<< December 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




Dec 26, 2005
Tsunami , setahun lalu


Pada minggu siang tanggal 26 Desember 2004 , seperti biasa saya ke CNRG untuk melihat banyak hal  yang ada di dalam kampus terutama email dan web. Sekitar jam 12 an saya menyalakan TV dan kebetulan ada liputan 6 siang (12 an) dari SCTV dan mengabarkan bahwa ada gempa bumi di dekat Banda Aceh dan Banda Aceh belum dapat terhubung sejak pagi hari. Semua komunikasi putus ke dan dari Banda Aceh.

Penasaran juga apa yang terjadi , akhirnya aku buka http://news.bbc.co.uk/ karena saya pikir biasanya kalau ada kejadian kejadian yang berkaitan dengan dalam negeri, berita dari luar negeri lebih cepat. Dan dalam situs tersebut sudah ada berita tentang gelombang Tsunami di Srilanka yang menelan banyak korban. Yang menarik , bahwa gelombang Tsunami tersebut berasal dari gempa di Selatan Banda Aceh.

Saya agak kaget dan agak cemas karena menurut berita SCTV , Banda Aceh tidak bisa dihubungi alias seluruh telekomunikasi ke dan dari Banda Aceh terputus. Kira kira jam 16 an , saya buka lagi http://news.bbc.co.uk/ dan melihat updates terbaru, sementara dari Headline news Metro TV tidak ada berita update terbaru tentang situasi di Aceh. Dan dari berita di news.bbc, jumlah korban bertambah terus di Srilanka dan juga ada laporan bahwa gelombang Tsunami juga terjadi di Thailand (Phuket) dan juga India.  Sementara itu sudah mulai ada laporan bahwa ada korban di Banda Aceh yang jumlahnya masih terhitung puluhan dan mereka belum bisa melaporkan secara lengkap karena berita yang didapatkan berasal dari salah seorang anggota Amatir radio  bahwa telah terjadi gelombang besar di Banda Aceh  yang menghantam Banda Aceh.
Selain itu , saya ingat bahwa kalau terjadi gempa, biasanya laporan dari Amerika ,
USGS (http://www.usgs.gov) secara kualitatif akan memberikan laporan dimana letak episentrum gempa . Dan saya melihat dari data USGS telah terjadi gempa dengan kekuatan diperkirakan lebih dari 9 skala Richter dengan pusat di selatan Banda Aceh yang jaraknya kalau tidak salah sekitar 200 Km dari Banda Aceh.

Saya pikir , ini besar sekali dan saya melihat peta , feelingku , gempa ini pasti merusak Banda Aceh karena dekat sekali pusat gempa dengan Banda Aceh

Jam 18 an , saya menonton kembali berita di SCTV dan Metro TV. Dan dikabarkan telah terjadi musibah di Banda Aceh yaitu terjadi gempa bumi yang episentrum nya tidak jauh dari Banda Aceh. Data tersebut didapat dari BMG (Badan Metrologi dan Geofisika) dan data BMG hanya menyebutkan (kalau tidak salah) gempa tersebut berkekuatan 6 Skala Richter. Jelas saya kurang percaya dan lebih percaya data daru USGS , apalagi ditambah tidak ada komunikasi yang bisa masuk ke Banda Aceh. Saya mencoba telpon salah satu ex operator entry data KPU disana, dan memang tidak bisa masuk.

Saya coba pantau sampai malam hari, sekitar jam 22 an melalui headline news di Metro , beritanya relatif tidak berubah. Feeling saya makin tidak enak , saya merasa ada sesuatu yang besar yang terjadi disana karena seluruh jalur komunikasi terputus kecuali mungkin melalui amatir radio.

Saya berkomunikasi dengan beberapa teman termasuk bu Chusnul Mar'iyah (anggota KPU) karena bu Chusnul juga mencoba menghubungi salah satu anggota KPUD NAD , ibu Titin, yang kebetulan mengurus IT KPU pada saat pemilu 2004 dan tidak dapat dihubungi HP beliau.

Saya mengatakan pada bu Chusnul , bahwa ini ada bencana besar kalau dilihat dari website bbc dan USGS , walaupun keterangan resmi dari pemerintah belum ada. Saya juga menyampaikan , sepertinya kita bisa memanfaatkan telepon satelit KPU yang masih ada di gudang untuk bantuan komunikasi.

hari telah larut , jam 23 , saya terpaksa cabut dari CNRG ,......dengan perasaan agak kuatir. Di luar kami ketemu pak Erwin yang juga berusaha menghubungi
 teman teman di Aceh termasuk bu Tintin tapi tidak dapat dihubungi..

akhirnya kami pulang dengan perasaan was was tentang keadaan di Aceh..






Posted at 10:36 am by basuki1
Make a comment  

Dec 25, 2005
Pabrik (nya) Sugandi


Siang ini , aku berkunjung ke Pabrik temanku , Sugandi KI-90 di kawasan Boscha Lembang. Sudah lama aku tidak berkunjung ke pabriknya . Aku tanya, dia bikin apa sekarang , dan jawabnya dia sedang bikin pabrik pengolahan sawit.

Terus terang, saya mengunjungi dia adalah untuk bertanya soal pengolahan dan pabrik bio-diesel yang berbahan baku buah jarak pagar. Gandi cerita bahwa bio-diesel itu sudah dia kembangkan sekitar 2 tahun lalu. Ada beberapa hal  yang aku dapat dari penuturan Gandi , antara lain :

  • Dia mempunyai proyek percontohan di NTT
  • Untuk dapat menghasilkan bio-diesel dengan kapasitas 2 ton/ hari dibutuhkan lahan sekitar 350 hA
  • Waktu menanam jarak sejak dimulai sampai bisa dipetik buahnya adalah sekitar 7 bulan
  • Biaya per Kg jarak pagar adalah Rp 500 - Rp 800
  • untuk menghasilkan minyak jarak per liter dibutuhkan paling tidak 3 Kg buah jarak
  • Biaya pengolahan (esterifikasi dsb) + total biaya produksi untuk menghasilkan minyak bio-diesel per liternya adalah Rp 3500, karena dalam proses pengolahan minyak jarak menjadi minyak bio-diesel diperlukan bahan baku lain misalnya Etanol dan Caustic Soda (NaOH) sebagai bagian dari proses esterifika
  • By product dari bio-diesel ini adalah Glyserin  (http://en.wikipedia.org/wiki/Glycerine)  dimana glyserin ini adalah salah satu bahan kimia yang dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan seperti obat obatan dan bahan kosmetik
Beberapa gambar tentang pabrik nya Gandi ini ada di
http://basuki8123.fotopic.net/c804887.html


Posted at 09:17 pm by basuki1
Make a comment  

Dec 24, 2005
Resepsi Pernikahan Putri Pak Nazar


Tanggal 23 Desember 2005 adalah hari yang mengharukan bagi pak Nazarudin Sjamsuddin, Ketua KPU (Non akfit) karena hari tersebut ,beliau menikahkan putri nya yang no 2 , Amalia NS , seorang dokter gigi yang menikah dengan Bram Moeis , cucu seorang sastrawan terkenal Abdoel Moeis.

Resepsi pernikahan putri pak NS diselenggarakan di hotel Kartika Chandra , Jakarta.

Pada saat mempelai berdua masuk kedalam ruangan resepsi dengan di iringi tarian adat aceh diikuti seluruh anggota keluarga besar mereka berdua, terasa sekali suasana haru. Paling tidak itu yang dapat saya rasakan, terutama lagu yang mengiringi pengantin dan keluarga berjalan ke pelaminan mempunyai 'rasa' yang mengharukan tapi tidak cengeng. Saya sendiri tidak tahu itu lagu apa. Tapi paling tidak itulah yang saya rasakan.

Pak NS sempat melihatku pada saat mengiringi kedua mempelai berjalan karena aku sedang memotret juga. Terlihat agak 'kaget' dan 'surprised' saat melihatku.

Setelah itu kami antri untuk menyalami, pada saat antri sudah terlihat beberapa nama beken yang sering muncul di tv terutama dari pengamat pengamat politik dan juga beberapa anggota DPR antara lain AM FATWA dan Ferry Mursidan Baldan.
Pada saat giliranku berjabat tangan , pak NS berkata , " nah ini dia tim IT KPU" dan aku dipeluk beliau cukup erat (kaget juga sih , gak biasa di peluk,heheh) dan aku mengenalkan 'rombonganku' dari trainerkpu (Angga dan Keti) yang kebetulan ikut hadir dalam acara resepsi ini.

Pada awalnya, saya melihat jumlah tamu tidak begitu banyak , ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah antrian. Tapi , setelah beberapa saat (30 menit an), saya melihat tamunya makin lama makin banyak dan 'mengalir' terus seperti air atau kalau orang jawa bilang "Nyumber"...

Saya meninggalkan tempat sekitar jam 21.30 WIB dan masih banyak tamu tamu yang datang. Saya bersyukur ternyata memang Allah SWT menunjukkan pada kita bahwa memang pak NS orang baik, dalam kondisi beliau seperti ini , tetap masih banyak orang yang datang pada resepsi pernikahan putrinya.

Mudah mudahan pak NS diberi kekuatan oleh Allah SWT dan juga keluarga beliau. Mudaha mudahan cobaan ini bisa segera lepas dan pak NS bisa kembali berkumpul dengan keluarga , sahabat dan handai taulan.





Posted at 03:26 pm by basuki1
Make a comment  

Dec 20, 2005
Pria Sejati Menurut Konfusius


Selama lebih dari dua ribu tahun konfusius menjadi raja yang tidak bermahkota di China karena konfusianisme lebih dari sekedar warisan kebudayaan untuk orang China.

Salah satu pelajaran konfusius pada muridnya adalah tentang pria sejati :

Pria sejati haruslah rendah hati,murah hati , berwawasan luas dan baik hati

Seorang pria sejati mengerti apa yang adil dan benar; orang yang picik hanya mencari keuntungan

Seorang pria sejati menolong sesamanya untuk menyadari potensi mereka dan tidak mengikuti temannya berbuat jahat ; orang yang picik berbuat sebaliknya

Seorang pria sejati khawatir tentang ketidakmampuannya, bukan apakah orang lain menghargai kemampuannya atau tidak

Seorang pria sejati menuntut dirinya sendiri; seorang yang picik menuntut orang lain

Seorang pria sejati mempunyai lingkungan sosial yang luas; orang yang picik hanya menjadi pengikut.

Seorang pria sejati mula mula akan mempraktekkan apa yang dia katakan,kemudian mengatakan apa yang dia praktekkan

Seorang pria sejati lambat berbicara tapi cepat dalam bertindak




Posted at 07:01 pm by basuki1
Make a comment  

Dec 18, 2005
[itb75-res] Mandego koen! Lugurno pistolmu!



Dari salah satu mail di milis itb75 , ada berita yang menurut saya baik , dan berita ini adalah terobosan yang innovatif dari JTV, bahwa mereka menggunakan dubbing dengan bahasa Surabaya. Menarik sekali idenya , karena pasti akan lebih mengena di masyarakat terutama masyarakat Jawa Timur. 

Ide seperti ini juga sebenarnya dapat dilakukan oleh daerah daerah lain , selain akan lebih mengena pada masyarakat  setempat (lokal), juga akan dapat menumbuhkan content lokal yang banyak.


from : pekdd@hotmail.com
to : itb75-res@yahoogroups.com

=============

Buat yang ngaku "Arek"

masarcon 13th April 2005, 19:13

*Ketika Film-Film Asing Di-dubbing Pakai Bahasa Suroboyoan
*Yang Ngisi Suara Pun Tak Bisa Menahan Tawa


Mulai Mei nanti, JTV punya program baru. Namanya Film-Film Asing Boso
Suroboyoan. Sesuai namanya, program ini menayangkan film-film luar
negeri. Hanya saja, film-film itu disulih suarakan (dubbing) dengan
bahasa Soroboyoan.
-----------------------

Bayangkan, suatu saat nanti Anda menonton Tomorrow Never Dies-nya James
Bond.
Bayangkan pula agen rahasia itu bekejar-kejaran seru dengan para
penjahat dengan memakai BMW silver metalik. Dalam kejar-kejaran itu,
Bond minta musuhnya untuk menyerah. "Mandego koen! Lugurno pistolmu!
(Berhenti! Jatuhkan senjata! , Red)," kata agen ganteng itu memakai
bahasa Suroboyoan yang medok. Sepintas mungkin terdengar lucu.
Ada orang bule asli kok ngoceh memakai bahasa Jawa.

Tetapi, konsep itulah yang ditawarkan JTV lewat program Film-Film Asing
Boso Suroboyoan-nya. Program ini akan mulai tayang pada Mei nanti. Saat
ini, sudah ada dua serial dan sepuluh film lepas yang siap tayang. Dua
serial itu adalah Love Talks dan Swordman. Love Talks adalah film drama
dengan setting kisah cinta profesional muda di Shanghai. Sedangkan
Swordman berkisah tentang jagoan pedang di Tiongkok. Lalu ada film lepas
Tunnel Vision, film action tentang seorang polisi Amerika.

Tentu saja ada kesan sangat kocak yang muncul saat film itu disulihsuara
dengan bahasa Suroboyo. Pada Love Talks, misalnya. Dalam satu adegan,
sang pemeran utama wanita tampak tidur dengan pulas. Sementara, sahabat
prianya dengan gemas mencoba membangunkan wanita itu. "Hoi, tangio koen.
Wis telat iki. Cepetan, iki jange ono acara iki
(Hai, bangun. Ini sudah
terlambat. Cepat, ini mau ada acara, Red)," kata pria berambut merah itu.

Karena bangun dengan tergesa-gesa, handphone si wanita itu ketinggalan.
Di t engah jalan, dia pinjam HP milik seorang jejaka keren. "Nyilih
handphone-mu disik
," katanya. Si pria yang terbengong hanya bisa bilang,
"Hei, balekno handphone-ku," teriaknya. Insiden inilah yang akhirnya
menimbulkan kisah cinta di antara dua orang itu.

Dialog-dialog khas Suroboyoan itu tampaknya memang menjadi ciri khas
kuat film-film itu. Buktinya, sejak proses dubbing, film-film tersebut
sudah menyedot perhatian. Ini diungkapkan oleh Presiden Direktur JTV
Imawan Mashuri. "Itu adalah sesuatu yang baru, lucu dan menyenangkan,"
katanya.

Dalam istilah Imawan, film boso Suroboyoan itu mampu membangkitkan
kembali kegairahan dalam bekerja. Ini dirasakan terutama oleh para
dubber yang mengisi suara mulai Februar! i lalu. "Saat menyelesaikan
satu sequence (adegan, Red) akeh sing gak iso ngempet ngguyu (banyak
yang tidak bisa menahan ketawa)," ujar Imawan.

Memang, adegan-a degan film itu banyak sekali dipenuhi celetukan dan
umpatan khas Suroboyoan
. Tentu saja, kata-kata khas itu menjadi
terdengar lucu. Karena, meluncur dari bibir bintang-bintang film
Mandarin dan Barat. "Tetapi, menjadi ciri karakter kuat film tadi,"
ujar Imawan.

Bahasa Suroboyo, disebut Imawan memang memiliki karakteristik kuat.
Tak heran saat proses dubbing banyak sekali dubber film lain yang
menonton.
"Satu studio besar sampai menonton semua," katanya. Walaupun banyak
yang tak mengerti boso Suroboyoan, banyak yang suka dengan nuansa baru
yang muncul dari film itu.

Proses sulih suara itu memang tak digelar di Surabaya. Melainkan di
studio Incofo Swara, Jakarta. Hanya saja, menurut Imawan, para pengisi
suaranya adalah orang-orang Surabaya yang tinggal di ibu! kota. Tak
heran, bahasa Surabaya yang disuguhkan pun terdengar asli Suroboyo.
Meskipun, di sana sini kadan g masih ada bahasa Indonesia yang menyelip.

Hal itu memang sengaja dilakukan. "Kami ingin memakai dialog Surabaya
sehari-hari," tutur Imawan. Sehari-hari, orang Surabaya memang masih
memakai bahasa Indonesia. Misalnya, jika di kantor. "Kan tidak sopan
memakai bahasa ngoko," tambahnya.

Mengapa harus ada program itu? Sekadar mencari sensasi? Imawan
menerangkan bahwa JTV adalah sebuah TV lokal. Oleh karena itu, pihaknya
mencoba konsisten mengakomodasikan bahasa-bahasa lokal. "Kita kan punya
tiga bahasa utama," kata Imawan. Selain bahasa Suroboyoan, ada juga
bahasa Madura dan bahasa Jawa
Mataraman.

Saat ini, tiga bahasa itu memang sudah diakomodasikan dalam acara
berita di JTV. Khusus untuk film berbahasa Suroboyo, Imawan mengatakan
bahwa salah satu tujuannya adalah melestarikan dan menanamkan kebanggaan
berbaha! sa Suroboyo. "Ini juga untuk membangun jati diri budaya lokal,"
ujar Imawan. Jadi, mes kipun program hiburan, Imawan mengatakan bahwa
film-film itu juga punya nilai plus.

Meski demikian, Imawan mengatakan bahwa tak semua film bisa di-dubbing
dalam bahasa Suroboyoan. "Kita pilih film yang cocok dengan
karakteristik
Surabaya," katanya. Oleh sebab itu, tak mungkin film roman
klasik atau film horor yang terlalu mencekam dijadikan bahasa Surabaya.

Mungkinkah suatu saat nanti JTV menayangkan film berbahasa Madura?
"Mungkin sekali," tegas Imawan. Seandainya ini terlaksana, film itu
tetap akan ditayangkan dengan teks bahasa Indonesia.(doan widhiandono)

[SUMBER: http://www.ikastara.org/forums/archive/index.php/t-46.html]



Posted at 08:46 pm by basuki1
Make a comment  

Dec 17, 2005
[mediacare] Meningkatkan ekonomi rumah tangga di Cilacap



Dari milis mediacare@yahoogroups.com,
yang di forward salah seorang anggotanya, danny.lim@primascore.nl
yang mengangkat masalah meningkatkan ekonomi ibu rumah tangga.

Menarik sekali melihat apa yang dilakukan seorang romo dibawah ini,
karena sebagai orang Islam seharusnya kita juga melakukan hal hal yang dilakukan sang romo tersebut karena itu adalah ummat kita sendiri .

Saya sendiri sudah ada ide untuk melaksanakan hal itu walaupun dalam bentuk kecil  dan saya pernah juga mendengar ide untuk mengangkat perekonomian keluarga melalui ibu rumah tangga yang pernah di gagas oleh Prof Hasan Poerbo (ayah pak Onno) , hanya saja pak Hasan telah dipanggil Allah SWT sebelum saya sempat diskusi soal soal semacam ini dibawah.

Ada  banyak bentuk yang dapat kita lakukan untuk mengangkat ekonomi masyarakat dengan sesuatu yang real dan dibutuhkan oleh masyarakat sendiri. Oleh sebab kita harus dapat mengembangkan ekonomi rakyat pada skala mikro.

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------

Wira Usaha

Meningkatkan Ekonomi Ibu Rumah Tangga
Krisis ekonomi menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sejumlah perusahaan terpaksa gulung tikar. Kesejahteraan karyawan sulit dinaikkan dan yang sangat terpukul adalah ibu rumah tangga. Apalagi ibu rumah tangga yang tidak bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan produktif guna membantu perekonomian keluarga.



PEMBARUAN/ROSO SETYONO

PEDAGANG TELUK PENYU - Inilah kawasan wisata Teluk Penyu, Cilacap, Jawa Tengah. Pedagang di kawasan ini mendapat kredit dari Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) sehingga tidak takut menghadapi musik paceklik yang sering dihadapi para nelayan

Pelbagai usaha memang banyak dilakukan, baik secara perorangan maupun organisasi. Ada ibu rumah tangga yang berjualan makanan, membuat kerajinan, membuka salon, membuka warung. Organisasi seperti PKK, koperasi juga dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian ibu rumah tangga. Ada yang berhasil, tetapi banyak pula yang gagal.

Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) yang berpusat di Cilacap Jawa Tengah, sejak 2001 merintis usaha meningkatkan produktivitas ekonomi rumah tangga melalui ibu rumah tangga melalui program yang dinamakan income generating activity (IGA). Ibu-ibu ini dihimpun dalam satu kelompok terdiri dari 20 orang. Setiap orang mendapatkan kredit yang besarnya tergantung permintaan dan harus dikembalikan dalam waktu 6 atau 8 bulan ditambah bunga 2 persen dan 0,5 persen untuk kelompok itu.

Setiap bulan kelompok ini berkumpul membahas kegiatan sekaligus mengumpulkan uang cicilan. "Semula kami pesimis terhadap usaha ini. Kenyataannya, justru sebaliknya. Setelah empat tahun, yang dulu modalnya Rp 200 juta, sekarang sudah mencapai Rp 6 miliar. Ini luar biasanya," kata Ketua Umum YSBS, Romo Carolus Burrows dalam percakapan dengan Pembaruan baru-baru ini di Cilacap.

Di Cilacap, kelompok ini dinamakan kelompok swadaya wanita (KSW) dan sudah terbentuk 513 kelompok dengan anggota 10.122 orang. Belum lagi yang di wilayah Yogyakarta yang diberi nama kelompok swadaya perempuan (KSP). "Pemilihan penerima kredit ditelusuri melalui kepala desa, kemudian diadakan pertemuan warga. Semua dilakukan terbuka. Yang penting bagaimana kami ikut andil meningkatkan ekonomi ibu rumah tangga," ujarnya.


Tambah Modal

Warsiyah (46), anggota KSW Jatisari di kawasan pelabuhan perikanan Cilacap mendapat kredit Rp 250.000. Uang ini untuk menambah modal usahanya mengolah (memindang) kepala ikan jambal atau jahan. Dulunya ia hanya mampu membeli kepala ikan rata-rata sehari 10 kg dengan harga Rp 2.000 per kg. Kalau musim ikan, terasa sekali kekurangan modal. Dengan adanya kredit, ia bisa membeli sampai 20 kg kepala ikan.

Setelah dipindang, harga jualnya Rp 9.000 per kg. Dipotong biaya masak dan lain-lain, paling tidak bisa mendapat untung Rp 5.000 per kg. Kalau setiap hari bisa 10 kg, untungnya Rp 50.000 setiap hari. Jika musim ikan, untungnya bisa Rp 100.000 per hari. Buruh angkut di pelabuhan ikan pendapatan seharinya hanya Rp 15.000. "Jauh lebih baik kehidupan saya sekarang. Apalagi cicilan kredit setiap bulan hanya Rp 36.250. Saya ambil kredit untuk jangka waktu 8 bulan, sekarang memasuki bulan keempat. Bila lunas, nanti akan ambil lebih banyak lagi," ujarnya.

Kredit ini terasa sekali oleh Sakinem (39), anggota KSW Pasar Emas, Teluk Penyu Cilacap. Dengan kredit yang sudah pada putaran kedua, ia mendapat kredit Rp 300.000 (putaran pertama kreditnya Rp 250.000). Modal ini digunakan untuk jualan sayuran dengan mengayuh sepeda ke perumahan-perumahan di kota Cilacap pada pagi hari. Sore hari ia kembali keliling jual umbi-umbian. Hasilnya, sangat lumayan. Walaupun suaminya seorang nelayan yang sering susah di waktu paceklik, dengan kredit ini paceklik tidak terasa lagi.

Hal ini juga dirasakan Sumini (31), yang suaminya nelayan. Dengan berjualan es untuk minuman pengunjung kawasan wisata Teluk Penyu, juga es untuk pengawetan ikan. Pada putaran dua ini ia mendapat kredit Rp 290.000. Setiap bulan cicilannya Rp 55.600 ditambah tabungan Rp 3.000. Sangat mampu untuk membayar cicilan. Tak ada pengaruh masa paceklik yang dialami suaminya sebagai nelayan.


Harus Kompak

Dalam program ini, kekompakan kelompok dan pembina sangat menentukan. Satu kelompok yang terdiri sekitar 20 orang ini dibagi lagi dalam kelompok tanggung renteng (tanggung jawab bersama) yang terdiri dari 4 - 5 orang. Semua masalah yang dihadapi dibicarakan dalam kelompok tanggung renteng ini sehingga setiap bulan cicilan ini harus dipenuhi. Yang tidak bisa setor penuh, didenda Rp 500. Bila sama sekali tidak setor, didenda Rp 2.000.

Yang terlambat datang dikenakan denda Rp 500. Pembina yang terlambat datang kena denda Rp 1.000. Aturan yang dibuat sendiri oleh KSW ternyata sangat efektif dalam rangka pengembalian kredit. Karena para anggota kelompok berharap yang akan datang mendapat pinjaman yang lebih besar lagi agar usahanya semakin maju dan untungnya juga bertambah. Besarnya pinjaman yang akan datang ditentukan besarnya pinjaman yang lalu, ditambah tabungan dan ditambah sisa hasil usaha (SHU).

Menurut Romo Carolus, pada awalnya diperkirakan kelompok nelayan sangat sulit mengembalikan kredit. Mereka biasa hidup dengan menangkap ikan. Menangkap ikan itu lebih mudah daripada di pertanian yang harus menanam, memelihara, memanen, dan menjualnya. Ternyata tidak ada kredit macet di kelompok nelayan.

Selain masyarakat pantai, kelompok masyarakat lain seperti untuk peternakan ayam, kerajinan/industri rumah tangga, bikin batu merah, las, batik, salon, tenun, pertukangan, ternak sapi, usaha makanan, menjahit, pengolahan padi juga mendapat kredit. Dalam satu kelompok sebaiknya tidak ada usaha yang sama dan pasar yang sama. Seperti pembuat tempe untuk memenuhi kebutuhan kelompok, cukup satu orang. Lainnya boleh saja membuat tempe, tapi untuk pasar yang berbeda.

Dengan semakin berkembangnya program IGA di Cilacap dari modal Rp 200 juta yang terus bergulir (revolving) sekarang menjadi Rp 6 miliar, akan semakin banyak kelompok tersentuh program ini. Hanya saja yang perlu dipikirkan adalah bimbingan teknis produksi dan perluasan pasar.


PEMBARUAN/ROSO SETYONO


Klik: http://mediacare.blogspot.com

Untuk berlangganan, kirim email kosong ke:
mediacare-subscribe@yahoogroups.com
Yahoo! Groups Links


Posted at 06:25 pm by basuki1
Make a comment  

Dec 14, 2005
Prihatin dan Mudah-mudahan pak Nazar kuat


Hari ini tanggal 14 Desember 2005 ,
Saya mendapatkan kabar dari persidangan di pengadilan TIPIKOR Jakarta , bahwa pak Nazarrudin Syamsudin , ketua KPU di vonis hukuman 7 tahun penjara dan denda 5 Milyar karena kasus pengadaan asuransi yang tidak melalui rapat pleno penetapannya.

Tidak ada kata lain selain prihatin terhadap situasi ini. Saya sebagai salah seorang yang pernah berhubungan dengan beliau dimana beliau sebagai ketua KPU dan saya sebagai salah seorang team IT KPU , sering kali diskusi mengenai persoalan persoalan yang dihadapi oleh IT KPU. Sungguh sangat menyesalkan dan sangat ikut prihatin beliau dihukum oleh Pengadilan TIPIKOR atas suatu kesalahan yang menurut hemat saya beliau tidak lakukan.

Mudah mudahan pak Nazar dan keluarga kuat menghadapi cobaan ini. Dan bagi kita kita generasi muda , ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagaimana seorang yang telah menyelamatkan negara ini justru dihancurkan oleh bangsanya sendiri.

Kita harus tetap maju melangkah ke depan, kita harus jadikan ini sebagai pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.





Posted at 01:18 pm by basuki1
Make a comment  

Dec 10, 2005
MEDIA PENYIARAN KOMUNITAS: MENGAPA DAN APA



Pada hari ini,  saya diundang oleh  KPID Jabar dalam sebuah acara diskusi berjudul : Regulasi & Eksistensi Lembaga Penyiaran Komunitas. Saya di undang sebagai orang yang dianggap mengetahui radio kampus karena radio kampus ITB dianggap sebagai radio komunitas.  Dengan embicaranya sebagai berikut  :
  1. Zainal A Suryokusumo (MPPI dan praktisi penyiaran)
  2. Tita Eka Citraresmi (Notaris)
  3. MZ Al Faqih (Kabid perizinan KPID Jabar)
Yang menarik dari undangan ini adalah pembicara no 1, pak Zainal , beliau ini adalah salah seorang yang ikut memperjuangkan penyiaran komunitas. Selain itu , pak Zainal ini adalah teman diskusi yang sangat cocok. Saya bertemu pak Zainal tahun 2002 pada saat kami memperjuangkan RUU yang kemudian menjadi UU no 32 tahun 2002 tentang penyiaran. Dalam perjuangan tersebut , saya sering sekali berdebat dengan pak Zainal soal konsep komunitas dan apa saja yang harus kita perjuangkan,  mengapa dan bagaimana ? . Kami sering berdebat soal soal pemikiran tentang penyiaran komunitas terutama soal teknis dan jug dampak dari penyiaran komunitas :-)

Yang paling dia ingat dari saya adalah soal daya pancar pemancar Komunitas yang 50 Watt dengan jangkauan 6 Km dari titik pemancar. Beliau sangat menentang gagasanku waktu itu, karena itu tidak bisa diterapkan begitu saja menurut pak Zainal dan akan membatasi kreativitas masyarakat. Tapi saya menyakinkan pada pak Zainal bahwa saya mendesain itu tidak asal asalan karena saya mencoba melihat beberapa perbandingan terutama yang ada di Amerika.

Di Amerika , radio komunitas di lindungi dan diberi ijin dengan sebutan LPFM (Low Power FM) , bisa dilihat di http://www.fcc.gov/mb/audio/lpfm/index.html
dan saya melihat ini adalah contoh yang baik untuk radio komunitas di Indonesia khususnya di Jawa.

Baru hari ini saya ketemu kembali beliau , beliau udah agak lupa tapi waktu beliau amati wajahku , dia jadi ingat lagi :-)

Saya banyak belajar juga dari pemikiran pemikiran pak Zainal. Berikut dibawah ini adalah makalah/pemikiran pak Zainal tentang radio komunitas.

---------------------------------------------


MEDIA PENYIARAN KOMUNITAS:

MENGAPA DAN APA  


Zainal A.Suryokusumo
Masyarakat Pers dan Penyiaran Indonesia.  )


“ TEKNOLOGI KOMUNIKASI membuat lebih banyak orang terhubung secara elektronik, dan teknologi inipun berjanji akan mempersatukan kita. Tapi yang terjadi, justru memisahkan kita. Teknologi komunikasi merubah orientasi secara radikal. Kebenaran dan moralitas yang dulu kita lihat sebagai petunjuk, kini dianggap tidak berguna. Dengan keterhubungan elektronik itu, saban hari kita dibombardir dengan kekerasan, mimpi-mimpi kosong, gossip, tahayul dan gaya hidup diluar jangkauan kebanyakan orang. Semua itu dilakukan secara membabi buta, demi mencari keuntungan lebih besar. Kita telah kehilangan kontrol, sementara jurang antara kita semakin lebar. “

Adopsi dari novel: Angels & Demons; Dan Brown.



I.    NATURE DARI KOMUNIKASI :

•    COMMUNICARE – bahasa Latin – to share – BERBAGI

•    UNSUR KESETARAAN;

•    LEWAT PROSES KOMUNIKASI, MANUSIA MENJADI LEBIH TAHU UNTUK

BERTINGKAH LAKU, BERSIKAP, DAN BERBUAT SEHINGGA HIDUP MENJADI LEBIH SEJAHTERA.  

II.    MENGAPA PENYIARAN KOMUNI-TAS ?

SEJAK 15 TH TERAKHIR, MARAK BERKEMBANG DISCOURSE IHWAL MEDIA KOMUNITAS/PENYIARAN KOMUNITAS DAN GERAKAN MENDORONG PELAHIRAN MEDIA ALTERNATIF TSB. TENAGA PENDORONGNYA ADALAH:

1.    SISTEM MEDIA DIDOMINASI OLEH MEDIA KOMERSIAL;
2.    KONGLOMERASI INSTITUSI MEDIA;
3.    INSTITUSI MEDIA TAK LAGI MEREPRESENTASIKAN DIRI SEBAGAI INSTITUSI  PUBLIK. AKIBAT IKUTAN FENOMENA ITU ADALAH;
4.    TERDAPAT KELOMPOK BE-SAR PUBLIK TAK TERLAYANI KEBUTUHAN INFORMASINYA.
5.    KETIDAK ADILAN DALAM DISEMINASI INFORMASI 
 


MENDUKUNG WACANA/GERAKAN TSB:
    LAHIR HASIL RISET & BUKU/KARYA TULIS, DARI SEJUMLAH SKOLAR, ANTARA LAIN: 

1.    ALAN O’CONNOR – 1990 – Perkembangan Radio Komunitas di Bolivia.
2.    NORMA FAY GREEN – karya tentang publikasi berjudul “Street Wise” , terbit di Chicago;
3.     CLEMENCIA RODRIGUES – 2001 – studi kasus internasional  mengenai pengembangan “Citizens Media” ; & terbaru
4.    KEVIN HOWLEY – 2005 – Community Media; People, places & Communication Technologies.

    GFMD; Amman,Jordan  Conference 1 – 3 October 2005. 

II.    GERANGAN APAKAH MEDIA/PENYIARAN KOMUNITAS? TERDAPAT DUA VERSI:


    VERSI ILMU KOMUNIKASI: LAYAKNYA ILMU SOSIAL, TERDA-PAT BERAGAM DEFINISI:



1.    MEDIA KOMUNITAS ADALAH MEDIA ALTERNATIF;

 
2.    MEDIA KOMUNITAS ADALAH MEDIANYA KAUM MARGINAL;


3.    MEDIA KOMUNITAS ADALAH MEDIA KONFRONTATIF.


    VERSI AMARC – ASOSIASI RADIO KOMUNITAS SEDUNIA - TENTANG APA ITU RADIO KOMUNITAS :

 
1. Community radio, rural radio, cooperative radio, participatory radio, free radio, alternative, popular, educational radio. If radio stations, networks & production group that makes up the World Association of Community Radio Broadcasters refer to themselves by variety of names, then their practices & profile are even more varied. Some are musical, some militan & some  mix music & militancy. They are located in isolated rural villages & in the heart of largest cities in the world. The signals may reach only a kilometer, cover a whole country or be carried via shortwave to other parts of the world.
Some station are owned by not-for-profit   groups or by cooperatives whos members are listeners themselves. Others are owned by students, universities, municipalities, churches or trade unions. There are stations finance by donations from listeners, by international development agencies, by advertising & by government. 
“Waves from Freedom “
Report on the 6th World Conference of Community Radio Broadcasters. Dakkar-Senegal, January 23-29, 1995.

2. When radios fosters the participation of citizens & defend their interest, when it reflects the tastes of the majority & make good humor & hope its main purpose; when it truly informs, when it helps resolve the thousand & one problems of daily life; when all ideas are debated in its programs & all opinions are respected; when cultural diversity is stimulated over commercial homogeneity; when women are main players in communication & not simply a pretty voice or a publicity gimmick; when no type of dictatorship is tolerated, not even the musical dictatorship of the big recording studios; when everyone”s words fly without discrimination or censorship, that is community radio.

Radio Stations that bear this name do not fit the logic of money or advertising. Their purpose is different, their best effort are put at the disposal of civil society. Of course this service is highly political; it is a question of influencing public opinion, denying conformity, creating consensus, broadening democracy – whence the name – is to build community life. 


“ Manual Urgente para Radialistas Apasionados “.

Jose Ignacio Lopes Vigili, 1997

3.The historical philosophy of community radio is to use this medium as the voice of the voiceless, the mouthpiece of oppressed people (be it on radial, gender, or class ground) and generally as a tool for development.

Community radio is defined as having three aspects; non-profit making, community ownership & control, community participation

It should be made clear that community radio is not about doing something for community but about the community doing something for itself, is owning & controlling its own means of communication.

“What is Community Radio ? A Resource guide “.
AMARC AFRICA & PANOS SOUTHERN AFRICA – 1998.


In Latin America, there are approximately one thousand radio stations that can be considered community, educational, grassroots or civic radio stations. They are characterized by their political objectives of social change, their search for a fair system that takes into account human rights, and makes power accessible to the masses & open to their participation. They can also be recognized by the fact that they are non-profit. This does not prevent them from growing & seeking a place in the market.
*Community radio is defined by community of shared interest it represents & by the coherent political-cultural, communication & business objectives of the same interest.
*Community & civic radio incorporated new language, new format, other sound, type of music, voices. It brings other ways of talking, new raltionships with listeners, ways of asking & answering questions, ways of making demand & pressuring the authorities.
      
“Gestion de la radio comunitaria y ciudadana”
Claudia Villamayor y Ernesto Lamas AMARC y Friedrich Ebert Stiftung, 1998.

Community radio in the commercially dominated media system, means radio in the community, for the community, about the community & by the community. There is a wide participation from regular community members with respect to menagement & production programs. This involvement of community members distinguishes it from the dominant media in the Philippines that are operated for PPPP – profit, propaganda, power, politics, privilege etc. Serving the big P (people or public) as a token gesture mainly to justify existence in the government bureaucratic licensing procedure (..). Stations collectively operated by the community people. Stations dedicated to the development, education & people empowerment. Stations which adhere to the principles of democracy & participation.

TAMBULI – Communication Project Phillipine.  


Free, independent, lay radio station that are linked to human rights & concerned about the
Environment.

They are many & pluralistic.
They refuse mercantile communication.

They scrupulously respect to the code of ethic of journalist & work to disseminate culture by giving artist broader expression within their listening audience.

They have association status, democratic operation & financing consistent with the fact that they are non-profit organization.

Charte de la Confedartion des Radios Libres
CNRL - France


Over the years, community radio has become an essential tool for community development. People can recognize themselves & identity with community radio, in addition to communicating among themselves.


The tone of each community radio station is well modulated in the image of the listeners. The important thing is to seek out differences.
Alliance des radios communautaires du Canada.
ARC – CANADA.


III.    KARAKTER MEDIA KOMUNITAS/ RADIO KOMUNITAS :

Dilongok dari batasan baik ilmu komunikasi, maupun rumusan AMARC , media komunitas/radio komunitas :

1.    Peranti politik; yang mengejawantahkan hak-hak sipil & politik warganegara – voice of the voiceless; the mouthpiece of the oppressed people; creating consensus; broadening democracy.

2.    Peranti pemberdayaan kaum papa informasi yang berada pada kalangan akar rumput pedesaan maupun perkotaan – to build community life; essetial  tool for development.

3.    Peranti cultural ; incorporate new format, other sound, type music, & voices; to seek out differences; to disseminate culture by giving artist broader expression within their listening audience.     


IV PERAN KOMUNITAS ADALAH KATA KUNCI
 
1.    Gozali, Effendi ( Dep Ilmu Komunikasi FISIP UI, 2003):

“ Media yang memfokuskan diri pada program dan pelayanan bagi masyarakat dan melibatkan anggota
komunitasnya, dalam operasional stasiun radio “;

2.    Gerard, Bruce ( 2001 ) :

“Radio komunitas bergantung pada keterlibatan masyarakat, dalam struktur maupun operasional. Masyarakat yang menentukan prioritas dan sekaligus menjalankan radio.”;

3.    Lewis, Peter ( 1998 ):

“Komunikasi bersifat partisipatif; participatory communication. Lantaran itu, maka tidak bisa lain, Media Komunitas, sifat kerjanya partisipatif. “

4.    Howley, Kevin ( 2005 ) :

“ Community Media ; locally oriented and participatory media organizations and practices “
    
DASAR PEMIKIRAN MENGAPA KOMUNITAS DITEMPATKAN PADA POSISI SENTRAL DALAM PENGELOLAAN MEDIA :


PRAKTIK KOMUNIKASI INI, MEMUNGKINKAN TERBANGUN-NYA KERJA DIKALANGAN MASYARAKAT. PRAKTIK SERUPA  ITU, JUGA MEMBANGUN KESEMPATAN UNTUK BERBAGI KEKUASAAN, YANG SEBELUMNYA  CENDERUNG DIKUASAI OLEH ORANG-ORANG TERTENTU.

 
V. MEDIA KOMUNITAS DALAM PERSPEKTIF UU PENYIARAN 2002.

Berbeda dengan UU Pers 1999, maka UU Penyiaran 2002 mengatur dengan tegas, keberadaan Media Komunitas.
 

Simak bunyi Pasal 13 ayat ( 1 ) dan ( 2 ).

Pasal 13 ayat ( 1 ) :

Jasa penyiaran terdiri atas :
a.    jasa penyiaran radio; dan
b.    jasa penyiaran televisi

Pasal 13 ayat ( 2 ):

Jasa penyiaran sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) diselenggarakan oleh :

2.    Lembaga Penyiaran Publik;
3.    Lembaga Penyiaran Swasta;
4.    Lembaga Penyiaran Komunitas; dan
5.    Lembaga Penyiaran Berlangganan.  Ihwal Radio Komunitas, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran mengaturnya pada Bagian Keenam, yang terdiri atas empat pasal yakni, pasal 21 sampai dengan 24. 



Berkaitan dengan masalah modal pendirian dan sumber pembiayaan, ketentuan-ketentuan pada pasal-pasal 21 s/d 23 tegas-tegas mengatur sebagai berikut :

    tidak komersial – pasal 21 ayat ( 1 )
    tidak untuk mencari laba atau tidak merupakan bagian perusahaan yang mencari keuntungan semata– pasal 21  ayat ( 2 ) butir a
    didirikan atas biaya yang diperoleh dari kontribusi komunitas – pasal 22  ayat (1)
    dilarang menerima bantuan dana awal mendirikan dan dana operasional dari pihak asing – pasal 23 ayat (1)
    dilarang melakukan siaran iklan dan/atau siaran komersial lainnya – pasal 23  ayat ( 2 )



Benar adanya, Radio Komunitas pada pasal 22 ayat ( 1 ) dibenarkan untuk didirikan dengan biaya yang diperoleh dari kontribusi komunitasnya. Berdasarkan pengalaman praktek, kecuali komunitas keagamaan, komunitas diluar itu akan sangat sulit diharapkan kontribusinya secara teratur. Sampai pada investasi pendirian, rasanya masih mungkin. Tapi secara teratur memberikan kontribusi, bagi biaya operasional, sungguh menjadi pertanyaan besar.


Tiga elemen penting sustainabilitas radio komunitas adalah :

1.    Faktor sosial;
 
2.    Faktor institusi; dan

3.     Faktor finansial



Faktor sosial, berhubungan dengan:

dukungan masyarakat, dalam keterlibatan mereka, baik dalam pendanaan, maupun operasional radio.

Sementara faktor institusi, kait-berkait dengan :

Aspek internal radio seperti manajemen dan program, maupun aspek eksternal radio, yang acap bertemali dengan pembinaan hubungan-hubungan dengan lembaga-lembaga swasta, pemerintah maupun antar stasiun radio komunitas.

( Penelitian Bank Dunia, bekerja sama dengan Combine ). 
 

Menjawab tantangan tadi, memang harus dicarikan jalan keluar, agar Radio Komunitas tidak sekedar menjadi penghias perundang-undangan belaka. Dan yang terpenting adalah, untuk menjaga agar kebutuhan informasi dari komunitas-komunitas yang tak terlayani oleh penyiaran komersial maupun penyiaran publik, te tap dapat disediakan oleh Radio Komunitas. 

Sebagaimana diperintahkan oleh pasal 28F Amandemen Kedua UUD 1945: 

“Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh  informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk  mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia “

Komunikasi dan informasi, pada hakikatnya adalah hak asasi manusia. Untuk itu, simak pula perintah  pasal 28 ayat ( 1 ) yang menyatakan :

“…..hak asasi manusia tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.”

Simak pula bunyi amanat pasal 28 ayat (3):

“ Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban “

KEBERADAAN PENYIARAN KOMUNITAS, SESUNGGUHNYA KOKOH, BAIK BERDASARKAN KONSTITUSI MAUPUN UNDANG-UNDAN.


DALAM KONTEKS INDONESIA, MAKA POSISI RADIO KOMUNITAS :  

1.    SENANTIASA BERADA DIGARIS DEPAN – AVANT-GARDE;
2.     BERFUNGSI SEBAGI TOOL OF DEVELOPMENT, PADA KOMUNITAS YANG BERADA DI WILAYAH-WILAYAH TERPENCIL.


VI. JALAN APA YANG BISA DITEMPUH RADIO KOMUNITAS : 

Bergerak sendiri-sendiri, jelas akan sangat menyulitkan. Cara-cara yang bisa ditawarkan antara lain adalah :

1.    membangun networking untuk Radio Komunitas sejenis atau seformat.


2.    memproduksi produk-produk – baik dalam bentuk program atau iklan layanan masyarakat - yang dapat disiarkan secara  bersamaan pada setiap anggota/afiliasi network yang seformat


3.    head and tail dari saban produk acara atau mengembangkan ILM yang disiarkan network, diisi brand – contohnya; GIA, PLN, bank – institusi-institusi pendukung dana produksi program dan penyiaran ILM.


4.    melakukan kegiatan-kegiatan merchandising dan off-air

5.    organisasi nasional Radio Komunitas, mendirikan perusahaan pencari laba, dimana sebahagian dari keuntungan harus didistribusikan kepada anggota organisasi;
 
6.    organisasi membentuk lembaga pencari dana dari berbagai badan-badan nasional, maupun internasional.

Usulan pada butir-butir 3 dan 4 memang sangat memungkinkan terbukanya perdebatan, terutama pada butir tiga, brand pendukung dana program, dalam pengertian penjualan, terbilang sebagai soft-sell. Dasar pertimbangan usulan ini adalah : undang-undang melarang penghimpunan laba,sebagaimana ketentuan pasal 21 ( 2.a ). 

Radio Komunitas harus berupaya keras dan terencana untuk membangun public trust. Karena, kepercayaan publik tsb, sesungguhnya akan menjadi social capital.

Membangun kepercayaan publik,   bukanlah karya enteng. Namun, merupakan suatu keniscayaan yang harus dilakukan setiap media komunitas. 


Paulo Freire :

Dalam menarik minat masyarakat, langkah terpenting adalah membuat mereka percaya bahwa, hak mereka terpenuhi. Hal itu akan membuat mereka lebih percaya diri, dan bersedia bekerja sama serta memberikan manfaat bagi kelompok.  

                                              <>o<>o<>o<>

Referensi:

1.    Encyclopedia of Social Sciences; vol 3-4, 12th printing, 1957
2.    Encyclopedia Britanica , Deluxe Edition, 2002
3.    Media Asia, an Asian Mass Communication Quarterly; vol 27 number 1 2000 – an AMIC/SCS-NTU Publication
4.    Media Communications and the Open Society; reader-ed Yassen N.Zas soursky & Elena Vartanova – Moskow  State University Faculty of Journalism, Publishing IKAR, Moskow 1999
5.    Media Law; Geoffrey Robertson QC and Andrew Nicol – Third Edition, Penguin Book, London 1992
6.    Membangun Ilmu Komunikasi dan Sosiologi; reader-tim Ed Ana Nadhya Abrar, Setio Budi HH, Mario Antonius Birowo, Lucinda, F Anita Herawati – cetakan pertama, diterbitkan bersama Fakultas Ilmu Sosial dan Politik-Pe nerbit Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta 1999.
7.    Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial; Charles F.Adrain, Penerjemah- Luqman Hakim, Cetakan Pertama, Penerbit PT Tiara Wacana, Yogya 1992.
8.    Masyarakat Indonesia Dalam Transisis; Studi Perubahan Sosial: Wertheim WF, Penerjemah Misbah Zulfa Ellizabeth, Cetakan Pertama, Penerbit PT Tiara Wacana Yogya, Yogaya 1999
9.    Konstruksi Sosial Industri Penyiaran; Plus Acuan Tentang Penyiaran Publik dan Komunitas; Effendy Gozali, Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI, Jakarta, 2003.
10.    Bruce Girard ( 2001 ) : A Passion of Radio; Radio Waves and Community. Electronic documen Retrieved on June 22, 2005. From: http//comunica org/passion/pdf/passion4radio.pdf
11.    Peter Lewis ( 1998 ); Radio Theory and Community Radio. Retrieved on June 15, 2005, from http://www.teichenberg.at/essential/lewis.htm
12.    What Is Community Radio; Retrieved on December 3-4, 2005 from : http://www.amarc.org.
13.    Community Media: People, Places, and Communication Technologies, Kevin Howley , 2005, Cambridge University Press.  
 

 
 

 




Posted at 06:52 pm by basuki1
Comments (2)  

Dec 9, 2005
“TUAN LENNON ? “ DORRR !


Kemarin , 8 Desember adalah hari yang banyak dikenang oleh penggemar The Beatles,karena pada tanggal 8 Desember 1980 adalah hari dimana John Lennon di tembak oleh penggemar fanatiknya. Setelah kejadian tersebut, buyarlah semangat para penggemar Beatles untuk dapat melihat Beatles kembali bersatu setelah pecah pada tahun 1970. Berikut ini gambaran tentang pembunuhan John Lennon oleh Mark David Chapman yang ditulis oleh kawan Mas Bob (Priyambodo)


“TUAN LENNON ? “ DORRR !

Sementara itu, Mark David Chapman (25 tahun) ; sang algojo yang diadili 6 Januari 1981 dengan tuduhan pembunuhan tingkat 2. Setelah menjalani pemeriksaan psikologi di rumah sakit Belleue, Chapman langsung diamankan dalam penjara di pulau Riker dengan penjagaan ketet lantaran polisi kuatir bila terjadi pembalasan dengan ala Jack Ruby (Ruby menembak mati Lee Harvey Oswald ; pembunuh John F. Kennedy kerika berada dalam kawalan polisi). Menurut sumber-sumber tepercaya. Chapman tiba di New York dari Hawaii 3 hari sebelum mmelakukan pembunuhan itu 6 Desember 1980 setibanya di New York. Chapman menginap di penginapan murah YMCA, 9 blok dari apartemen, “Dakota” dimana juga tinggal Lauren Bocall, Leonard Bernstein, dan Roberta Flack. Kemudian ia mulai mondar-mandir disana. Malamnya Chapman naik taksi ke Greenwich Village. Berdasarkan keterangan Mark Snyder ; sopir taksi itu, dalam perjalanan Chapman membual, bahwa ia baru saja mengani rekaman rekaman album baru Lennon & Mac Cartney yang derekam pada hari itu disamping memperkenalkan dirinya sebagai seorang teknisi suara. Keesokan harinya ; Minggu 7 Desember 1980 Chapman kambali mondar-mandir dimuka gedung apartemen itu, di hari sama pula ia pindah ke hotel “Sheraton Center”.

Senin sore 8 Desember 1980 sekali lagi Chapman hilir mudik dimuka “Dahkota”, kali ini berbareng dengan Paul Goresh ; pemuja Lennon merangkap juru Photo amatir asal north Arlington, New Jersey. Dalam percakapannya dengan Goresh, Chapman mengatakan, bahwa sudah 3 hari keluyuran disini, berharap dapat menjumpai Lennon dan minta tanda tanganny. Goresh madih ingat, sekitar jam 17.00 Lennon bersama isterinya keluar dari gedung itu dalam memnuhi jadawal rekaman di studio Record Plant. Chapman lalu mendekati Lennon sambil menyorongkan album baru “Double Fantasy”. Lennon menerimanya dan mencoretkan tenda tengannya ‘John Lennon 1980’ diatas sampul album itu sementara Goresh menjepretkan kameranya. Chapman nampak berseri-seri. “John Lennon mendatangani album saya, “katanya kepada Geresh setelah Lennon pergi. “Tak seorangpun di Hawaii akan percaya pada saya.”Ke 2 pemuja Lennon tersebut masih berdiri dimuka “Dahkota” untuk 2 jam berikutnya. Ketika Goresh akhirnya memutuskan pulang. Chapman berusaha mengubah niatnya : “Lennon akan segera kembali, anda bisa minta tanda tangannya. Goresh menyawabnya, bahwa ia akan minta tanda tangan Lennon dilain hari. “Akan saya tunggu,” kata Chapman. “Anda tak kan tahu, bila anda akn menjumpainya lagi.”

John Lennon bersama Yoko Ono merampungkan sebuah rekaman tunggal baru berjudul “Walkin’ On Thin Ice” di studio Record Plant dan sempat berwawancara dengan RKO Radio hingga jam 22.30. Menurut rencana rekaman tunggal baru ini akan direlease akhir tahun baru, lagu tersebut akan dinyanyikan oleh Yoko Ono dan Lonnon mengiringinya dengan gitar, “Kami mempunyai rencana makan malam sepulangnya dari studio, “kata Yoko dikemudian hari. “Tapi sebagai gantinya kami memutuskan pulang,”Mobil limousine sewaan membawa mereka kembali ke “Dahkota” sekitar jam 22.50. Limousine itu mestinya bergenti digerbang musuk, namun berhenti dipinggir jalan. Yoko keluar lebih dulu, diiringi John beberapa langkag dari belakang Tatkala John, melewati bawah lengkungan gerbang masuk yang menghubungkan halaman dalam digedung “Dakota,” sebuah suara terdengar sopan memanggilnya dari belakang : “Tuan Lennon,” John membalikkan badannya, menampak Chapman berdiri 5 kaki jauhnya seraya membidikkan pistol dengan ke 2 tangannya. Sebelum Lennon cepat beraksi, pistol Chapman menyalak beberapa kali, “Saya ditembak” rintih Lennon, terhuyung-huyung meninggalkan bercak-bercak darah sepanjang 6 kaki sebelum roboh didepan kantor penjaga pintu. Chapman kemudian membuang pistolnya dan penjaga pintu menyepak benda itu sejauh mungkin disaat Yoko menopangkan kepala suaminya dalam tangannya. “Apakah kau menyadari yang baru saya kaulakukan ? “tanya penjaga pintu kepada Chapman. “Saya baru saja menembak John Lennon ,” jawab Chapman tenang tapi linglung.

