Entry: Hari pertama di Aceh , setahun lalu Dec 30, 2005




Akhirnya , pagi hari bersama sekitar 10 orang team IT KPU, kami berangkat dengan menggunakan salah satu pesawat yang diperbantukan oleh sukarelawan untuk membantu transportasi dari dan ke Banda Aceh.

Pesawat dijadwalkan terbang jam 10.oo WIB dari Bandara Halim Perdanakusumah. Kami membawa sekitar 20 buah telepon satelit yang telah kami siapkan sebelumnya , lengkap dengan membawa baterai atau akki motor , karena kita perkirakan di Banda Aceh atau daerah yang terkena Tsunami tidak akan ada listrik. Atau kalau ada listrik , maka supply nya sangat terbatas. Terus terang berita tentang keadaan Aceh sangat simpang siur karena komunikasi yang terjadi antara Banda Aceh dengan luar propinsi belum dapat terjalin dengan baik

Rencananya , pesawat hanya akan sampai ke bandara Polonia Medan dan dari Medan kami akan menggunakan jalan darat dan team yang saya bawa akan mencoba mendekati dua titik utama yang terkena tsunami paling parah , yaitu Meulaboh dan Banda Aceh. Di Medan , para anggota KPUD sudah menunggu kami dan sudah mempersiapkan diri untuk berangkat bersama sama.

Pesawat yang membawa kami berisi beberapa kelompok , ada kelompok instalatur listrik, ada kelompok sukarelawan , dan kami sendiri. Pesawat ini menuju ke Pekanbaru , dari Pekanbaru baru menuju Medan. Mengapa transit di Pekanbaru ? karena penerbangan ke arah polonia sangat padat oleh pesawat dari luar Medan dengan tujuan Banda Aceh.

Kami sampai di Pekanbaru sekitar jam 11.30 dan pilot mengatakan bahwa pesawat ini akan berangkat lagi satu jam kemudian menuju Medan. Kami akhirnya keluar dari ruang tunggu dan mencoba berjalan jalan disekitar bandara Pekanbaru. Setelah mendekati satu jam kami kembali lagi masuk ke dalam ruang tunggu. Dan di dalam ruang tunggu rupanya sudah banyak sekali penerbangan yang transit di Pekanbaru dengan tujuan Medan/Banda Aceh. Kami pikir, kita pasti akan ter delay kembali karena melihat padatnya jadwal penerbangan ke Medan dan Aceh.
Ternyata benar , pesawat kita di delay 2 jam :-)

Kami menunggu di ruang transit bandara dan makin lama makin penuh juga sukarelawan yang akan ke Aceh. Dari berbagai kelompok dan dari berbagai perusahaan yang mengerahkan bantuan untuk Aceh. Setelah lewat 2 jam , ternyata pesawat kita masih belum dapat ijin untuk take off karena memang jadwal penerbangan yang sangat padat.

Sekitar jam 17.30 , kami dipanggi oleh pilot untuk bersiap siap berangkat. Wah , lumayan juga setelah menunggu lebih dari 5 jam di Pekanbaru. Kami semua bergegas naik pesawat , setelah mesin pesawat dinyalakan , pilot menunggu instruksi dari air traffic controller. Dan tepat , 5 menit sebelum jam 18.00 WIB, pesawat kami dibatalkan keberangkatannya karena tidak mendapatkan ijin dari Polonia Medan.

Akhirnya kami turun kembali dan masuk ke ruang tunggu. Dan pilot tidak dapat memastikan kita berangkat jam berapa dari Pekanbaru. Pada saat bersamaan , ada beberapa pesawat yang juga dibatalkan keberangkatannya seperti kami (dari Pelita Air dan Merpati). Selain itu , saya melihat ada pesawat cargo Manunggal Air yang mengangkut peralatan dari PT Telkom dan tertunda juga keberangkatannya. Ironis, pesawat pesawat yang mengangkut peralatan komunikasi yang sebenarnya paling diperlukan dalam proses evakuasi , justru tidak mendapatkan tempat untuk take off atau landing di Medan atau Banda Aceh. Sementara saya melihat ada pesawat yang berisi pendukung salah satu partai dengan membawa sukarelawan, justru dapat masuk ke Medan.

Kami sabar menunggu, di ruang tunggu :-) . Ngobrol sana sini , termasuk dengan pilot dan co-pilot serta teknisi pesawat. Kami menanyakan kemungkinan kita bisa masuk Medan jam berapa ? dan mungkin ada kemungkinan lain. Akhirnya pilot mencoba kontak dengan Banda Aceh, dan ternyata oleh Banda Aceh pesawat kami diberi ijin utk landing.  Pilot bertanya, tujuan kita mau ke Banda Aceh atau Medan dan saya sampaikan bahwa  tujuan kami sebenarnya adalah Banda Aceh dan melalui Medan. Akan tetapi bila kita bisa langsung ke Banda Aceh, saya pikir tidak akan menjadi masalah walaupun kita sendiri sebenarnya tidak siap untuk ke Banda Aceh (saya hanya membawa satu baju) .

Akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Banda Aceh. Perjalanan Banda Aceh ditempuh dalam waktu sekitar 50 menit dari Pekanbaru. Pesawat kami take off sekitar jam 22.00 malam, dan diperkirakan akan sampai di Banda Aceh sekitar jam 23.00.

Benar , kami tiba di Bandara di Banda Aceh sekitar pukul 23.15 WIB. Pada saat saya menjejakkan kaki pertama kali , yang terasa adalah bau seperti kamar mayat yang besar. Bau menusuk sangat kuat, bandara terlihat masih terang dan saya hanya melihat beberapa pesawat militer / Hercules , salah satunya milik angkatan udara singapore (yang paling bagus sih).
Saya memberitahu teman teman ( bu Chusnul dan mas Bob) bahwa kami langsung ke Banda Aeh tidak melalui Medan, rencana berubah dan saya belum bisa menentukan seperti apa nantinya.

Begitu keluar bandara , suasana sangat kacau dan gelap. Saya turun bersama sama dua orang Kowad , lupa namanya, salah satu berpangkat Letkol dan yang satunya lagi sersan. Mereka berdua kalau tidak salah adalah liason offiser yang diperintahkan berangkat ke Banda  Aceh untuk menghubungi KODAM Iskandar Muda.

Saya bertanya pada ibu Kowad tersebut , mau kemana dan dijemput siapa ? saya berpikir kalau mereka dijemput sama tentara , kami ikut saja , lumayan daripada bingung. Dan ibu tersebut menyampaikan tujuannya untuk mencari liason officer Kodam . Beliau bertanya pada beberapa tentara dan polisi yang ada di Bandara, dan disampaikan bahwa Kodam hancur berantakan tidak ada orang disitu. Akhirnya , kita diskusi dan dipilihkan rumah sakit tentara yang berada di tengah tengah Banda Aceh tapi tidak kena tsunami. Kita mencari mobil carter utk membawa seluruh rombongan kami. Lumayan mahal juga , utk perjalan dari Bandara ke tengah kota , yang jaraknya sekitar 20 Km , mereka meminta Rp 500.000 sekali jalan. Ya kami bisa maklum untuk kondisi seperti ini , dimana transportasi sulit dan bensin juga susah.

Akhirnya kami berangkat ke kota dengan dua buah mobil , sepanjang perjalan tercium bau menusuk dan gelap gulita. Jalanan juga sepi, sesekali kami menemui mobil mobil tentara yang berjalan hilir mudik menuju pangkalan. Saya sendiri tidak tahu nanti disana harus berbuat apa, tapi saya pikir mungkin kita bisa mendirikan posko telekomunikasi dan memberikan bantuan  yang diperlukan.

Setelah sampai di rumah sakit, kebetulan ibu Kowad mencari komandan rumah sakitnya untuk mencari informasi. Ternyata seluruh dokter yang ada disana adalah dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta dan mereka juga tidak banyak mengetahui apa yang terjadi dengan dokter dokter yang lain , mereka sibuk mengatasi pasien karena ini adalah satu satunya rumah sakit di Banda Aceh yang dapat beroperasi dengan baik. Dokter dokter disana juga tidak tahu keberadaan KODAM Iskandar Muda. Bingung juga ibu Kowad ini :-) ....yang terpikir olehku , kalau negara ini diserang musuh , amblas lah dalam sekejab :-)

Dalam kebingungan kita mau ketemu siapa dan dimana , akhirnya ibu Kowad ini bertanya , kita kita ini mau kemana ? mereka tahunya kita kita ini dari HMI :-) , ya memang sebagian besar anggota yang aku bawa anak anak HMI eks trainer dan helpdesk IT KPU. Dan saya sampaikan saya dari KPU , kaget juga dia , walaupun pada saat pertama kali dia melihat saya , dia mengatakan bahwa dia rasanya mengenal saya :-)). Akhirnya saya bilang saja , tujuan saya adalah ketemu pak Yani Basuki (Kolonel) karena memang mas Bob berpesan seperti itu.

Akhirnya kita bersama rombongan kembali ke bandara , dan tujuan kita adalah bandara militer tempat pesawat militer berlabuh, disanalah pak Yani Basuki bermarkas. Setelah sampai di Bandara militer , kami bertanya sana sini dimana pak Yani berada. Rupanya , saya melihat ada beberapa kawan wartawan dan mereka bertanya kami dari mana. Saya sampaikan saya dari IT KPU dan rupanya kedatangan kita sudah ditunggu oleh teman teman dari LKBN Antara (teman mas Bob) karena memang kita pinjami mereka telpon satelit untuk komunikasi.

Segera kami menuju tempat Martin yg memang sudah menunggu kami sejak pagi, mereka pikir kita menggunakan pesawat hercules yang mendarat di bandara militer. Akhirnya kami bertemua martin dan waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 02.00 tanggal 30 Desember 2004.

Dan kami semua beristirahat termasuk dua orang ibu Kowad yang ikut bersama kami....

bersambung ;;;;;;;;


   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments