|
Tulisan ini saya ambil dari tulisan 'budhe' Ida , AS-75 di milis itb75@itb.ac.id menarik untuk disimak , sekaligus juga menjadi bahan pemikiran. Date: Fri, 27 Jan 2006 12:42:26 +0700 From: Ida Sitompul <udur -1@telkom.net> Reply-To: itb75@itb.ac.id To: itb75@itb.ac.id Subject: [Itb75] cuma untuk cara berpikirnya Suatu hari saya ngobrol dengan beberapa orang termasuk seorang lulusan itb yang baru saja memberi presentasi tentang sesuatu yang menjadi salah satu sumber hidupnya, bukan bidang yang dia pelajari di ITB. Waktu itu kami sedang mengunjungi beberapa lulusan ITB yang punya hajatan dalam pekerjaannya yang juga melenceng dari apa yang pernah mereka pelajari di ITB. Alumni itb ini cerita tentang seorang bapak yang anaknya ngotot masuk jurusan tertentu di ITB dan dengan nada sedikit melecehkan, dia berkomentar bahwa masuk itb sih tidak penting jurusannya apa, masuk apa saja, masuk biologi misalnya, yang lebih mudah, tidak usah ngotot masuk Informatika yang persaingannya ketat itu. Karena orang masuk itb itu untuk mendapatkan jalan berpikirnya saja kok, jurusannya apa sih tidak penting, apa sajalah. Buktinya dia dan para tuan rumah tidak bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusannya dulu. Malah jauh melenceng. Begitu katanya, sebelum dia pamit meninggalkan tempat. Itu diucapkan dengan nada bangga. Saya pikir bukan hanya dia satu-satunya lulusan ITB yang pernah berkata seperti itu. Ucapan itu nyaris menjadi sesuatu yang tampaknya dianut oleh banyak orang itb. Seorang lulusan Unhas melirik ke saya, dia bilang itulah yang salah dengan itb. ITB sebetulnya tidak mendidik mahasiswanya menjadi ahli di bidangnya. Saya punya bebrapa bawahan orang itb...., katanya. Saya tidak keburu mendengar dan memwawancara mengapa dia berpendapat begitu karena taxi saya keburu datang. Yang jelas, orang yang pernah membawahkan dan pernah bekerja sama dengan lulusan ITB itu tampaknya tidak punya kesan yang sangat positif terhadap lulusan ITB. Saya kadang berpikir apakah ucapan semacam: "ah masuk itb itu kan untuk mendapatkan pola berpikirnya saja" adalah semacam apologi? Atau itu benar-benar adalah tujuan sebagian orang masuk ITB ? Menarik mungkin untuk membicarakan mengapa orang masuk itb. Seperti salah satu email disini yang cerita tentang seorang kenalan kita yang masuk itb, tidak tahu jurusan apa, pokoknya mau masuk jurusan insinyur. Lalu, seorang teman saya bercerita bahwa waktu masih sekolah dia rajin sekali belajar. Cita-cita akhirnya adalah masuk itb. Dia sangat penuh motivasi karena cita-cita itu. Setelah dia masuk itb dan selesai, dia tidak lagi menggebu-gebu atau punya cita-cita yang ambisius lainnya, cari kerja pun tidak ambisius dsb. Seakan-akan cita-citanya sudah terpenuhi dan tidak ada lagi yang worth it untuk jadi cita-cita. Terus lagi, Vicky (sorri aja Vick, nama ente aku bawa-bawa he he he) bilang bahwa dia memaksakan diri agar bisa selesai. Memaksakan diri? Memangnya siapa dulu yang memilih Fisika? (gak usah dijawab Vic, cuma retorik he he he, cuma mau kasih ilustrasi, jangan marah ya). Dan waktu saya cari info tentang berbagai bidang pekerjaan dan jurusan, tak kurang yang seakan menganjurkan untuk tidak terlalu memikirkan jurusan yang akan dipilih, persis seperti lulusan itb yang saya ceritakan di awal, karena .."saya juga kerjanya gak di bidang jurusan saya dulu kok. Orang ITB itu bisa bekerja dimana saja tidak tergantung jurusannya." Rasanya dasarnya sama dengan yang diucapkan lulusan ITB di awal cerita saya ini: "Masuk itb itu cuma untuk mengambil pola berpikirnya saja." Anak-anak yang masuk itb bagaimana pun juga dapat dikatakan cream of the crop. Malah mungkin cream of the cream of the crop dari anak-anak Indonesia. Sebagian besar dari mereka mestinya anak-anak yang mempunyai potensi yang sangat besar, jauh dari rata-rata. Anak-anak semacam ini umumnya mempunyai kemampuan analitik dan logika yang sangat baik. Jadi ungkapan bahwa "yang diambil di itb adalah pola berpikirnya" kali ini membuat saya bertanya: apakah itu benar? Apakah benar di itb mereka diajar pola berpikir atau sebetulnya mereka tidak banyak diajar, sebaliknya lebih banyak mendidik dan mengajar diri sendiri, yang menjadi ciri dari kebanyakan anak-anak sangat cerdas? Apakah jika mereka tidak melalui ITB mereka tidak akan punya pola pikir yang dikatakan didapat di itb itu.? Atau mereka akan tetap akan punya pola pikir yang mereka banggakan itu karena itu sebetulnya adalah bakat inheren yang dibawa sejak lahir? Dengan kata lain, dimana pun mereka berada, seandainya mereka ti dak melewati ITBpun mereka akan menjadi orang yang punya pola pikir yang sama, analitis dan logis, dan lainnya. Patutkah orang khawatir bahwa tata nilai demikian itu mungkin tidak baik untuk kita. Mungkinkah itu salah satu sebab itb bukanlah perguruan yang sangat produktif; karya dan publikasinya kurang memadai? Yah karena yang masuk sebenarnya bukan benar-benar berminat terhadap ilmunya, tapi untuk berbagai alasan lainnya yang tidak ada hubungannya dengan ilmu itu. Saya yakin salah masuk kek, salah jurusan kek, asal masuk kek, asal kuliah pun, bukan berarti tidak ada gunanya. Masuk perguruan tinggi, apalagi masuk itb banyak manfaatnya. Disini berkumpul orang-orang yang suatu kali akan menduduki jabatan-jabatan tinggi, negeri maupun swasta, banyak orang-orang hebat pernah lewat di itb. Itu adalah potensi network yang luar biasa. Itu saja sudah manfaat yang luar biasa. Lho saya saja paling tidak bisa bilang: Wah itu Pak Satrio itu teman saya lho. Padahal saya cuma tahu-tahu saja dengan Satrio, dengan interaksi yang minim. Atau saya bisa bilang, wah dulu Pak Rizal Ramli itu teman saya ngobrol-ngobrol. Lha gaya, rek. Hmm, bisa mengatrol imej 'kali. Apakah benar bahwa tidak penting jurusan apa yang kita ambil? Atau sebetulnya ada nilai yang lebih baik dari itu? Apakah nilai itu sebetulnya kita anut sebagai apologi karena kita tidak mampu tahu apa yang ingin kita lakukan waktu kita masuk, atau apologi karena ternyata apa yang kita masuki sebetulnya bukan yang paling cocok untuk kita? Apa barangkali kita bisa mengatakan bahwa kebanyakan orang masuk itb tanpa tahu sebetulnya apa yang dia ambil? Ya, ya, buntutnya baik-baik saja kok. Tapi pertanyaannya: Can we do better? Kalau benar bahwa banyak orang masuk itb seperti membeli kucing dalam karung, (mungkin juga begitu dengan banyak anak Indonesia lainnya di PT lain), cuma ikut trend, atau opini umum tentang apa yang paling menjanjikan untuk masa depan, atau sekedar kuliah, atau asal masuk itb, atau oh kayaknya jurusan ini enak deh, apakah itu bagus? Mengapa itu terjadi? Apakah itu perlu diubah? Apakah tidak lebih baik orang tahu apa yang dia pilih? Seberapa besar persentase anak itb yang paham apa yang dia pilih? Seberapa besar kesempatan anak-anak Indonesia mengenal berbagai pilihan itu atau berkesempatan mencoba sesuatu? Padahal di Indonesia, sekali kita menetapkan pilihan kita waktu masuk di PT, tidak seperti di beberapa negeri luar, sukar mengganti haluan karena berbagai alasan. Apakah sistem pendidikan dasar kita sampai menengah terlalu kaku sehingga anak tidak lagi berkesempatan melakukan eksplorasi untuk mengenal dirinya dan berbagai hal tanpa kececeran? Juniornya Akmasy beruntung bahwa dikenalkan komputer, eh langsung gemar, merasa cocok, main-main disitu dan akhirnya melanjutkan ke jurusan itu. Berapa banyak anak mendapat kesempatan demikian, atau perjalanannya demikian? Seandainya, seandainya saja, junior Akmasy diperkenalkan pada komputer, dia suka, tapi terbatas pada suka seperti sukanya pada banyak hal lain, tanpa keistimewaan tertentu, apakah cerita akan lain? Berapa banyak anak yang mungkin seperti Feynmann, dari kecil kerjanya sudah main elektronik-elektronikan, merakit sistem suara di seantero rumahnya, main-main dengan rangkaian lampu, berbuntut kegemarannya pada fisika dan keakrabannya terhadap kegiatan utak-atik yang juga bermanfaat. Atau seperti Andrew Wiles yang suka puzzles, suka matematika sejak kecil, begitu ketemu buku puzzle tentang Theorema Terakhir Fermat di usianya yang 10 tahun, langsung terobsesi untuk memecahkannya dan tiga dekade kemudian dia menemukan solusi untuk teorema itu, menyebabkan gegap gempita dunia matematika di tahun 1993. Pencapaian yang super luar biasa. Kita bisa bilang bahwa mereka adalah otak-otak super, jadi kasusnya berbeda. Tapi saya kok yakin bahwa di ITB tidak kurang orang yang punya potensi seperti mereka. Tapi kita jarang menemukan prestasi seperti itu. Seorang teman saya yang dulu sedang ambil PhD di Child Development menyatakan bahwa pada IQ 140an ke atas, "They are all the same, Ida." "They have the ability to understand equally difficult things and make equal achievement. What make the difference are other things." Sebuah penelitian tentang Grandmaster Catur dan dan para Masternya menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara IQ para GrandMaster dan IQ para Master itu, sama saja. Tapi yang satu mencapai gelar Grandmaster yang satu lagi Master saja. Ada hal lain. Jadi apa hal lain itu yang membuat tidak ada orang Indonesia, atau lulusan ITB yang menghasilkan Nobel spt Feynmann, atau membuat kehebohan besar seperti Andrew Wiles? Mungkinkah tata nilai yang kita anut soal perguruan tinggi itu menjadi sebab? Kita tidak terlalu peduli apa yang kita pelajari, itu bukan tujuan kita. Atau kita tidak punya kesempatan mengenali apa saja yang ada di dunia sana, entah karena sistem kita, entah karena apa, sehingga ada mismatch antara pribadi kita dengan apa yang kita pilih sehingga hasilnya tidak maksimal? Mungkinkah nilai yang kita anut itu bukan sepenuhnya tata nilai yang betul-betul kita percaya, tapi sekadar apologi? Apakah ada hal-hal yang bisa kita perbaiki, mungkin untuk generasi anak-anak kita? Atau kita merasa nilai-nilai dan cara-cara yang kita anut selama ini sudah benar, tidak masalah, memadai? Kita sudah puas? Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi dari jalan yang kita pernah tempuh itu? Toh kita berhasil juga dalam hidup, begitu juga nanti anak-anak, dengan cara dan nilai yang sama? Atau mungkin kita perlu mengaji ulang kriteria berhasil? Pagi-pagi dingin begini (sudah dua hari Bandung dingin sekali......brrrrrr), mengapa lagi aku banyak tanya-tanya.... Salam, ida |
| sawung July 13, 2006 09:43 AM PDT Wah komennya bu ida panjang yak. Keluarga mereka keluarga yang bagus, demokratis sekali keluarganya. Ini ad link yang bisa sedikit menjawab pertanyaan bu ida http://www.kompas.com/kompas-cetak/0607/03/opini/2776701.htm Sayang sekali bu ida tidak menyelesaikan studinya keburu kabur ke luar dan menikah. | ||
| didin January 30, 2006 06:26 PM PST sy selalu tertarik dg fenomena ini :) Menarik, klasik tapi aktual, tentang hal ini saya coba melihatnya dari dua segi yaitu segi orientasi pendidikan di Indonesia dan segi sosio-kultural masyarakat. Jika dirunut dari pendidikan paling dasar, maka ada keprihatinan mendalam terkait dengan sistem pendidikan, dimana kita --atau setidaknya itulah yg saya alami dulu, dan sepertinya sekarangpun masih-- menjalani proses bertahun-tahun yang menekankan pada drilling, orientasi lulus ujian, hafalan, dengan sangat kekurangan daya nalar, analisis, dan terlebih lagi jarak yg sangat terasa dari tujuan sejati pendidikan yaitu pembentukan karakter. Akibat penekanan aspek kognitif --saja-- dalam pendidikan jadi kemana-mana. Ini menggerus daya nalar dan analisis, dengan kejam mematikan kemampuan berpendapat, kemampuan mengambil inisiatif dan jatuhnya pada pengerdilan kemampuan penyelesaian masalah (problem solver). Kedua, segi sosio-kulturan masyarakat. Apa itu? adalah gelombang-gelombang instantianisme dan konsumerisme yang semakin menggumpal dan jumlahnya sudah mencapai critical mass. Ketika semuanya ingin serba cepat, cepat kelihatan hasilnya, cepat mendatangkan uang, cepat mendapatkan materi. Instant...dan instant...dan instant... peduli apa dengan proses. Industri ingin cepat meraih profit, jadi buat apa mendanai riset, impor saja dari luar. Lulusan sarjana harus segera keliatan 'sukses' ahhh...harus segera punya rumah, mobil, status kantoran. Pejabat harus cepat makmur, sikat saja kiri kanan. Eksekutif muda harus cepat naik pangkat, gencet bawah, jilat atas. Demi apa? materi, status. Fenomena ini bukan lagi dominasi kalangan 'atas', tapi sudah menggejala hampir di semua lini, jumlahnya sudah mencapai critical mass, sehingga jangan-jangan sudah ter'frame' di kepala kita masing-masing, stadar kesuksesan adalah materi dan status. Orang tua 'mengharuskan' anak-anaknya yg sudah disekolahkan tinggi agar segera bisa 'membanggakan' keluarga. Kerja dimana sekarang? mobilnya apa? di perumahan mana? kira-kira begitu bukan pertanyaan yang diajukan :) Mau tidak mau kondisi ini akan memaksa kita segera menunjukkan standar 'kesuksesan' yg sudah dibuat tersebut. Mungkin yang dahulu semasa kuliah penuh idealisme, akan luluh juga ketika berhadapan dengan realita tuntutan 'kesuksesan' bagi siapapun sarjana ini pilihan yang tidak mudah. Saya tidak menyalahkan siapapun mereka yang memilih bekerja jauh dari bidang keahlian sarjananya, misalnya. Itu semua pilihan hidup. Tetapi sangat berharap, apapun pilihan itu, ada tujuan di atas tujuan. Ada cita-cita luhur yang masih tersimpan dan hendak diwujudkan, yaitu keinginan besar untuk memberi sebanyak-banyak manfaat bagi pemberdayaan masyarakat. Siapapun kita, apapun profesi kita, di titik manapun kita berada. Sedih dan prihatin, tapi tidak pernah sedikitpun menyurutkan harapan, optimisme akan sebuah gerakan perubahan perbaikan. Kita bisa berdaya, dan kita harus berdaya. Kita bisa apalagi jika kita bersama-sama. **ngapunten nyerocos kepanjangan, soal yg satu ini selalu menjadi bahan pemikiran :) ** | ||
| Leave a Comment: |