Sama seperti air, yang tidak mempunyai bentuk tetap, dalam perangpun tidak ada aturan atau ketentuan tetap.

Daya innovasi
" Karena itu jangan mengulang taktik yang sudah membawa kemenangan, tetapi ubahlah sesuai dengan keadaan "

" ia harus mampu mengubah metode dan jadwalnya sehingga tidak ada yang tahu maksudnya. Ia harus mampu memindahkan lokasi perkemahan dan rute perjalanannya sehingga tidak seorangpun dapat meramalkan gerakannya"

Penggunaan inisiatif
Tipu-daya dalam tindakan dan strategi
Umpan

" Dengan memberikan umpan pada musuh, ia dapat dipikat untuk datang atas kemauannya sendiri "

" Berikan umpan kepada musuh untuk memikatnya; dan bila ia sdh dalam keadaan kacau,hantamlah "

Khayalan dan pura pura

" Karena itu jika mampu, anda berpura pura tidak mampu; jika aktif, berpura pura tidak aktif, Bila berada dekat dengan sasaran, berlagak seperti anda masih jauh; bila masih jauh ; tampakkan seperti sdh dekat."

" Pada permulaan pertempuran , hendaknya anda malu malu seperti perawan supaya dapat memikat musuh dan menurunkan pertahanannya. Jika pertempuran sudah berlangsung b eberapa lama, anda harus secepat kelinci sehingga dapat memanfaatkan ketidaksiapan musuh".

Untuk berpura pura bingung ,seseorang harus punya disiplin , untuk berpura pura menjadi pengecut, seseorang harus memiliki keberanian ; untuk berpura pura lemah, seseorang harus memiliki keunggulan dalam kekuatan.
karena itu , kemenangan yang direbut oleh seorang ahli perang tidak pernah memberikannya reputasi kearifan atau keberanian "

Penggunaan arah tindakan multpel atau tidak disangka untuk mengejutkan lawan
" Dia yang tahu bagaimana menggunakan pendekatan langsung dan tidak langsung, akan meraih kemenangan, Itu yang dinamakan seni me-manuver"

" Jika ada yang bertanya : " Apa yang harus saya lakukan apabila dihadapkan pada pasukan musuh yang besar dan tersusun rapi dan bersiap siap memasuki
wilayah saya ? Jawaban saya adalah : " yang pertama anda harus lakukan ialah merebut sesuatu yang sangat berharga bagi musuh, dan ia akan tunduk pada keinginan anda "
" Sebab itu jangan mengulang taktik yang sudah pernah membawa kemenangan. tetapi hendaknya itu selalu diubah ubah sesuai dengan keadaan "

Memanfaatkan sarana yg ada
Memperkirakan reaksi musuh dan perubahan dalam lingkungan
Kecurangan,penipuan dan koruspi dalam bisnis dan politik

Pengkajian Strategi
Pengkajian subyektif

"Barang siapa yang memiliki pengetahuan mendalam tentang dirinya sendiri dan musuh ditakdirkan u ntuk memenangkan semua pertempuran. Barangsiapa yang akan memahami dirinya sendiri tetapi tidak dapat memahami musuhnya, hanya memiliki peluang sama besar untuk menang. Barangsiapa yang tidak memahami dirinya sendiri dan juga musuhnya, ditakdirkan untuk kalah dalam pertempuran "

Dan

" Kenalilah musuh anda, kenalilah dirimu sendiri dan kemenangan anda tidak akan terancam. Kenali lapangan, kenali iklim dan kemenangan anda akan lengkap "

"
Karena itu panglima yang arif harus mempertimbangkan baik faktor menguntungkan maupun faktor y ang tidak menguntungkan. Dengan memperhitungkan faktor tidak menguntungkan di dalam faktor yang menguntungkan, ia dapat memastikan bahwa rencananya itu layak. Dengan memperhitungkan faktor menguntungkan di dalam faktor tidak menguntungkan, maka ia dapat memecahkan kesulitan"

Dia yang tahu kapan harus berlaga dan kapan tidak, akan menang ;
Dia yang tahu bagaimana sebaiknya menyebarkan kekuatan besar dan kecil, akan menang :
Dia yang memiliki tentara yang bersatu dalam tujuan, akan menang ;
Dia yang sudah mempersiapkan diri untuk memanfaatkan peluang, akan menang :
Dia yang mempunyai panglima yang mampu dan tidak dipengaruhi oleh penguasa. akan menang "

Sasaran strategis
" jangan anda bertindak terkecuali ada keunggulan pasti yang anda peroleh; Jangan menggunakan pasukan terkecuali anda dapat berhasil : jangan berlaga terkecuali anda dalam bahaya "

" Di jaman dahulu, mereka yang ahli dalam ilmu perang memperoleh kemenangan dengan menaklukkan musuh yang mudah ditaklukkan "

" Kemenangan dapat diperoleh tanpa membuat kesalahan. Alasan mengapa ia tidak membuat kesalahan adalah karena ia memastikan setiap gerakan yang ia buat dan menaklukkan musuh yang sudah kalah "

Kesuian strategis

Keunggulan strategis

Penjadwalan waktu strategis

Pengkajian numerik
" Unsur ilmu perang yang pertama adalah pengukuran, kedua, perkiraan biaya, ketiga perhitungan kekuatan; keempat menimbang peluang dan kelima merencanakan kemenangan

"Berdasarkan sifat sifat lapangan, diperoleh suaty pengukuran ruang. Berdasarkan pengukuran ruang dibuat perkiraan biaya. Berdasarkan perkiraan biaya, dibuat perhitungan kekuatan. Berdasarkan perhitungan kekuatan, dipertimbangkan kemungkinan untuk keberhasilan dan kegagalan. Atas dasar pertimbangan kemungkinan, maka dimulai perencanaan kemenangan "

Pengukuran ruang
Perkiraan biaya
Perhitungan kekuatan
Menimbang kemungkinan menang atau kalah
Merencanakan kemenangan

Contoh
Penerapan dalam bisnis
Menentukan bisnis seseorang (mengukur ruang)
Memperkirakan kekuatan finansial atau pengeluaran
Memperhitungkan sumber
Menimbang peluang untuk meraih keberhasilan
Taktik dan rencana fungsional (merencanakan kemenganan)
Perumusan strategi

Prinsip pemusatan kekuatan
Prinsip Sun Tzu tentang pemusatan kekuatan mengakui bahwa kekuatan relatif di titik kontak. dan bukan kekuaan absolut, mementukan hasil akhir pertempuran. Prinsip ini dibuktikan dengan ungkapan berikut ini :

"Tidak boleh tahu tempat dimana saya berniat menyerangnya, Karena jika ia tidak mengetahuinya, maka ia harus mempertahankan banyak tempat. Dan semakin banyak tempat yang ia pertahankan maka semakin terpecah kekuatannya sehingga menjadi lebih lemah di setiap titik"

" JIka ia (musuh ) bersiap siap di garis depan, maka garis belakangnya akan menjadi lemah; bila ia mempertahankan garis belakangnya, pertahanan depannya akan menjadi lemah. JIka ia memperkuat sisi kirinya, ia akan memperlemah sisi kanannya; jika ia memperkuat sisi kanannya, ia akan memperlemah sisi kiri. Bila mempersiapkan semua sisi makan ia akan lemah dimana mana"

" Kekuatan suatu tentara tidak bergantung pada pasukan besar. Jangan anda maju dengan mengandalkan pada banyaknya pasukan saja. Sebaiknya seseorang harus memusatkan kekuatannya dan dengan tepat memperkirakan gerakan musuh supaya dapat menjebaknya"

Memilih medan pertempuran untuk memperoleh keunggulan relatif
"Jadi saya mengatakan bahwa kemenangan dapat diciptakan. Meskipun musuh mempunyai kekuatan besar, saya dapat mencegahnya untuk menggunakannya"


Memilih kerahasiaan rencana pertempuran sendiri

" jika saya dapat mengungkapkan rencana musuh sementara saya dapat merahasiakan rencaya saya , maka saya dapat memusatkan perhatian sedangkan ia harus membaginya. Dan bila kekuatan saya terpusat sementara kekuatan musuh terbagi bagi, saya dapat melepaskan seluruh kekuatan saya terhadap sebagian kekuatan musuh di setiap titik serangan. DIsana saya akan unggul secara numeruik dan musuh pasti akan berada dalam kesulitan "

" Ia hanya membagi tugas pada prajuritnya, tetapi tidak menerangkan tujuannya ; ia mengatakan kepada mereka untuk mencapai keunggulan tetapi tidak mengatakan bahayanya "

Pengelabuhan

Prinsip menyerang
" Perang adalah suatu yang sangat penting bagi negara. ia menyangkut mati hidupnya rakyat dan mempengaruhi kelanjutan atau keruntuhan negara. Ia harus dipelajari dengan sungguh sungguh"

Perlunya Menyerang

" Ketangguhan dalam pertahanan tergantung pada usaha sendiri seseorang, sementara peluang untuk menang tergantung pada musuh. Karena itu mereka yang ahli dalam ilmu perang dapat membuat diri sendiri tangguh tetapi tidak dapat menyebabkan mush menjadi mudah diserang"

" Di Zaman Kuno, mereka yg ahli dalam ilmu perang membuat diri sendiri tak dapat diserang sebelum menunggu kesempatan mengalahkan musuh"

" Mereka yang tidak dapat menang harus bertahan; mereka yang dapt menang harus menyerang; bertahanlah apabila kekuatan anda tidak mencukupi; menyeranglah bila kekuatan anda berlimpah"

Perlunya menang dengan laba
Kebutuhan untuk menganut paham keunggulan relatif dalam jumlah
Kemungkinan membuat relung

Prinsip dari Zheng dan qi (kekuatan langsung dan tak langsung
Perumusan sasaran dan pilihan medan pertempuran

Perumusan sasaran
" Menaklukkan tentara musuh tanpa bertempur langsung; merebut kota kota musuh tanpa serangan yang dahsyat; dan menghancurkan negara musuh tanpa operasi berkepanjangan"

" Tujuan anda adalah merebut semua negara dalam keadaan utuh. Jadi pasukan anda tetap segar dam kemenangan anda menjadi lengkap. INilah ini dari strategi offensif

Memprioritaskan sasaran

" Bentuk tertinggi dari kepimpinan adalah menyerang strategi musuh;
Kebijakan terbaik kedua ialah dengan mengacaukan persekutuannya;
Setelah itu menyusul menyerang tentaranya ;
Kebijakan terburuk adalah mengepung kota kota berbenteng;
Mengepung kota dilakukan apabila tidak ada pilihan lain

Menyerang strategi musuh
" siapa yang mencapai dan menduduki medan pertempuran lebih dahulu mempunyai waktu untuk beristirahat dan menunggu kedatangan musuh. Mereka yg lambat tiba di medan pertempuran harus dengan tergesa gesa melibatkan diri dalam pertempuran sementara mereka masih lelah dan kehabisan nafas"

Mengacaukan persekutuan musuh

Menyerang tentara musuh

Mengepung kota berbenteng

Sasaran yang dapat dicapai
Sasaran harus menghasilkan perolehan bersih positif
" Perang adalah hal yang sangat vital bagi negara. Perang menyangkut hidup dan matinya rakyat dan mempengaruhi kelanggengan atau keruntuhan negara. Perang harus dipelajari dengan sungguh2 dan mendalam".

Sasaran harus menghasilkan perolehan bersih positif
Perumusan Strategi : pilihan medan pertempuran

• Prinsip memilih medan pertempuran
• Prinsip pemusatan kekuatan
• prinsip menyerang
• Prinsip kekuatan zheng (langsung) dan qi (tidak langsung)

Memilih medan pertempuran

Ada tiga faktor terkait dengan prinsip pemilihan medan pertempuran

• bidang bidang yang memiliki keunggulan menonjol
• bidang yang diabaikan oleh musuh
• sifat sifat dari medan pertempuran

Bidang yang memiliki keunggulan menonjol

" jangan anda sekali kali menggerakkan pasukan tanpa mengetahui keadaan dari gunung, hutan, lembah berbahaya serta rawa dan sebagainya"

" Kita tidak dapat memperoleh keunggulan dari topologi lokal tanpa menggunakan pemandu lokal"

" Dengan memikat musuh dengan umpat menarik , ia dapat datang atas kemauan sendiri. Dengan menimbulkan kerusakan dan menempatkan rintangan, musuh dapat dicegah untuk menuju tempat yang ia kehendaki"

Dengan menjadi pertama yg menduduki medan

" Siapa yang pertama mencapai dan menduduki medan pertempuran lebih dini, pada umumnya mempunyai waktu untuk beristirahan dan menunggu kedatangan musuh. Mereka yg tiba lambat terpaksa tergesa gesa langsung bertempur sementara mereka lelah dan kehabisan energi.

Dengan memilih medan pertempuran yg lbh menguntungkan diri sendiri daripada musuh
" Maka mereka yang terampil dalam ilmu perang selalu akan membawa musuh ke tempat dimana ia ingin bertempur , dan tidak di bawa kesana oleh musuh"

Wilayah yang diabaikan oleh musuh
" Untuk memastikan keberhasilan anda dalam menyerang sesuatu adalah dengan menyerang tempat yg tidak dipertahankan oleh musuh atau di mana pertahanannya lemah. Untuk memmasikan bahwa anda dapat mempertahankan apa yang anda pertahankan, ialah dengan mempertahankan tempat yang tidak diserang oleh mush atau tidak dapat digoyahkan oleh serangan"

" Kekuatan suatu pasukan tidak bergantung pada pasukan yang besar"

Ciri ciri medan pertempuran

Medan yang tercerai berai

" jangan bertempur di medan yang tercerai berai"

" Jika berperang dalam medan yang tercerai berai, satukan tekad bulat dari seluruh pasukan "
Medan yang dapat di akses

" jangan perkenankan formasi anda sampai terpisah "

" Jaga pertahanan anda dengan keta"

" Hendaknya anda yang pertama menempati kedudukan yang lebih tinggi dan strategis yang menguntungkan bagi jalur pasokan anda sehingga anda memperoleh keunggulan dalam pertempuran "

Medan garis depan

" Jika berada di garis depan, jangan sekali kali anda berhenti "

" hubungkan semua kekuatan anda dengan ketat"

Medan yang menjebak

Medan menjebak adalah medan yang mudah dimasuki akan tetapi sulit untuk meninggalkannya

Medan menyempit
" Jadilah pasukan pertama yang menduduki titik titik strategis untuk menunggu kedatangan musuh. jangan menyerang jika kedudukan yang terbatas itu diduduki musuh. Anda hanya menyerang jika pertahanan musuh diposisi yang didudukinya itu lemah"

"ciptakan tipu muslihat"

" rintangan titik titik masuk dan keluar "

Medan kunci

" Dalam medan yang terjal, sayalah yang pertama harus menguasai puncak cerah karena matahari untuk kedatangan musuh. Bila musuh yang mendahului menduduki medan seperti itu, jangan mengikuti tetapi mundur dan usahakan untuk mengumpannya keluar "

" Jangan menyerang musuh yang menduduki medan kunci "


Medan pusat

Strategi SUn Tzu untuk negara yang terkepung , berpusat pada penggunaan diplomasi dengan :

" Memelihara persahabatan dengan negara tetangga "

" Memperkuat hubungan dengan para sekutunya "

Medan yang mengkianati

Medan yg tandus

" Jalan berdiam di medan yang tandus "

Medan yang jauh

Medan serius

" Merampas sumber musuh"

" Lindungi jalur pasokan untuk menjamin arus perbekalan yang tidak terputus "

" Karena itu , panglima yang bijak memasi8kan bahwa pasukannya dapat memperoleh makanan dari musuh , karena satu gerobak perbekalan musuh sama dengan duapuluh miliknya sendiri, dan satu pikul makanan kuda musuh, sama dengan dua puluh ppikul mikliknya sendiri"

" Suatu negara dapat menjadi miskin karena operasi militer disebabkan pengangkutan yang jauh , pengangkutan perbekalan lewat jarak yang jauh menjadikan orang menjadi putus asa "

Medan kematian

" Bertempur "

" Harus dijelaskan sejelas jelasnya , bahwa tidak ada peluang untuk bertahan hidup (terkecual dengan perang)

Medan tidak memihak
Penerapan Strategi : Faktor Manusia
Pendahuluan
Penguasa
Komando

" Kepanglimaan komandan menunjukkan kepada sifat sifat yang dimiliki panglima seperti kearifan, ketulusan, kebapakan, keberanian dan disiplin "

" Ia dapat terbunuh, jika ia sembrono "

" Jika ia pengecut, maka ia dapat tertawan", Bila lekas marah, ia dapat dihasut ", Jika ia gila hormat, ia mudah dihina"

"Bila ia terlalu perasa terhadap orang, ia mudah dapat digoda"

"Kehancuran suatu tentara dan kematian panglimanya disebabkan oleh kelima kekurangan ini. Sebab itu perlu sekali untuk memahaminya dengan benar "

Berhati hati
Kemampuan untuk membuat rencana
Kemampuan untuk mengelola tentaranya
Kemampuan untuk melaksanakan rencana dengan efektif

Keberanian

Pengendalian diri
Seorang panglima tidak melakukan pertempuran karena rasa kebencian

" Sementara kemarahan dapat dikembalikan ke kebahagiaan dan kebencian dijadikan menyenangkan; suatu negara yang hancur tidak dapat dibangun kembali dan orang yang meninggal tidak dapat hidup kembali"

Pragmatisme
" JIka situasinya menyenangkan, panglima harus tetap berperang meskipun penguasa mungkin sudah memerintahkan untuk tidak melibatkan diri. Jika situasinya menggambarkan kekalahan, maka panglima tidak boleh berperang walaupun penguasa mungkin sudah memerintahkannya demikian "

Ketulusan

Tentara

Pengendalian
"Apabila panglima itu lemah dan tidak disiplin,jika pelatihan dan perintah tidak jelas , bila tugas dari perwira dan bawahan tidak berbeda, dan susunan pasukan itu lamban, maka hasilnya adalah disorganisasi mutlak"

" Jika seorang panglima membelai pasukannya tetapi tidak dapat menggunakannya; jika ia menyayangi mereka secara berlebihan tetapi tidak dapat memberikan perintah ; jika pasukannya tidak teratur tetapi ia tidak dapt mendisiplinkan mereka; maka mereka lebih mirip gerombolan yang dimanjakan dan tidak berguna sama sekali"

Komunikasi
" The book of military managemen mengatakan : karena suara manusia dalam pertempuran tidak dapat terdengar, gunakanlah gong dan genderang; karena mata dari kejauhan tidak dapat melihat arah dan gerakan manusia, maka gunakanlah panji panji dan bendera "

" karena itu gunakanlah sebanyak mungkin obor dan genderang dalam serangan malam hari; di siang hari, gunakanlah sebanyak mungkin panji dan bendera. Tanda yang berbeda ini dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian dari alat pendengaran dan penglihatan "

Moral
" Bila kemenangan tertunda terlalu lama, semangat dan moral pasukan akan menurun"

" Dalam tahap awal pertempuran, semangat pasukan tinggi; kemudian hal itu menurun berangsur angsur; pada tahap akhir semangat mereka rendah dan mulailah masuk pikiran rindu kampung halaman. Karena itu mereka yang ahli dalam ilmu perang menghindar dari menyerang musuh saat semangat mereka masih tinggi, tetapi menyerang mereka pada saat semangatnya mengendor dan para serdadu sudah ingin pulang. Ini yang disebutkan sebagai pengendalian faktor moral"

" Jangan melawan musuh yang mendekat dengan panji panji teratur dan rapi; jangan menyerang musuh dengan jajaran pasukan yang kuat dan mengesankan. Inilah pengendalian dari faktor keadaan y ang berubah"

" Gunakan disiplin dan ketertiban untuk mengimbangi ketidaktertiban musuh ; gunakan ketenangan untuk menangani situasi yang kacau. Ini adalah pengendalian faktor emosional"


" Manfaatkan kedekatan dengan medan tempur untuk mengimbangi jarak dengan musuh; gunakan istirahat untuk mengimbangi kelelahan musuh ; dan pasukan yang bergizi baik untuk mengimbangi pasukan musuh yang kelaparan. INilah pengendali faktor fisik

Pengendalian Strategi

Prinsip Dinas rahasia

Prinsip keamanan

Menilai Situasi

Prinsip perencanaan terinci
Dengan Perencanaan yang seksama dan terinci, anda dapat menang , dengan perencanaan yang gegabah dan tidak terinci, anda tak mungkin menang. Dan kekalahan akan menjadi kepastian jika anda tidak mempunyai rencana sama sekali ! Dari cara perencanaan dilaksanakan sebelumnya, kita dapat meramalkan kemenangan atau kekalahan.

Pra-syarat membuat rencana

Pengaruh Moral

Iklim
Siklus bisnis
Kondisi yg menguntungkan/tidak
Norma kebudayaan dan sosial
Tingkat teknologi serta laju perubahan teknologi
Perubahan dalam susunan pasar
Faktor ekonomi

Lapangan
Bila lokasi sebuah perusahaan sudah diterapkan maka hal itu menentukan sifat persaingannya :
• pasokan bahan mentah
• tenaga kerja yang murah dan effisien
• pasar modal
• pasokan mesin dan peralatan
• bakat dan ketrampilan manajerial
• teknologi dan pusat riset dan pengembangan
• pasar konsumen, baik lokal maupun luar negeri
• jasa infrastruktur seperti telekomunikasi , fasilitas pengangkutanm pasokan air dan listrik , kemudahan pergudangan

Medan operasi sulit atau mudah ?

Apakah medan itu terbuka/ terbatas ?

Jarak medan pertempuran dari lokasi perkemahan

Derajat bahaya yang ditimbulkan
Kepemimpinan

5 sifat negatif pemimpin .
"Jika berani tanpa perhitungan, ia dapat terbunuh;
" Jika ia pengecut, maka ia dapat ditawan;
"Bila cepat naik pitam, ia mudah dihasut
" Bila ia gila hormat, maka ia mudah dihina
" JIka ia mudah terhadap rakyat , maka ia mudah diusik

Kearifan

Ketulusan

Kebapakan

Keberanian

Kekerasan

Doktrin (hukum)
" jika tentara bingung dan curiga, maka negara tetangga pasti akan menimbulkan masalah. Hal ini sama dengan , pepatah " tentara yang kebingunan pasti memberi kemenangan musuh"

" jangan terlibat perang dengan musuh yang bendera perangnya tertaur rapi; jangan menyerang musuh dengan jajaran pasukan yang terkuat dan mengesankan

" Pengelolaan pasukan yang besar sama saja dengan pengelolaan pasukan kecil. Yang penting adalah penyusunan dan pengorganisasiannya

" Mengendalikan pasukan yang besar dalam pertempuran serupa dengan pengendalian pasukan kecil. Semua itu persoalan penyusunan dan pemberian tanda"

" Disiplin atau tidak disiplin tergantung pada organisasi "



Kekuatan
" Jika jumlah anda lebih banyak berbanding sepuluh lawan satu, kepunglah musuhmu:
Jika perbandingan itu lima lawan satu , serang mereka
Bila perbandingan dua lawan satu, hendaknya anda memecah-belah mereka
Bila anda seimbang, anda dapat memilih untuk bertempur
Jika sedikit lebih lemah dari musuh, anda harus mampu menarik diri
Jika sangat lemah, hindari pertempuran
Sebab bagaimanapun tegarnya, pasukan kecil akan menyerah pada kekuatan yang lebih besar dan unggul"

" Sebab itu , suatu tentara yang tidak memiliki peralatan berat akan kalah dalam pertempuran; tentara yang tidak mempunyai bahan makanan tidak dapat bertahan hidup; tentara yang tidak mempunyai persediaan tak mungkin melanjutkan pertempuran"


Pelatihan
" Kekuatan suatu balatentara tidak tergantung pada kekuatan yang besar. Janganlah anda maju dengan hanya mengandalkan pada kelebihan numerik mutlak

" Sebab itu , dia (panglima) mampu memilih orang yang mampu memanfaatkan situasi

Posted at 11:55 am by basuki1
Make a comment  

Nov 7, 2005
BRIAN EPSTEIN, PENCETAK THE BEATLES


Saya, sudah lama dikirimi tulisan tentang Beatles , dari salah satu kawan, mas Bob, kira kira 7 tahun lalu. Entah sudah menjadi buku atau belum file yang dikirim mas Bob tersebut. File tersebut berisi perjalanan group musik ternama The Beatles.

Saya akan berbagi 'file' tersebut disini , akan tetapi tidak sekaligus ,saya akan cicil menjadi beberapa bagian yang menarik. Bagian yang sekarang saya akan letakkan adalah tentang Brian Epstein. Ditangan dia lah , Beatles lahir. Boleh dikatakan kalau tidak ada Brian Epstein tidak akan ada Beatles, walaupun sebelum ditemukan , Beatles sudah ada. Hanya saja, ditangan seorang Brian Epstein , Beatles menjadi dikenal orang dan kemudian seperti kita ketahui hingga saat ini , masih sulit menggantikan posisi Beatles sebagai legendaris kelompok musik pop.

Beatles mulai menurun 'kejayaan' nya setelah Brian Epstein wafat. Salah satu yang membuat Brian Epstein 'bunuh diri' karena kesombongan anggota Beatles sendiri. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita semua , bahwa ada peran orang lain pada diri kita .

-bsd-


BRIAN EPSTEIN, PENCETAK THE BEATLES

Kalau kita membuka lembaran Sejarah musik pop Inggris diawal tahun 60 an, maka kita akan mendapati nama Brian Epstein , seorang tokoh yang telah berhasil mencetak group band terpopuler sepanjang jaman The Beatles. Dia juga dijuluki sebagai Beatles ke lima.

Brian Epstein dilahirkan tanggal 19 September 1934 di daerah miskin Rodney Sreet, Liverpool. Cucu seorang immigran dari Scotland. Brian adalah anak pertama dari Harry dan Quenny Epstein. Adiknya hanya seorang saja bernama CLIVE. Pada usia 4 tahun Brian sudah di sekolahan ke Taman Kanak - kanak.

Ketika perang Dunia II pecah, kota Liverpool tidak luput dari sasaran bom pesawat - pesawat Jerman. Lebih - lebih karena di kota itu terdapat pangkalan Angkatan Laut Sekutu. Di saat yang keruh ini keluarga Epstein pindah ke Soutport dan disana Brian meneruskan sekolahnya. Tetapi agaknya Brian tidak segera bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru dan teman - teman serta gurunya. Ia sering ngambek dan tidak mau belajar.

Hingga tahun 1943 ketika dirasa peperangan sudah mulai reda di Liverpool mereka kembali kota kelahiran Brian. Tetapi sayang rumah mereka sudah porak - poranda terkena bom bom Jerman. Akhirnya mereka mendapat tempat tinggal yang baru di Childwall yang terletaknya dipinggiran kota Liverpool. Disini Brian masih juga menunjukan tanda - tanda kesulitan dalam menyesuaikan diri. Oleh karenanya orang tua Brian serta kepala sekolah tempat ia belajar memperhatikan secara khusus. Dalam beberapa hal Brian mendapatkan pelajaran secara privat di rumah. Sebenarnya Brian adalah seorang anak yang cerdas dan mudah memahami sesuatu. Ia adalah seorang type otodidak, yaitu seorang yang belajar sendiri dari apa yang dia lihat di sekelilingnya, disamping itu Brian juga seorang yang pembosan dan tidak suka menekuni sesuatu secara terus - menerus.

Setamat dari SMA Brian membantu usaha orang tuanya dibidang meubel, tetapi ini tidak berlangsung lama karena tiba - tiba ia tertarik pada bidang Pharmasi. Setelah mengikuti kuliah disebuah Fakultas Farmasi selama beberapa waktu Brian bekerja pada sebuah perusahaan obat - obatan di kotanya. Pekerjaannya itu dijalani sampai ia berusia 19 tahun pada usia mana pemuda Inggris terkena wajib militer pada saat itu. Dan Brian Epstein pun menjadi tentara.

MENJADI WIRA SWASTA

Belum sampai 10 bulan Brian menjalani wajib Militer ia melapor keperwiraan kesehatan dibarak bahwa ia tak sanggup lagi meneruskan wajib militernya. Oleh dokter militer ia dibawa ke ahli psychologi dan daripadanya diperoleh keterangan bahwa ternyata Brian Epstein dinyatakan nervous (tidak cukup tabah menghadapi medan perang) sekalipun keadaan phisiknya dan kesehatannya dinyatakan cukup baik. Dan permohonannya untuk mengundurkan diri dikabulkannya.

Brian kembali ke Liverpool dan membuka usaha sebagai pedaagang meubel. Melihat kemauan anaknya ini orang tua Brian merasa senang sekali. Tetapi pekerjaan ini juga tidak lama ditekuni, Brian segera berpindah ke Liverpool Plyhouse, melamar sebagai pemain sandiwara. Agaknya ia cukup mempunyai kemampuan dibidang akting sehingga sempat kebagian peran untuk membawakan peran dengan dialog sebanyak 2 halaman naskah pada sandiwara yangberjudul “CONFIDENTAL CLERK” dan”MACHBETH”. Setelah bosan dipanggungia berminat kembali belajar berdagang. Pda usia 22 tahun atas desakan ayahnya Brian kembali meneruskan usaha meubelnya.

Sementara itu usaha ayahnya sendiri semakin maju dengan pesat. Mereka membuka toko piringan hitam di daerah perkotaan. Kemudian setahun lagi dibuka cabang baru (terjadi ditahun 1959). Dan untuk cabang baru ini Brianlah yang diserahi untuk mengelolanya. Di tokonya ini Brian menjual piringan hitam dari musik pop sampai klasik. Tokonya diberi nama NEMS yang merupakan singkatan dari NORT EAST MUSIC STORE (yang akhirnya nama ini dipakai terus sebagai nama usahanya dalam mengelola Beatles). Dari sinilah Brian mengenaldunia musik pop, dan ternyata ia mempunyai cita rasa yang baik dalam memilih musik. Tidak ada yang tahu sebelumnya bahwa dalam waktu yang relatip singkat dimusim gugur tahun 1962 toko NEMS milik Brian ini telah menempati sebuah ruangan di LIVERPOOL SHOPPING CENTRE dan paling banyak dikunjungi oleh orang di kota ini. Itupun ternyata belum berarti apa - apa kalau dibanding kesuksesan berikutnya yang dicapai oleh Brian bersama Beatles.

BRIAN EPSTEIN MENEMUKAN THE BEATLES

Permulaan kisah karir Brian Epstein dan The Beatles yang hebat itu dimulai pada suatu hari tanggal 28 Oktober 1961. Waktu itu jam 3 sore ketika seorang pemuda memasuki toko Brian. Ia mengenakan jaket kulit dan celana jean denim yang populer dikalangan remaja pada saat itu. Tamu itu menanyakan rekaman lagu “My Bonnie” dari The Beatles, yang dijawabnya tidak ada. Tetapi agar tidak mengecewakan tamunya maka Brian berpura - pura tertarik. Tamu itu mengatakan bahwa group baru itu bermain di Cavern Club.

Sebenarnya Brian tidak begitu memperdulikan bualan tamunya tetapi karena Cavern club dimana Beatles bermain adalah salah saru club langganan Brian maka diluar kemauannya pada suatu hari di bulan Desember 1961 menyaksikan performa The Beatles ketika dia mampir ke Cavern. Dari sinilah awal ketertarikan Brian pada The Beatles dan perkenalannya dengan anggota - anggotanya yang lain. Mengenai pertemuan Brian dengan Beatles ada berbagai versicerita yang sulit diyakini mana yang paling benar. Pada buku “PAPER BACK WRITTER” tulisan Mark Shipper dikisahkan pertemuan mereka sebagai pertemuan tidak disengaja yang lucu. Kisahnya begini :

Disamping mengelola toko piringan hitam milik ayahnya, Brian yang pembosan ini juga bekerja sebagai ahli membetulkan saluran ledeng. Itu dilakukan setelah tokonya ditutup pada petang hari. Pada suatu hari Brian mendapat panggilan dari salah seorang langganannya yang kebetulan pipa leidengnya macet. Langganan itu adalah pemilik Cavern. Karena sudah biasa memperbaiki di sana, maka Brian langsung menuju ke tempat yang macet tersebut, kebetulan dibagian W.C wanita. Ketika Brian masuk ketempat itu dia mendapati banyak sekali gadis - gadis yang sedang bersembunyi- sembunyi mengisap ganja, ada yang menyuntikan morphine. Melihat Brian yang masuk secara tiba - tiba dengan mengenakan pakaian kerja, gadis - gadis yang lagi stone itu mengira Brian adalah seorang Polisi.
- “ Polisiii !!! “ teriak salah seorang gadis itu yang segera membuat teman-temannya yang lain menjadi panik. Mereka mencoba melarikan diri. Tetapi satu - satunya pintu keluar adalah dibelakang Brian. Salah seorang gadis dengan nekat menghunus belati dan bersiap hendak menikam Brian. Brian sendiri menajdi amat terkejut dan takut. Ia segera melarikan diri mencari tempat persembunyian karena mengira gadis - gadis itu mengejarnya terus. Brian melihat sebuah pintu didekat situ, dengan cepat ia masuk kesana dan menutupnya. Sialnya pintu itu terkunci dengan sendirinya sedang jalan tembus kesana menuju kepanggung show. Rupanya ia telah masuk ke kamar ganti para pemain.

Sambil berpikir - pikir bagaimana cara ia keluar, Brian menikmati permainan musik group yang sedang menghibur tamu. “bagus juga group ini” pikir Brian. Tak lama kemudian group yang tak lain adalah The Beatles itu selesai bermain dan masuk kekamar ganti. Mereka mentertawakan Brian dengan pakaian tukang leideng yang terkunci disitu. Dari sinilah mereka saling mengenal. Brian memuji permainan The Beatles dan menanyakan apakah mereka sudah mempunyai seorang manager. John menjawab, “Apa gunanya memiliki seorang manager kalau itu hanya berarti harus menyisihkan sebagaian pendapatan mereka untuk menggaji sang manager”. Kemuadia Brian bercerita bahwa ia banyak mempunyai kenalan orang - orang yang bergerak dibidang pengelolaan artis, dan juga bercerita bagaimana bintang - bintang terkenal bisa memperoleh kesuksesan. Menerangkan betapa pentingnya fungsi seorang manager bagi sebuah group yang ingin berkembang sebagai sebuah group band proffesional. Malam itu mereka terus ngobrol dan minum kopi bersama serta membuat janji untuk bertemu pada minggu berikutnya di kantor Brian. Sedangkan kejadian selanjutnya seperti yang telah kami tuturkan pada bab terdahulu.

MERSEY SOUND MELANDA INGGRIS

Semenjak Brian diangkat menjadi manager The Beatles ia berfikir inilah Profesi yang amat menyenangkan baginya. Belum pernah ia memiliki semangat dan harapan begitu meyakinkan seperti saat itu. Lebih - lebih ketika single pertama The Beatles “LOVE ME DO” berhasil sukses yang menggembirakan maka dicobanya untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak . Brian berfikir bahwa jenis musik seperti inilah yang rupanya amat digemari orang. Maka diajaknya seorang penulis lagu yang bernama Martin Rose untuk menulis beberapa lagu yang iramanya mirip- mirip LOVE ME DO, dan lagu - lagu itu disodorkannya pada rock’n roll lokal yang lain, seperti GARRY AND THE PEACH MAKER, BILLY KRAMMER AND THE DAKOTA’S, MERSEY BEAT dll. Sebagai hasilnya memang tidak mengecewakan. Bisnis musik di Inggris diramaikan oleh lagu - lagu yang sewarna dengan LOVE ME DO dari group - group yang tersebut diatas. Dan demam musik ini sempat dinamai sebagai Mersey Sound yang biang keladinya tak lain adalah The Beatles. Mersey Sound ini berkembang seiring dengan perkembangan musik Beatles sendiri yang akhirnya dunia luar lebih mengenalnya dengan LIVERPOOL SOUND. Ini hasil ulah Brian Epstein juga agaknya.

Dalam waktu yang tak terlalu lama Brian Epstein segera menjadi orang penting yang menangani bisnis besar, transaksi - transaksi, kontrak - kontrak rekaman, tour show dan bahkan menangani pembuatan film - film The Beatles. Semua kegiatannya ini dilakukan dibawah perusahaan pribadinya yang bernama NEMS INTERPRISES.

KEMATIAN YANG TRAGIS

Bagi Brian Epstein yang pada masa mudanya mengalami masa keterombang - ambingan dalam mencari karir yang ditekuninya dalam hidup, maka ketika dia mendapati keayikannya dalam dunia musik semenjak mengelola Toko Noems milik ayahnya terlebih ketika dia merasa berhasil memimpin The Beatles sebagai group musik yang memperoleh sukses luar biasa, maka tak mengherankan kalau dia menganggap Beatles adalah segala - galanya bagi hidup Brian. Disini ia merasa bahwa dirinya berguna dan mampu berbuat sesuatu yang benar, dan untuk itu ia bersedia mencurahkan segala tenaga dan kepandaiannya untuk memimpin group asuhannya. Bertolak dari kebanggaan dan rasa kepercayaan pada dirinya sendiri maka Brian bisa menampilkan dirinya sebagai orang yang sukses, bijaksana dan berakal cemerlang.

Seandainya ada seorang psychiater yang mendampingi kehidupan Brian disaat-saat kejayaannya mungkin ia sudah akan menduga apa yang selanjutnya terjadi pada diri orang penting ini. Kerjasamanya dengan John dan kawan - kawan sebenarnya sudah mencapai titik kulminasi pada keserasian berfikir serta rasa saling mengandalkan ketika perkembangan keadaan yang tidak diperhitungkan terjadi.

Selama ini John, Paul, George dan ringgo senantiasa berdisiplin menurut jadwal serta instruksi yang dibuat oleh Brian sebagaimana yang dilakukan mereka sejak semula. Tetapi keberhasilan yang bertubi - tubi, uang yang datang secara melimpah serta kebosanan hidup sebagai orang terkenal yang jarang bisa menikmati kehidupan pribadi membuat John, Paul dan George terlibat dalam kebiasaan bernarkotik. Bahkan kebiasaan ini telah dilakukan secara terang-terangan disaat mereka tengah dalam pembuatan album SGT. PEEPER. Disusul pecahnya perhatian person Beatle ketika mereka mulai tertarik pada ilmu magis dunia timur dengan berguru pada Maharishi Yogi. Ini membuat rasa disiplin dalam diri person - person Beatle terhadap kepemimpinan Brian mulai meluntur. Mereka mulai ogah - ogahan untuk tampil dipanggung show. Dan celakanya Brian mulai menyadari bahwa John dan kawan - kawan semakin pandai dalam teknik rekaman dan mengatur diri sehingga secara tiba - tiba Brian merasa dirinya jadi kecil dan tidak berguna. Anak- anak asuhannya terasa jauh lebih pandai dan tidak lagi memerlukan dirinya. Semua ini menghimpit perasaan dan sekaligus menghancurkan rasa kepercayaan dan kebanggaan terhadap dirinya sendiri yang berhasil diperolehnya dalambeberapa tahun terakhir ini. Penderitaan psychologis semacam ini memang sering menimbulkan akibat yang fatal. Demikian juga bagi Brian yang pendiam ini.

Tak ada seorangpun yang merasa ada keanehan dibalik sikap Brian ketika dia mengumpulkan teman - teman lamanya untuk berakhir pekan dalam acara August Bank Holliday yang berlangsung di Sussex. Dan juga tidak pernah ada yang menduga ketika itu bahwa beberapa saat lagi tokoh yang dihormati segenap rekan nya ini akan memutuskan mati bunuh diri. Baru ketika hari Senin seusai mereka menikmati liburan akhir pekan mereka terdengar kabar bahwa Brian ditemukan telah meninggal dunia didalam kamar apartemennya. Sebab - sebab kematiannya diumumkan sebagai kecelakaan dalam pemakaian obat - obatan yang terlampau banyak.

Dunia bisnis musik pop merasa kehilangan salah seorang tokoh yang telah turut mengubah jalannya sejarah musik pop di Inggris. The beatles sendiri segera mengambil keputusan untuk mencabut hubungan dengan Nems Interprises karena hanya Brian sajalh yang patut mereka turut dan percaya. Bagi The Beatles sendiri kematian Brian ini merupakan suatu kecelakaan yang tak segera disadari. Bagi kebanyakan orang yang melihat sepintas mungkin akan berkomentar “oh dia (Brian) tidaklah berbuat terlalu banyak pada The Beatles”. Tetapi kalau mereka mengamati perkembangan The Beatles semenjak ia meninggal mungkin akan membuat heran. Banyak orang yang akhirnya sependapat untuk mengatakan bahwa Brian Epsteinlah yang sebenarnya telah mencetak The Beatles. aatau kalau tidak : Sebenarnya bukan Brian yang membuat The Beatles, tetapi ia telah berbuat begitu banyak, berbuat sesuatu yang paling benar pada The Beatles melebihi apa yang pernah ia perbuat pada dirinya sendiri.


Posted at 09:13 pm by basuki1
Make a comment  

Nov 6, 2005
Beyond economic growth



Ada satu artikel yang diterbitkan oleh Worldbank tentang pendekatan ekonomi yang dilakukan oleh World Bank dan pandangan World Bank sendiri tentang pembangunan. Kalau dilihat dari approach yang dilakukan selama ini, terutama untuk negara negara berkembang, maka kita hanya melihat bahwa World Bank tidak lebih dari sebuah bank yang memberikan pinjaman/hutang buat negara negara developing countries dimana kebanyakan negara tidak dapat membayar kembali pinjamannya terhadap World Bank.

Tapi menurut pandangan saya ,walaupun mereka sebuah Bank , approaching yang dilakukan juga berubah , tidak hanya memberikan pinjaman tapi juga memberikan semacam social investment bagi negara negara yang mereka beri pinjaman.

Konsep konsep mereka tentang pengentasan kemiskinan , pendidikan , peningkatan kualitas hidup, peningkatan terhadap kepekaan terhadap lingkungan hidup dan lainnya , menjadi suatu bahasan yang menarik dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Pendekatan yang berbeda ini, dapat dijadikan sebuah contoh bagaimana sebuah conventinal bank melakukan perubahan sudut pandang (paradigma) dalam pembangunan. Kalau dilihat dari artikel Beyond the economic growth ini , yang isinya sangat bagus, sebenarnya ini semua ada dalam Islam. Hanya saja orang Islam perhatiannya terhadap Al Qur'an dan Al Hadist kurang,sedangkan orang orang barat justru banyak mengadopsi isi Al Qur'an.


Mudah mudahan kita bisa bersyukur dan terus belajar . dan ini url dibawah ini adalah letak artikel Beyond economic growth dapat di download dan saya juga masukkan daftar isi tulisan tersebut. Mudah mudahan wawasan kita bertambah dan kita dapat mengamalkan apa apa yang baik dan benar. Satu hal lagi , rupanya world Bank juga mengambil konsep dari Amartya Sen (buku Freedom to development).


http://www.worldbank.org/depweb/beyond/global/chapter1.html

I. What is development?
II. Comparing Levels of Development
III. World Population Growth
IV. Economic Growth Rates
V. Income Inequality
VI. Poverty
VII. Education
VIII. Health and Longevity
IX. Growth of the Service Sector
X. Urbanization and Urban Air Pollution
XI. Public and Private Enterprises: Finding the Right Mix
XII. Globalization and International Trade
XIII. Foreign Aid and Foreign Investment
XIV. Economic Development and the Risk of Global Climate Change
XV. Composite Indicators of Development
XVI. Indicators of Development Sustainability
XVII. In Search of a Comprehensive Development Strategy

Posted at 10:20 pm by basuki1
Make a comment  

Previous Page Next Page