Dalam beberapa menit polisi berdatangan atas laporan penjaga pintu lewat teleponnya. Chapman menunggu mereka, membaca sepintas lalu novel klasik karangan J.D Silinger : “The Catcther In The Rye.” Pada waktu 2 orang polisi menggeledah dan memborgol Chapman, 2 orang polisi lainnya memeriksa tubuh Lennon. “Tubhnya bermandikan darah, semuanya merah, “seru polisi Anthony Palma. “Orang ini sedang sekarat,lekas angkat !” Lennon setengah sadar dan bemandikan darah diangkat ke jok belakang mobil patroli James Moran. “Tahukah siapa anda ?” tanya Moran. Lennon mengerang lalu menganggukkan kepalanya. Ketika Moran melarikan Linnon ke rumah sakit Rooselvelt 15 blok jauhnya, Palma membututi mobilnya bersama Yoko. “Katakan pada saya, itu tak benar, katakan pada saya ia baik-baik saja,”katanya memohon pada Palma berulang kali.

Kemudian para dokter mengumumkan kematian Lennon setibanya di rumah sakit, suatu team terdiri 7 orang dokter bedah tetap berusaha keras untuk menyelamatkan, tapi luka-lukanya sangat parah 3 lubang peluru didadanya, 2 diantaranya menembus punggung dan 2 lubang lagi terdapat ditangan kirinya. “Mustahil untuk besa menyelamatkan dia,” kata dokter Stephen Lynn. “Ia sudah kehilangan darah sekitar 80%. “Saudah berusaha keras tanpa hasil, salama20 menit dalam menyelamatkan Lennon para dokter bedah itu menyerah, kemudian Lynn-pun memberitahukan Yoko. “Dimana suami saya ?” Tanya Yoko kepada Lynn. “Saya ingin mendampingi suami saya. Ia menginginkan saya mendampnginya, dimanakah dia ?”
“Kami membawa kabar buruk,” jawab Lynn. “Saya ingin menarik napas dalam-dalam. “Suami anda telah meninggal dunia. Tanpa penderitaan.”
“Anda mengataka
n ia sedang tidur ?” Ucap Yoko terisak-isak menolak kabar itu.

Diantar oleh David Geffen (produser rekaman “The Wonderer” nya Donna Summer) yang mencukongi album baru Lennon, Yoko Ono pulang ke apartemennya sekitar tengah malam. Yoko menelepon 3 kali, mengabarkan kematian Lennon pada 3 orang : Julian Lennon, anak John, Mimi Smith, bibi John, dan Paul Mac Cartney. “Ia nampak berbahagia pada hari terakhir hidupnya,” gumam Gefen. “Sebenarnya Januri 1981 John dan Yoko akan merampungkan album barunya berjudul “Milk & Honney.”

SANG MAHA IDENTITAS :

Hingga saat ini polisi dan psikiater masih pusing mencari motif sebenarnya pembunuhan kejam itu karena sang algojo ternyata pemuda fanatik tokoh musik yang dibunuhnya. Berbagai pendapat tentang diri tokoh pembunuh itu sifatnya masih spekulatif bermunculan, seorang pejabat kepolisian New York, mengatakan bahwa Chapman kurang waras pikirannya sedangkan seorang perwira senior polisi berpendapat, mungkin sekali Chepman menderita gangguan mental. Lainnya berkesimpulan pembunuh ini kesal terhadap Lennon. Namun secara terpisah beberapa psikiater hanpir sama menyatakan pendapatnya, bahwa dengan melihat latar belakang masa kanak - kanaknya, maka boleh jadi Chapman mengalami apa yang disebut ‘Cermin Dostoyevkian’ dimana ia menampak dirinya sendiri sebagai John Lennon, dan John Lennon tulen merupakan suatu ancaman penipuan dirinya. “Ia mempunyai maha identitas dengan Lennon, tapi ia juga bersaing dengannya, “ucap psikiater David Abrahamsen, yang memeriksa pembunuh “Son Of Sam” : David Berkowita “Pembunuhan terhadap Lennon merupakan alat pengganti dari bunuh dirinya sendiri.”
Guna menunjang teorinya psikiater itu menuding beberapa persamaan hidup antara Chpman dan Lennon yang memang sangat mengejutkan : semasa remaja ke 2 nya menyukai musik, keduanya bermain dalm band rock, keduanya mencintai anak-anak, keduanya berjiwa sosial, keduanya suka benda-benda seni, dan keduanya beristerikan wanita Jepang berusia lebih tua daripada mereka (isteri Lennon 7 tahun lebih tua, esteri Chapman 4 tahun berusia lebih tua).
Robert Marvit, psikiater dari Hawaii berspekulasi : “Barangkali Capman mengatakan : “Astaga, Lennon tahu ada 2 diantara kita. Aku harus melenyapkan 1 sehingga 1 Lennon saja.”Chapman ingin sekali menjadi Lennon,” ujar psikiater Stuart Barger. New York. “Seorang lambat laun ia menjadi pengkhayal, bahwa ia adalah John Lennon dan perasaan pribadinya kemudian memusuhi John Lennon tulen.”

Sejak kecil MARK DAVID CHPMAN selalu menyamakan dirinya dengan bintang pujaannya. Pertama sebagai pemuja lalu sebagai peniru, akhirnya sebagai pembunuh.Chapman dilahirkan di Fort Worth, Texas tahun 1995, jamnnya Elvis Presley dan rock’n rool. Ayahnya, bekas sersan angkatan udara yang terjun dalam bisnis sebagai manajer perkreditan. Di kota Atlanta, Georgia, disana Chapman menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanaknya, ia sudah memuja John Lennon. Kamar tidurnya dipenuhi poster-poster maupun photo-photo The Beatles. Pada puncak ketenaran The Beatles,Chapman sudah band rock di sekolahnya. Gara-gara jungkel pada anaknya begitu fanatik terhadap The Beatles, maka suatu kali ayah Chapman sudah menjual seluruh koleksi ph nya. Beberapa teman sekolahnya mengatakan, selain gila The Beatles dan mengidentifisir dirinya sebagai Lennon, Chpman melai melibatkan dirinya sebagai Lennon, Chapman mulai melibatkan dirinya bermain-main obat bius. Pada usia 15 tahun Chapman mulai berubah, dari fanatikThe Beatles menjadi fanatik agama, Ia mengenakan kemeja putih, salib kecil melingkar dilehernya, dasi hitam, dan dimana-mana selalu terlihat membawa Kitab suci. Waktu lagunya digunakan untuk mempelajari Injil, saat itulah ia bingung serta gusar atas pernyataan Lennon beberapa tahun silam, bahwa The Beatles lebih tenar daripada Yesus Kristus. Selesai menamatkan SMAnya ditahun 1973, Chapman mengabdikan dirinya padanya YMCA Atlanta sebagai penasehat. Tahun 1975 ia terbang ke Libanon, membantu YMCA cabang Beirut tapi cuma sebentar akibat pecahnya perang saudara. Oleh organisasinya Chapman lalu diperbantukan pada kamp. pengungsi Vietnam di Fort Chaffe, Arkansas, ia bekerja 7 hari dalam seminggu. “Chapman berbudi halus lagi pula sangat menyukai anak - anak”, kata Greg Lyman, bekas teman sejawatnya begitu mendengar pembunuhan terhadap Lennon. Setahun kemudian Chapman menuntut ilmu di Covenant College, Tennessee dan jatuh cinta pada Jessica. Cuma satu semester ia dro out, Jessicapun meningggalkannya.

Denagn perasaan kecewa Chapman pulang Ke Atlanta. Belum lama di sana perhatian Chapman terpusat mengenai seluk - beluk senjata api. Ia berlatih menembak di Atlanta Arena Technical School sampai mahir, kemudian bekerja sebagai penjaga keamanan. Akhir 1977 ia berhenti bekerja, terus hijrah ke Hawaii. Tertekan akibat perceraian orang tuanya ditambah kenangan buruk asmaranya. Chapman sampai 2 kali mencoba bunuh diri. Terakhir kali ia mencoba bunuh diri dengan menghirup asap knalpot mobil. Jiwanya tertolong dan dirawat di rumah sakit Castle Memorial, Honolulu, disana akhirnya merupakn tempat kerja barunya sebagai tukang sapu, kemudian naik pangkat sebagai ahli cetak. Bulan Juni 1979 Chapman menikah Gloria Abe, putri seorang kaya pemilik bakeri keturunan Jepang.

Sama seperti kegilaannya pada musik, maka Chapman kini tergila - gila lukisan seni, berjam - jam waktunya dibuang mengunjungi galleri - galleri. Ia menaruh minat pada lukisan surrealisme Salvador Dali. Mendapat pinjaman uang dari ibunya serta keluarga isterinya Chapman membeli lukisan seharga $ 5,000.-. Tidak lama lukisan tadi dijual kembali untuk dibelikan lithographnya Norman Rockwell: “Triple Self Portrait” yang senilai $ 7,500.- tanggal 23 Oktober 1980 Chapman keluar dari kerjanya dengan menandatangani presensi kantornya memakai nama ‘John Lennon’. Keluar dari situ Chapman nampak sedang memilih senjata api di toko senjata J & S Sales, 1 blok dari kantor polisi Honolulu. Sehubungan catatan dirinya bersih, Steve Grahovac ; si pemilik toko tanpa regu - ragu menyodorkan kepaadanya sepucuk pistol Charter Arms Special kaliber 38 dengan 5 tembakan sembari mengucapkan barang dagangannya : “jenis yang selalu digunakan oleh detektif dan polisi preman karena gampang disembunyikan”.

Dengan uang pinjaman $ 2.000, dari Credit Union rumah sakit Cectle Union disana Gloria Abo juga bekerja disitu sampai sekarang. Chapman membiayai perjalanannya ke New York untuk membunuh Lennon saingannya. Beberapa saat setelah polisi meringkusnya sehabis menembak Lennon. Chapman berkata : “Saya berada dalam 2 sisi berlainan, yang baik dan yang buruk.pada hal saya tidak mendendam apa-apa terhadap dia.” Gloria Abo maupun Diana Elilzabeth Pease, ibu Chpman, sangat terpukul mendengar Chapman, membunuh Lennon. “Saya sangat menyesal, bahwa segalanya telah terjadi,” kata Gloria dalam pernyataan singkatnya. “Saya tetap cinta kepadanya dan prihatin akan kesehatannya.”

Posted at 04:10 pm by basuki1
Comment (1)  

Dec 8, 2005
Penundaan PP tentang Penyiaran




Pada hari senin , tanggal 5 Desember 2005 dilakukan rapat dengar pendapat terbuka di DPR antara Depkomifo dan Komisi I DPR. Rapat in membahas tentang dikeluarkannya PP (Peraturan Pemerintah ) tentang Penyiaran. PP nya dapat dilihat di :

http://www.depkominfo.go.id/?pid=content&id=53

Peraturan Pemerintah

Peraturan Pemerintah Nomor 52Tahun 2005
Tentang Penyelenggaraan Penyiaran - Lembaga Penyiaran Berlangganan

Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2005
Tentang Penyelenggaraan Penyiaran - Lembaga Penyiaran Komunitas

Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2005
Tentang Penyelenggaraan Penyiaran - Lembaga Penyiaran Swasta

Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2005
Tentang Pedoman Kegiatan Peliputan Lembaga Penyiaran Asing

Permasalahan yang mendasari penolakan PP tersebut , salah satunya dapat dilihat dari catatan diskusi dibawah ini :

[kombinasi] catatan diskusi PP Penyiaran di MPPI
From : anasir@combine.or.id
to : kombinasi@yahoogroups.com
combine-ri@yahoogroups.com
media@tifafoundation.org

CATATAN DISKUSI
MASYARAKAT PERS & PENYIARAN INDONESIA
MENYIKAPI PP PENYIARAN


Pertemuan diadakan di ruang rapat SPS, Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih
pada hari Jumat 2 Desember 2005 jam 17.00-20.30 WIB. Pertemuan ini
dihadiri oleh sekitar 25 orang mewakili sejumlah lembaga, antara
lain; KPI, MPPI, Yayasan SET, Jurusan Komunikasi UI, JRKI, CRI,
Internews, Leskud.

Leo Batubara menyampaikan pengantar diskusi dengan mereview
perjalanan advokasi UU Penyiaran sampai dengan disahkannya PP
Penyiaran oleh Presiden Yudhoyono. Usai memberikan pengantar, Leo
mempersilahkan seluruh peserta menyampaikan pandangan dan pendapat.

Beberapa point penting yang muncul dalam diskusi

1. KPI adalah hasil dari perjuangan masyarakat sipil dalam
demokratisasi penyiaran. Kebanyakan peserta mengkritik sikap KPI yang
selama ini sangat kompromis dengan pemerintah. Namun bagaimanapun
keadaannya, KPI perlu didukung. Upaya anggota KPI untuk membubarkan
atau mengundurkan diri justru akan memberi peluang kepada pemerintah
untuk lebih leluasa mendominasi dunia penyiaran.

2. Statemen penolakan PP Penyiaran yang dikeluarkan KPI sangat
abstrak. Mestinya KPI membahas pasal per pasal dalam bentuk matrik
dan menunjukkan bagian mana dalam PP Penyiaran yang bermasalah
berdasarkan UU 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Kajian ini harus
segera dilakukan untuk memperkuat tekanan kepada pemerintah sekaligus
memberitahukan ke publik bahwa pemerintah (presiden) telah melanggar
undang-undang.

3. Upaya pengawalan regulasi penyiaran seolah berhenti setelah UU
Penyiaran disahkan. Memang masih terus beralngsung advokasi, namun
bersifat sporadis dan reaktif. Karena itu masyarakat sipil perlu
segera mengkonsolidasikan diri dan membuat gerakan yang lebih
sistemik. Disamping itu, perlu menggalang dukungan lebih luas. Isu
yang bisa digunakan adalah bahwa pelemahan peran KPI hanyalah salah
satu dari upaya sistematis mengembalikan dominasi pemerintah dengan
cara meminimalkan peran publik yang terlembagakan dalam bentuk
komisi. Contohnya, upaya mengembalikan peran Depdagri menggantikan
KPU dalam penyelenggaraan Pemilu.

4. UU Penyiaran memang memiliki banyak kelemahan. Masalah
tersebut kemudian medorong Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan
yang mengembalikan peran pemerintah sebagai regulator penyiaran.
Dalam jangka panjang upaya mengamandemen UU Penyiaran perlu dilakukan.


Beberapa agenda tindak lanjut yang disepakati dalam pertemuan ini;
1. Pernyataan sikap

2. Roadshow ke DPR

3. Kampanye (menulis opini di media)

4. Aksi/demo

5. Uji materi PP Penyiaran berdasarkan UU Penyiaran

6. Judicial Review ke MA

7. Amandemen UU 32 Tahun 2002


Agenda yang sudah dilakukan adalah 1-3.
Agenda 4-7 sedang disiapkan, termasuk dalam hal mencari sumber dana
advokasi.

Akhmad Nasir
R & D Department
COMBINE Resource Institution

Kalau dilihat dari substansi masalah , mungkin memang benar PP tersebut kurang tepat terutama PP no 51 yang berkaitan dengan penyiaran Komunitas. Karena akan sangat menyulitkan radio komunitas tumbuh. Akan tetapi jangan sampai kesepakatan yang di diskusikan beberapa pihak tersebut menjadi kontra produktif seperti membatalkan secara keseluruhan PP atau UU no 32 tahun 2002 tentang penyiaran. Kalau UU ini sampai dibatalkan,maka ajkan digunakan UU sebelumnya yang mengatur Penyiaran. Dan dalam UU tersebut tidak terdapat penyiaran Komunitas. Ini akan menjadi set back dan akan jauh lebih orba daripada yang sekarang ini.

Akhirnya PP tersebut ditunda, berdasarkan berita dari detik.com

Pemberlakuan PP Penyiaran Ditunda 2 Bulan
Indra Subagja - detikNews


Jakarta - Komisi I DPR RI dan pemerintah sepakat menunda pemberlakuan
PP Penyiaran selama dua bulan. Jika dalam kurun waktu itu tidak ada
keputusan, pemerintah diminta mencabutnya.

Kesepakatan itu tertuang dalam kesimpulan rapat kerja antara
Menkominfo Sofyan Djalil dan Komisi I DPR RI di Gedung MPR/DPR, Jalan
Gatot Soebroto, Jakarta, Senin (5/12/2005).

Dalam dua bulan yang akan datang, kata Ketua Komisi I DPR RI Theo L
Sambuaga, juga akan dibahas mengenai amandeman UU Nomor 32/2002
tentang Penyiaran.

"Kita akan undang pemerintah, KPI, masyarakat penyiaran untuk duduk
bersama dan membahas lebih lanjut tentang amandemen UU dan pelaksaan
PP tersebut," katanya.

Sedangkan Menkominfo Sofyan Djalil setuju dengan kesimpulan raker
untuk menunda pemberlakuan PP dalam waktu dua bulan ke depan. Ia juga
setuju membahas bersama amandeman UU Nomor 32/2002. "Tapi saya akan
laporkan dulu kepada presiden," katanya.

Sebelum diambil keputusan soal penundaan pemberlakuan PP Penyiaran,
rapat sempat berjalan alot. Terjadi debat di antara anggota Komisi I
sendiri. Sebagian meminta PP dicabut dan sebagian minta PP ditunda.
Buntutnya, rapat yang harusnya selesai pukul 13.00 WIB akhirnya
berakhir pukul 13.40 WIB dengan kesimpulan menunda pemberlakuan PP.

Mudah mudahan waktu dua bulan ini cukup bagi kita semua terutama bagi radio komunitas untuk memasukkan usulan tentang perubahan PP tersebut.

Posted at 01:34 pm by basuki1
Make a comment  

Next Page