Entry: Tentang Pendidikan di ITB Jan 28, 2006




Tulisan ini saya ambil dari tulisan 'budhe' Ida , AS-75 di milis itb75@itb.ac.id
menarik untuk disimak , sekaligus juga menjadi bahan pemikiran.


Date: Fri, 27 Jan 2006 12:42:26 +0700
From: Ida Sitompul <udur -1@telkom.net>
Reply-To: itb75@itb.ac.id
To: itb75@itb.ac.id
Subject: [Itb75] cuma untuk cara berpikirnya

 Suatu hari saya ngobrol dengan beberapa orang termasuk seorang lulusan itb
yang baru saja memberi presentasi tentang sesuatu yang menjadi salah satu
sumber hidupnya, bukan bidang yang dia pelajari di ITB. Waktu itu kami sedang
mengunjungi beberapa lulusan ITB yang punya hajatan dalam pekerjaannya yang
juga melenceng dari apa yang pernah mereka pelajari di ITB. Alumni itb ini
cerita tentang seorang bapak yang anaknya ngotot masuk jurusan tertentu di ITB
dan dengan nada sedikit melecehkan, dia berkomentar bahwa masuk itb sih tidak
penting jurusannya apa, masuk apa saja, masuk biologi misalnya, yang lebih
mudah, tidak usah ngotot masuk Informatika yang persaingannya ketat itu. Karena
orang masuk itb itu untuk mendapatkan jalan berpikirnya saja kok, jurusannya
apa sih tidak penting, apa sajalah. Buktinya dia dan para tuan rumah tidak
bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusannya dulu. Malah jauh melenceng.
Begitu katanya, sebelum dia pamit meninggalkan tempat. Itu diucapkan dengan nada bangga. Saya pikir bukan hanya dia satu-satunya lulusan ITB yang
pernah berkata seperti itu. Ucapan itu nyaris menjadi sesuatu yang tampaknya
dianut oleh banyak orang itb.

Seorang lulusan Unhas melirik ke saya, dia bilang itulah yang salah dengan
itb. ITB sebetulnya tidak mendidik mahasiswanya menjadi ahli di bidangnya. Saya
punya bebrapa bawahan orang itb...., katanya. Saya tidak keburu mendengar dan
memwawancara mengapa dia berpendapat begitu karena taxi saya keburu datang.
Yang jelas, orang yang pernah membawahkan dan pernah bekerja sama dengan
lulusan ITB itu tampaknya tidak punya kesan yang sangat positif terhadap
lulusan ITB. Saya kadang berpikir apakah ucapan semacam: "ah masuk itb itu kan
untuk mendapatkan pola berpikirnya saja" adalah semacam apologi? Atau itu
benar-benar adalah tujuan sebagian orang masuk ITB ?

Menarik mungkin untuk membicarakan mengapa orang masuk itb. Seperti salah
satu email disini yang cerita tentang seorang kenalan kita yang masuk itb,
tidak tahu jurusan apa, pokoknya mau masuk jurusan insinyur. Lalu, seorang
teman saya bercerita bahwa waktu masih sekolah dia rajin sekali belajar.
Cita-cita akhirnya adalah masuk itb. Dia sangat penuh motivasi karena cita-cita
itu. Setelah dia masuk itb dan selesai, dia tidak lagi menggebu-gebu atau punya
cita-cita yang ambisius lainnya, cari kerja pun tidak ambisius dsb. Seakan-akan
cita-citanya sudah terpenuhi dan tidak ada lagi yang worth it untuk jadi
cita-cita. Terus lagi, Vicky (sorri aja Vick, nama ente aku bawa-bawa he he he)
bilang bahwa dia memaksakan diri agar bisa selesai. Memaksakan diri? Memangnya
siapa dulu yang memilih Fisika?  (gak usah dijawab Vic, cuma retorik he he he,
cuma mau kasih ilustrasi, jangan marah ya). Dan waktu saya cari info tentang
berbagai bidang pekerjaan dan jurusan, tak kurang yang seakan  menganjurkan untuk tidak terlalu memikirkan jurusan yang akan dipilih, persis
seperti lulusan itb yang saya ceritakan di awal, karena .."saya juga kerjanya
gak di bidang jurusan saya dulu kok. Orang ITB itu bisa bekerja dimana saja
tidak tergantung jurusannya." Rasanya dasarnya sama dengan yang diucapkan
lulusan ITB di awal cerita saya ini: "Masuk itb itu cuma untuk mengambil pola
berpikirnya saja."

Anak-anak yang masuk itb bagaimana pun juga dapat dikatakan cream of the
crop. Malah mungkin cream of the cream of the crop dari anak-anak Indonesia.
Sebagian besar dari mereka mestinya anak-anak yang mempunyai potensi yang
sangat besar, jauh dari rata-rata. Anak-anak semacam ini umumnya mempunyai
kemampuan analitik dan logika yang sangat baik. Jadi ungkapan bahwa "yang
diambil di itb adalah pola berpikirnya"  kali ini membuat saya bertanya: apakah
itu benar? Apakah benar di itb mereka diajar pola berpikir atau sebetulnya
mereka tidak banyak diajar, sebaliknya lebih banyak mendidik dan mengajar diri
sendiri, yang menjadi ciri dari kebanyakan anak-anak sangat cerdas? Apakah jika
mereka tidak melalui ITB mereka tidak akan punya pola pikir yang dikatakan
didapat di itb itu.? Atau mereka akan tetap akan punya pola pikir yang mereka
banggakan itu karena itu sebetulnya adalah bakat inheren yang dibawa sejak
lahir? Dengan kata lain, dimana pun mereka berada, seandainya mereka ti
 dak melewati ITBpun mereka akan menjadi orang yang punya pola pikir yang sama,
analitis dan logis, dan lainnya.

 Patutkah orang khawatir bahwa tata nilai demikian itu mungkin tidak baik
untuk kita. Mungkinkah itu salah satu sebab itb bukanlah perguruan yang sangat
produktif; karya dan publikasinya kurang memadai? Yah karena yang masuk
sebenarnya bukan benar-benar berminat terhadap ilmunya, tapi untuk  berbagai
alasan lainnya yang tidak ada hubungannya dengan ilmu itu.

Saya yakin salah masuk kek, salah jurusan kek, asal masuk kek, asal kuliah
pun, bukan berarti tidak ada gunanya. Masuk perguruan tinggi, apalagi masuk itb
banyak manfaatnya. Disini berkumpul orang-orang yang suatu kali akan menduduki
jabatan-jabatan tinggi, negeri maupun swasta, banyak orang-orang hebat pernah
lewat di itb. Itu adalah potensi network yang luar biasa. Itu saja sudah
manfaat yang luar biasa. Lho saya saja paling tidak bisa bilang: Wah itu Pak
Satrio itu teman saya lho. Padahal saya cuma tahu-tahu saja dengan Satrio,
dengan interaksi yang minim. Atau saya bisa bilang, wah dulu Pak Rizal Ramli
itu teman saya ngobrol-ngobrol. Lha gaya, rek. Hmm, bisa mengatrol imej 'kali.

Apakah benar bahwa tidak penting jurusan apa yang kita ambil? Atau
sebetulnya ada nilai yang lebih baik dari itu? Apakah nilai itu sebetulnya kita
anut sebagai apologi karena kita tidak mampu tahu apa yang ingin kita lakukan
waktu kita masuk, atau apologi karena ternyata apa yang kita masuki sebetulnya
bukan yang paling cocok untuk kita?

Apa barangkali kita bisa mengatakan bahwa kebanyakan orang masuk itb tanpa
tahu sebetulnya apa yang dia ambil? Ya, ya, buntutnya baik-baik saja kok. Tapi
pertanyaannya: Can we do better?

 Kalau benar bahwa banyak orang masuk itb seperti membeli kucing dalam
karung, (mungkin juga begitu dengan banyak anak Indonesia lainnya di PT lain),
cuma ikut trend, atau opini umum tentang apa yang paling menjanjikan untuk masa
depan, atau sekedar kuliah, atau asal masuk itb, atau oh kayaknya jurusan ini
enak deh, apakah itu bagus? Mengapa itu terjadi? Apakah itu perlu diubah?
Apakah tidak lebih baik orang tahu apa yang dia pilih? Seberapa besar
persentase anak itb yang paham apa yang dia pilih? Seberapa besar kesempatan
anak-anak Indonesia mengenal berbagai pilihan itu atau berkesempatan mencoba
sesuatu? Padahal di Indonesia, sekali kita menetapkan pilihan kita waktu masuk
di PT, tidak seperti di beberapa negeri luar, sukar mengganti haluan karena
berbagai alasan.

Apakah sistem pendidikan dasar kita sampai menengah terlalu kaku sehingga
anak tidak lagi berkesempatan melakukan eksplorasi untuk mengenal dirinya dan
berbagai hal tanpa kececeran? Juniornya Akmasy beruntung bahwa dikenalkan
komputer, eh langsung gemar, merasa cocok, main-main disitu dan akhirnya
melanjutkan ke jurusan itu. Berapa banyak anak mendapat kesempatan demikian,
atau perjalanannya demikian? Seandainya, seandainya saja, junior Akmasy
diperkenalkan pada komputer, dia suka, tapi terbatas pada suka seperti sukanya
pada banyak hal lain, tanpa keistimewaan tertentu, apakah cerita akan lain?

Berapa banyak anak yang mungkin seperti Feynmann, dari kecil kerjanya sudah
main elektronik-elektronikan, merakit sistem suara di seantero rumahnya,
main-main dengan rangkaian lampu, berbuntut kegemarannya pada fisika dan
keakrabannya terhadap kegiatan utak-atik yang juga bermanfaat. Atau seperti
Andrew Wiles yang suka puzzles, suka matematika sejak kecil, begitu ketemu buku
puzzle tentang Theorema Terakhir Fermat di usianya yang 10 tahun, langsung
terobsesi untuk memecahkannya dan tiga dekade kemudian dia menemukan solusi
untuk teorema itu, menyebabkan gegap gempita dunia matematika di tahun 1993.
Pencapaian yang super luar biasa.

Kita bisa bilang bahwa mereka adalah otak-otak super, jadi kasusnya
berbeda. Tapi saya kok yakin bahwa di ITB tidak kurang orang yang punya potensi
seperti mereka. Tapi kita jarang menemukan prestasi seperti itu. Seorang teman
saya yang dulu sedang ambil PhD di Child Development menyatakan bahwa pada IQ
140an ke atas, "They are all the same, Ida." "They have the ability to
understand equally difficult things and make equal achievement. What make the
difference are other things." Sebuah penelitian tentang Grandmaster Catur dan
dan para Masternya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara IQ
para GrandMaster dan IQ para Master itu, sama saja. Tapi yang satu mencapai
gelar Grandmaster yang satu lagi Master saja. Ada hal lain.

Jadi apa hal lain itu yang membuat tidak ada orang Indonesia, atau lulusan
ITB yang menghasilkan Nobel spt Feynmann, atau membuat kehebohan besar seperti
Andrew Wiles?

 Mungkinkah tata nilai yang kita anut soal perguruan tinggi itu menjadi
sebab? Kita tidak terlalu peduli apa yang kita pelajari, itu bukan tujuan kita.
Atau kita tidak punya kesempatan mengenali apa saja yang ada di dunia sana,
entah karena sistem kita, entah karena apa, sehingga ada mismatch antara
pribadi kita dengan apa yang kita pilih sehingga hasilnya tidak maksimal?
Mungkinkah nilai yang kita anut itu bukan sepenuhnya tata nilai yang
betul-betul kita percaya, tapi sekadar apologi? Apakah ada hal-hal yang bisa
kita perbaiki, mungkin untuk generasi anak-anak kita? Atau kita merasa
nilai-nilai dan cara-cara yang kita anut selama ini sudah benar, tidak masalah,
memadai? Kita sudah puas? Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi dari jalan yang
kita pernah tempuh itu? Toh kita berhasil juga dalam hidup, begitu juga nanti
anak-anak, dengan cara dan nilai yang sama? Atau mungkin kita perlu mengaji
ulang kriteria berhasil?
    Pagi-pagi dingin begini (sudah dua hari Bandung dingin
sekali......brrrrrr), mengapa lagi aku banyak tanya-tanya....

Salam,
ida

   2 comments

sawung
July 13, 2006   09:43 AM PDT
 
Wah komennya bu ida panjang yak. Keluarga mereka keluarga yang bagus, demokratis sekali keluarganya.
Ini ad link yang bisa sedikit menjawab pertanyaan bu ida http://www.kompas.com/kompas-cetak/0607/03/opini/2776701.htm

Sayang sekali bu ida tidak menyelesaikan studinya keburu kabur ke luar dan menikah.
didin
January 30, 2006   06:26 PM PST
 
sy selalu tertarik dg fenomena ini :)
Menarik, klasik tapi aktual, tentang hal ini saya coba melihatnya dari dua segi yaitu segi orientasi pendidikan di Indonesia dan segi sosio-kultural masyarakat.

Jika dirunut dari pendidikan paling dasar, maka ada keprihatinan mendalam terkait dengan sistem pendidikan, dimana kita --atau setidaknya itulah yg saya alami dulu, dan sepertinya sekarangpun masih-- menjalani proses bertahun-tahun yang menekankan pada drilling, orientasi lulus ujian, hafalan, dengan sangat kekurangan daya nalar, analisis, dan terlebih lagi jarak yg sangat terasa dari tujuan sejati pendidikan yaitu pembentukan karakter.

Akibat penekanan aspek kognitif --saja-- dalam pendidikan jadi kemana-mana. Ini menggerus daya nalar dan analisis, dengan kejam mematikan kemampuan berpendapat, kemampuan mengambil inisiatif dan jatuhnya pada pengerdilan kemampuan penyelesaian masalah (problem solver).

Kedua, segi sosio-kulturan masyarakat. Apa itu? adalah gelombang-gelombang instantianisme dan konsumerisme yang semakin menggumpal dan jumlahnya sudah mencapai critical mass. Ketika semuanya ingin serba cepat, cepat kelihatan hasilnya, cepat mendatangkan uang, cepat mendapatkan materi. Instant...dan instant...dan instant... peduli apa dengan proses. Industri ingin cepat meraih profit, jadi buat apa mendanai riset, impor saja dari luar. Lulusan sarjana harus segera keliatan 'sukses' ahhh...harus segera punya rumah, mobil, status kantoran. Pejabat harus cepat makmur, sikat saja kiri kanan. Eksekutif muda harus cepat naik pangkat, gencet bawah, jilat atas. Demi apa? materi, status.

Fenomena ini bukan lagi dominasi kalangan 'atas', tapi sudah menggejala hampir di semua lini, jumlahnya sudah mencapai critical mass, sehingga jangan-jangan sudah ter'frame' di kepala kita masing-masing, stadar kesuksesan adalah materi dan status. Orang tua 'mengharuskan' anak-anaknya yg sudah disekolahkan tinggi agar segera bisa 'membanggakan' keluarga. Kerja dimana sekarang? mobilnya apa? di perumahan mana? kira-kira begitu bukan pertanyaan yang diajukan :)
Mau tidak mau kondisi ini akan memaksa kita segera menunjukkan standar 'kesuksesan' yg sudah dibuat tersebut. Mungkin yang dahulu semasa kuliah penuh idealisme, akan luluh juga ketika berhadapan dengan realita tuntutan 'kesuksesan' bagi siapapun sarjana ini pilihan yang tidak mudah.

Saya tidak menyalahkan siapapun mereka yang memilih bekerja jauh dari bidang keahlian sarjananya, misalnya. Itu semua pilihan hidup. Tetapi sangat berharap, apapun pilihan itu, ada tujuan di atas tujuan. Ada cita-cita luhur yang masih tersimpan dan hendak diwujudkan, yaitu keinginan besar untuk memberi sebanyak-banyak manfaat bagi pemberdayaan masyarakat. Siapapun kita, apapun profesi kita, di titik manapun kita berada.

Sedih dan prihatin, tapi tidak pernah sedikitpun menyurutkan harapan, optimisme akan sebuah gerakan perubahan perbaikan. Kita bisa berdaya, dan kita harus berdaya. Kita bisa apalagi jika kita bersama-sama.

**ngapunten nyerocos kepanjangan, soal yg satu ini selalu menjadi bahan pemikiran :) **

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments